Penghuni di Bibir Brantas di Musim Hujan

Banjir dan tanah longsor, ternyata masih menjadi agenda bencana tahunan Kota Malang, saat musim hujan tiba. Seperti Rabu lalu saat dua kios yang di bibir sungai Brantas di depan kampus UMM longsor dan masuk ke dasar sungai. Gara-garanya, pondasi pada kios yang berada di tempat terlarang itu kurang kuat. Lalu bagaimana pemilik kios di sekitar lokasi menanggapi kejadian itu ?

TANAH longsor yang mengakibatkan dua kios rusak tak tersisa itu, ternyata belum menyadarkan dan membuat pelajaran bagi pemilik kios yang berada di sekitar bibir sungai Brantas. Mereka seakan tak menghiraukan kejadian alam itu. Anggapannya itu hanya musibah yang bisa datang sewaktu-waktu.

Padahal sesuai peraturan, jarak sekitar 25 dari bibir sungai tidak boleh ada bangunan. Namun, apa yang terlihat di sekitar Jalan Raya Tlogomas, depan kampus UMM justru lain. Banyak kios yang nekat mendirikan bangunan di atas bibir sungai brantas.

Bahkan, kepada Malang Post, saat ditanya pasca kejadian longsor, mereka mengaku tidak trauma. Para pemilik kios tetap akan membuka usahanya, dengan alasan yang bermacam-macam. Ada yang karena sudah lama menempati dan punya langganan banyak. Dan karena kios itu sudah dibelinya beberapa tahun.

Seperti kios perpustakaan Aren, yang berdampingan dengan dua kios yang longsor itu. Kemarin masih terlihat buka dan melayani beberapa mahasiswi yang menyewa buku. “Ya, kalau trauma memang ada mas. Namun, bagaimana lagi karena oleh bos disuruh buka, ya terpaksa tetap buka. Tetapi nanti kalau hujan deras, ya tutup saja dari pada nanti terkena longsor lagi dan saya jadi korban,” ujar Winda, penjaga perpustakaan itu pada Malang Post.

Lain halnya dengan pemilik warung sederhana yang ada di sebelah Timur perpustakaan. Yanti, pemilik warung nasi ini mengaku tak gentar dengan kejadian tanah longsor itu.

“Ya itu kan namanya musibah, jadi jelas tidak bisa ditebak. Namun, meski begitu saya tetap akan membuka warung. Sebab, ini adalah sumber penghasilan keluarga. Terlebih saya menetap dan berjualan nasi ini sudah sekitar 12 tahun lalu,” tutur Yanti.

Alasan Yanti, tidak mau menutup warungnya itu karena menganggap bahwa pasok bumi (pondasi) warungnya sudah cukup kuat. Terlebih, tanah di bawah kios warung miliknya tidak dilewati air, meski hujan turun. Hal itu lain dengan tanah milik Supriyadi dan Fauzan, yang longsor karena tanahnya tergerus air.

“Alhamdulillah mas, pondasi kios ini sudah kuat. Jadi meski hujan turun lebat tidak khawatir terjadi tanah longsor seperti dua kios yang longsor itu. Tapi ya, doakan juga agar warung saya ini tidak terkena longsor,” lanjut Yanti, sembari memberikan segelar es teh pada Malang Post.

Defi yang baru menyewa kios di sebelah warung sederhana untuk jualan STMJ juga mengaku tidak takut dengan kejadian longsor di sebelah Barat kiosnya.

Alasannya pun simpel. Pondasi beton yang kuat dengan kedalaman sekitar 2 meter, cukup untuk menahan beban tanah agar tidak longsor. Ini bedan dengan kios nasi goreng yang longsor yang penyangganya hanya dari bamboo. “Tidak takut mas, itu kan musibah. Tetapi meski saya menyewa kios ini untuk buka warung STMJ, tetapi pondasinya sudah saya benahi dengan kuat. Jadi bisa untuk menahan tanah agar tidak longsor,” katanya.(agung priyo) (Agung Priyo/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s