Jaga jangan Infeksi agar Penderita Diabetes Tidak Amputasi

Dr dr Putu Moda Arsana, memberi contoh terapi kaki penderita diabetes

Dr dr Putu Moda Arsana, memberi contoh terapi kaki penderita diabetes

Persatuan Dokter Alhi Diabetes Indonesia, 22-26 Oktober mendatang menggelar Kongres Nasional VII di Batu. Salah satu agenda Kongres ini adalah kecenderungan meningkatnya jumlah penderita Diabetes Melitus (DM). Malang ditunjuk sebagai tuan rumah karena memiliki rumah sakit dan tenaga ahli yang mumpuni soal DM.

RSSA Malang yang merupakan rumah sakit pemerintah kerap menjadi jujukan pasien untuk menjalani perawatan DM. Layanan yang diberikan bisa rawat jalan atau rawat inap. Fasilitas yang dimiliki rumah sakit tipe B pendidikan ini sangat lengkap untuk menangani penyakit tersebut.

Paramedis di RSSA sudah memiliki pengalaman menangani pasien penyakit tersebut. Dan yang paling penting, di rumah sakit ini memiliki tiga tenaga ahli yaitu Prof Dr Djoko Wahono Soeatmadji Sp PD , Prof Dr dr Achmad Rudijanto Sp PD, dan Dr dr Putu Moda Arsana.

Tiga dokter spesialis ini menjadi andalan rumah sakit tersebut untuk menangani pasien DM. Dengan segala kemampuannya, mereka memberikan terapi klinik, terhadap pasien. Tujuan awal jika terjadi tidak terkendali pada pasien, yaitu kembali mengendalikan glukosa. Sehingga jika pasien datang dalam kondisi koma, akan cepat sadar.

“Pasien yang datang kita uji klinis lebih dulu. Jika pasiennya sadar, kami meminta riwayat penyakit yang diderita pasien. Tapi saat pasien koma, maka kami harus melakukan uji lab. Setelah hasilnya keluar, barulah kami melakukan proses klinik selanjutnya,’’ terang Prof Dr dr Djoko.

Setelah mengetahui jika pasien koma akibat tingginya glukosa, upaya yang dilakukan tim medis berupaya menurunkannya. Meskipun demikian tidak bisa sembarangan, terutama pada pasien DM berusia lanjut. Karena ada beberapa kasus saat menurunkan glukosa, justru kondisi pasien semakin drop, dan meninggal dunia. “Memang pernah terjadi, terutama pada pasien usia tua. Itu sebabnya, kami selaku tim medis harus berhati-hati, karena pengobatan pasien DM ini berbeda dengan pasien lainnya. Pengobatan pasien DM harus berkesinambungan dan teratur, terapi obat tidak boleh lepas, baik obat yang sifatnya oral atau suntik,’’ kata Djoko.

Terkait peralatan, dikatakan oleh Djoko tidak ada alat yang spsesifik untuk perawatan pasien DM. Hanya saja jika pasien sudah mengalami komplikasi gagal ginjal, ada peralatan medis khusus untuk perawatan pasien. Karena setelah ginjal terserang, cenderung pasien harus melakukan terapi cuci darah.

“Jika komplikasinya hanya pada kaki yang mengalami luka, maka kita akan mengupayakan tidak terjadi amputasi. Kebersihan harus dijaga agar pasien tidak mengalami infeksi, dan lukanya cepat disembuhkan,’’ tambah Djoko.

Ruang untuk perawatan tidak berbeda dengan ruangan pasien penyakit lainnya. Tapi jika pasien yang dirawat sudah mengalami komplokasi kaki luka, biasanya ditempatkan di ruang 14. “Biasanya tipikal penyakitnya yang membedakan pasien ini dirawat di ruang mana. Tapi kebanyakan, pasien DM melakukan perawatan jalan, hanya sedikit yang menjalani rawat inap. Jika tidak mengalami komplikasi ditempatkan di areal Instalasi Rawat Inap I, bagiab penyakit dalam,’’ tandas pria yang berpraktek di Klinik Bromo tersebut.(ira ravika/bersambung) (Ira Ravika/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s