Hujan Pertama, Depan UMM Longsor

(muflikh farid / malang post)

(muflikh farid / malang post)

Hujan datang, bencana datang. Itulah yang terjadi sore kemarin ketika hujan lebat pertama yang mengguyur kota Malang. Dua kios yang berada di bibir sungai Brantas di depan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tlogomas Malang, longsor dan masuk ke dasar sungai sekitar pukul 14.10 WIB.

Akibat kejadian itu, dua kios yang dibangun di bibir sungai itu hancur tak tersisa. Dua kios itu dipakai menjual nasi goreng milik Supriadi warga Supiturang Sukun Kota Malang dan jualan aksesori milik Fauzan, warga Singosari. Dua bangunan itu berantakan ke dasar sungai dan sebagian barangnya ikut hanyut terbawa arus sungai yang deras. Sepeda motor Yamaha Vega N 2417 CS, milik Supriadi “Gombloh” pemilik kios nasi goreng yang baru dibeli dua bulan lalu, ikut terbawa bangunan kios yang longsor ke Sungai Brantas.

“Kejadiannya sangat cepat mas. Hanya dalam hitungan detik dua kios yang berdempetan itu jatuh ke dasar Sungai Brantas. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu,” kata Sutrisno, saksi mata yang saat itu hanya berada beberapa meter dari lokasi kejadian.

Diceritakan, saat kejadian itu terjadi kios aksesori dalam keadaan tutup. Hanya kios nasi goreng Solo yang berjualan. Saat longsor, Supriadi berada di depan kiosnya setelah melayani pembeli, karena sebelumnya sudah terdengar bunyi dari bawah bangunan.

Hanya berselang beberapa menit, tiba-tiba kios semi permanen itu jatuh ke dasar sungai yang dalamnya hingga 30 meter lebih sambil menimbulkan bunyi yang keras. Mengetahui kiosnya ambrol, Supriadi langsung loncat ke luar sambil menggenggam uang yang terlihat basah. Sepeda motornya yang diparkir di depan kios aksesori tak bisa diselamatkan ikut terjun ke dasar sungai.

“Semua isi dalam kios habis. Kios aksesori memang sudah tutup sejak lama, tapi barang-barangnya masih utuh. Sedangkan nasi goreng hanya tersisa rombongnya saja,” terangnya.

Sebelum kejadian itu, satu pekan lalu sudah ada tanda-tanda ketidakbersan pada pondasi dua kios semi permanen itu. Bagian pondasinya tergerus air sungai yang menyebabkan posisinya menurun. Pondasi bangunan itu hanya ditopang batang bambu yang masih muda. Saat ada air menggerus tanah bambu itu tidak mampu menahan arus sungai yang deras akibat hujan lebat. Dua kios itu dibangun di atas bantaran sungai yang curam dengan kemiringan yang terjal. Tiang penyangganya berada di pinggir sungai. Selain posisinya yang berbahaya, bangunan itu juga dibuat dengan bahan yang tidak kuat sehingga mudah ambruk.

Dari pantauan Malang Post, dari bawah kios ada aliran air yang deras mengalir langsung ke Sungai Brantas. Aliran itu berasal dari saluran air yang jebol di depan kios itu, karena ada penyumbatan. Karena aliran air cukup deras, akhirnya menggerus tanah yang menjadi pijakan pondasi dua kios nahas itu hingga ambrol terjun bebas ke dasar sungai.

“Pak Supriadi langsung turun ke dasar sungai untuk mencoba menyelamatkan barang-barang miliknya termasuk sepeda motor. Beberapa kerabatnya yang mengetahui kejadian itu, juga ikut terjun ke sungai untuk membantunya,” terangnya.

Supriadi baru satu pekan membuka usahanya kembali, setelah liburan panjang Idul Fitri lalu. Semua barang miliknya hancur terbawa arus sungai Brantas, hanya tersisa rombong yang tidak ikut terseret arus sungai. (aim) (Muhaimin/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Kabupaten Malang, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s