Berjuang Lawan Diabetes

Pagi itu, Jumat (24/10) pukul 08.00, Djony Soerjanto, keluar dari mobil sedan Timor warna biru metaliknya dari pelataran parkir Lapangan Rampal Malang. Mengenakan T-shirt warna putih dipadu dengan celana ukuran warna krem, Djony -demikian dia akrab disapa- rampak tidak memakai alas kaki.

Mengambil posisi berdiri tegak di balik pintu mobil yang belum ditutup, Djony mengepalkan kedua tangannya sambil diangkat ke atas lalu menghirup udara pagi yang sejuk. “Semangat!…” teriaknya lepas sambil melepas nafas. Mendengar teriakan Djony, juru parkir, Agus Andi Marjito, yang berdiri tak jauh darinya hanya mesam-mesem.

Sejurus kemudian dari dalam ruang kemudi itu, dia mengambil alat pengukur tekanan darah yang dibawa dari rumah lalu diletakkan di atas kap mesin mobil. Dengan alat itu, pria yang rambutnya mulai memutih ini mengukur tensi darahnya. Semenit kemudian, pria ini melangkahkan kakinya ke lintasan lapangan untuk bergabung dengan teman-temannya sesame penderita diabetes.

Djony adalah salah satu dari ribuan penderita diabetes mellitus yang kesehariannya berjuang menurunkan kadar gula dalam darah. Di kalangan komunitas jalan pagi di Lapangan Rampal, dia termasuk yang paling menonjol. Setelah 1 Agustus 2008 lalu pensiun dari sebuah perusahaan BUMN, tidak sehari pun dilewatkan tanpa berolahraga. Mulai dari petugas keamanan serta juru parkir, semuanya mengenalnya.

Radar yang mengamatinya dari seberang lintasan segera gabung ikut menemani Djony jogging. “Jika tidak berolahraga, kepala pusing dan badan rasanya capek. Wes, pokoknya gak enak pol,” katanya.

Dia mengakui, meski sudah mati-matian mengeluarkan keringat dengan cara berolahraga, namun kadar gula darahnya belum bisa normal dan rata-rata pada angka 150 hingga 170 mg %. Padahal normalnya adalah 120 mg %.

Kesehariannya, warga Jl Tawangmangu, Samaan, Klojen ini, meluangkan waktunya selama dua jam mulai pukul 08.00-10.00 untuk berolahraga ringan di Lapangan Rampal. “Untuk waktu selama itu, saya bisa putar lapangan antara 4 sampai 5 kali. Lumayan bisa mengeluarkan keringat,” ujarnya.

Setelah keringat keluar, dia merasakan tubuhnya enteng. Untuk sekadar berbagai perkembangan kondisi kesehatan, dia dan sejumlah rekannya penderita diabetes saling curhat saat usai olahraga.

Djony mengatakan, untuk mempertahankan kesimbangan gula darahnya, dia tak boleh lepas dari olahraga. Jika pagi diluangkan waktu di Lapangan Rampal, namun jika sore berolahraga bersepeda onthel keliling komplek perumahan dan jika malam selama 30 menit bersepada statis di dalam rumah.

Selain berolahraga dan minum obat penurun gula darah, pria penghobi wisata kuliner ini telah komitmen untuk mengendalikan diri dengan cara mengurangi porsi makanan. “Tidak menghilangkan, namun hanya mengurangi,” katanya. Misalnya, sekali makan cukup setengah piring.

Demikian juga untuk makanan kegemarannya, misalkan seafood dan buah durian, tidak pernah dihilangkan. “Jika ingin makan, ya makan. Tapi prosinya tidak berlebihan,” imbuhnya.

Langkah ini diaambil untuk menghilangkan stres akibat menahan nafsu makannya. Jika stres, dikhawatirkan diabetes bakal kembali menyerang. Dengan rutin berolahraga, dia yakin makanan yang mengandung kolesterol bakal hilang berubah menjadi keringat.

Pria yang mengaku sudah tidak memiliki empedu ini divonis dokter menderita diabetes mellitus sekitar 2006. Saat itu, kondisi kesehatannya memburuk dengan tingkat gula darah mencapai 315 mg %. “Saya tidak tahu, kenapa tiba-tiba naik. Padahal sebelumnya aman-aman saja dan tubuh juga sehat,” terangnya.

Vonis itu menjawab riwayat medis dirinya yang kurang bagus. Hingga 2008, dia sudah menjalani operasi sebanyak tujuh kali. Kali pertama pada 1983 dia operasi sinusitis, lalu pada 1991 dia operasi gondok, kemudian 1992 dia operasi ginjal, dan pada 1996 dia operasi tumor di rongga dada, dan terakhir 2005 dia menjalani opearsi empedu.

Dia mengaku buruknya kondisi kesehatan karena pola hidup saat muda hingga dewasa kurang bagus. “Sejak muda hingga tua, saya tidak pernah berolahraga. Makan tidak terkontrol dan pekerjannya hanya duduk di belakang meja,” katanya. Untuk itu, sekarang ketika tua dia harus menbayar mahal, dia harus berjuang melawan semuanya ini.

Beraktivitas di Lapangan Rampal, bukan hanya Djony, namun ada banyak pasien lain. Juru parkir Agus mengatakan, jumlah penderita diabetes yang kesehariannya nyambangi Rampal untuk berolahraga mencapai kurang lebih 50 orang. Meski tidak ada komunitas yang mereka bentuk sebagai wadah penderita diabetes, namun soliditas mereka bisa diacungi jempol. “Mereka kerap curhat satu dengan lainnya. Entah tentang penyakit yang diderita atau kondisi keluarga ketika penyakit ini mereka derita,” kata Agus.

Sebagai juru parkir, Agus tidak hanya bertugas menjaga kendaraan para penderita yang sedang berolahraga. Namun, juga membantu beberapa penderita yang sudah menderita diabetes stadium berat. “Kadang membantu berjalan dari area parkir menuju lintasan lapangan,” imbuh Agus. Selain membantu, Agus juga pernah menjadi teman curhat para penderita. Baik bagaimana cara memelihara kesehatan saat usia sudah mendekati manula seperti Agus. (mas/ziz/radarmalang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s