Bila Tukang Cukur Berobsesi Jadi Wakil Rakyat

Lindungi Profesi, Ingin Buat Perda Cukur Rambut
Banyak caleg yang bercita-cita ingin memajukan dunia pekerjaannya ketika ia berhasil menapaki kaki sebagai anggota legislatif. Seperti yang dilakukan caleg Partai Kedaulatan Kota Malang, Husaini ketika bertarung dalam Pemilu Legislatif 2009.

Saat ini pria kelahiran Madura, 5 Juni 1972 ini sedang menekuni dua pekerjaan sekaligus. Pekerjaan pertama sekaligus pekerjaan utamanya adalah sebagai tukang cukur. Sedangkan pekerjaan kedua, adalah sebagai pendidik di madrasah ibtidaiyah swasta yang berada di daerah Muharto.

Sebagai tukang cukur, sehari-harinya Husaini berada di kiosnya yang berada di Jalan Mayjen Sungkono Kedungkandang. Kios yang didirikannya sejak 1998 itu buka mulai pukul 8 pagi hingga 9 malam. Di kios potong rambut yang diberi nama ‘Mawaddah’ tersebut, ia juga dibantu seorang pegawai. Rata-rata dalam satu hari ada 10 orang yang mencukur rambut di tempatnya.

“Pekerjaan sebagai tukang cukur ini lumayan bisa menghidupi keluarga saya. Sayangnya, saat ini banyak orang yang beralih ke salon, karena peralatannya lebih modern dan tempatnya lebih terurus dibanding kios potong rambut di pinggir jalan seperti punya saya ini,” tutur Husaini, yang menjadi Caleg Partai Kedaulatan dari Dapil Kedungkandang nomor 2.

Berdasarkan apa yang dirasakannya inilah, Husaini memiliki angan-angan jika ia terpilih menjadi anggota dewan pada Pemilu tahun depan. Ia ingin menciptakan Perda yang mengatur tentang keberadaan tukang cukur seperti dirinya. Paling tidak dari Perda yang ada bisa membuat hidup para tukang cukur lebih terangkat. “Misalnya, dengan pengadaan alat-alat yang lebih modern dan penataan lokasi kios yang lebih baik dari saat ini. Sehingga para pelanggan bisa kembali ke kios cukur rambut yang berada di pinggir jalan seperti milik saya,” lanjutnya.

Selain ingin memajukan taraf hidup tukang cukur, motivasi lain Husaini mengikuti pencalegan adalah untuk mensejahterahkan kehidupan guru madrasah swasta yang saat ini masih berada di bawah rata-rata. Ia tahu persis berapa gaji yang diterima guru madrasah swasta, karena ia sendiri juga menjadi guru madrasah ibtidaiyah swasta. Bahkan jika dihitung-hitung selama satu bulan, penghasilannya sebagai tukang cukur lebih banyak dibandingkan sebagai guru madrasah.

“Sama seperti angan-angan saya membuat Perda tentang cukur rambut, saya juga memiliki ambisi besar jika menjadi anggota dewan, saya akan membuat satu produk hukum tentang madrasah swasta. Baik itu pembangunan fisik madrasah swasta yang kebanyakan kondisinya sudah tidak layak guna hingga perbaikan gaji guru masdrasah. Tanpa bermaksud mendramatisir, hingga saat ini masih banyak guru madrasah swasta yang gaji perbulannya sebesar Rp 100 ribu,” tuturnya. (noer adinda zaeni)
(Adinda Zaeni/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s