Aspek Psikologis dari Permainan Anak Tradisional: Engklek Kendalikan Diri, Betengan Asah Kerja Sama

Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) menggusur permainan tradisional. Anak-anak sekarang lebih banyak permainan berbasis TI. Permainan tradisional pun kini sudah ditinggalkan. Bahkan, anak-anak banyak yang tidak tahu beragam permainan tradisional yang dulu diwariskan turun temurun.

Cuaca di sekitar gedung Dome UMM kemarin sore terlihat cerah. Sekitar dua belas anak dari Panti Asuhan TPQ Al Hilal Malang terlihat duduk-duduk santai. Sambil menikmati suasana sore, mereka menunggu tiga dosen UMM, Iswinarti, Siti Suminarti F -keduanya dosen fakultas psikologi- dan Sulismadi, dosen Fisip. Sengaja anak-anak itu diundang untuk memeragakan salah satu permainan tradisional. Namanya krupukan.

Setelah lengkap, permainan pun dimulai. Seperti sudah hafal di luar kepala, anak-anak tersebut begitu cekatan memeragakannya. Pertama, mereka menetapkan dua rekannya yang bertugas sebagai penjaga. Yang ditunjuk adalah Dea dan Rara. Mereka lantas berembuk menentukan nama kelompok. Dea memilih Leci dan Rara menggunakan nama Manggis. Selanjutnya keduanya merentangkan kedua tangannya ke atas dengan posisi kedua tangan saling menyatu.

Rekan-rekannya yang lain mendendangkan lagu krupukan sambil berjalan memegangi bahu teman di depannya. Barisan mengular ini melewati di bawah rentangan kedua pemain yang bertugas sebagai induk. Lagu berhenti, kedua tangan si induk diturunkan untuk menangkap temannya. Anggota yang tertanggap disodori untuk memilih masuk Leci atau Manggis. Begitu seterusnya sampai para pemain habis.

Kedua kelompok terbentuk meski dalam jumlah tidak seimbang dan akhirnya memasuki permainan puncak. Kedua kelompok tersebut saling menarik dengan cara saling berpegangan tangan. Sedangkan teman-temannya berbaris memeluk perut teman yang berada di depannya. Suara canda tawa mewarnai permainan ini untuk mempertahankan agar tidak ada pemain yang lepas. Dan, pemenangnya adalah kelompok yang bisa melepaskan pemain dari kelompok lawan.

Ya, permainan yang diperagakan sejumlah anak-anak tersebut di kota-kota memang sudah sulit didapati. Anak-anak era sekarang barangkali juga sudah tidak mengenalnya. Berangkat dari kondisi sekarang, tiga dosen UMM melakukan kajian terhadap permainan tradisional melalui penelitian Permainan Anak Tradisional Sebagai Model Peningkatan Kompetensi Sosial Anak Usia Sekolah Dasar. .

Iswinarti, selaku ketua tim peneliti, bersama dua dosen lain, Suminarti dan Sulismadi, sudah dua tahun melakukan penelitian yang didanai Ditjen Dikti tersebut. Hasil penelitian tahap dua diharapkan menghasilkan buku pedoman permainan tradisional yang dapat meningkatkan kompetensi sosial anak.

Hanya saja, serangkaian penyempurnaan penelitian dihadapi ketiganya pada 6-8 November. Mereka akan mempresentasikan dalam seminar internasional yang diadakan Lemlit (Lembaga Penelitian) UMM. “Kami tidak tahu, di seminar internasional nanti siapa saja yang hadir. Presentasi di seminar nasional sudah kami lakukan beberapa waktu lalu. Kami mendapatkan banyak masukan,” ucap Ketua Tim Iswinarti. Harapannya, di seminar internasional nanti karyanya mendapat masukan sehingga lebih menyempurnakan sebelum dijadikan dalam bentuk buku pedoman.

Penelitian tahun pertama telah menghasilkan Buku Panduan Permainan Tradisional untuk Anak Usia Sekolah Dasar beserta analisis manfaat psikologisnya. Buku tersebut dengan mengindentifikasi 18 permainan tradisional beserta nama dan variasinya. Berdasarkan hasil eksplorasi, setiap permainan tradisional mempunyai nama lebih dari satu. Misalnya, krupukan. Sebut saja di Jawa dan Bengkulu dikenal permainan ular naga, sleboran (Gresik), dor salindor (Madura), wak-wak gong (Jakarta), oray-oray (Bandung), jamuran (Sunda), tam-tam (Sumatera Selatan), lemon nipis (Irian Jaya), dan teng bukuk (Sumatera Selatan). “Jadi permainan tradisional ini di setiap daerah ada, hanya namanya saja berbeda,” ungkap ibu tiga anak ini.

Nama permainan tradisional lain yang berhasil diidentifikasi adalah cician, congklak lidi, cublak-cublak suweng, dam-daman, dingklik oglak-aglik, goak-goakan, isutan jarat, keng-keng, ketek karet, landar-lundur, lelade, maen kemereh, mpa’a isi mangge, penteng, tepuk nyamuk, Tokyo. Sementara variasi nama dan prosedur paling banyak ada pada permainan pada engklek. “Sebenarnya ada 34 jenis permainan. Namun, saat ini hanya 18 yang berhasil diidentifikasi,” ujar Iswinarti.

Iswinarti menjelaskan, permainan tradisional erat kaitannya dengan fungsi psikologis perkembangan anak. Tak sekadar memberi perasaan senang, fungsi kognitif, dan sosial. Tapi ada aspek emosional yang dikedepankan. “Karena permainan tradisional itu berkelompok, maka dapat meningkatkan afiliasi dengan teman sebaya, kontak sosial, konservasi, dan ketrampilan sosial,” tambah Suminarti.

Lebih penting lagi dapat menggali aspek-aspek kompetensi sosial yang meliputi problem solving, pengendalian diri, empati, dan kerja sama. “Permainan anak sekarang terlalu banyak dijejali permainan dari industri barat. Pengaruh negatifnya lebih banyak, karena mengarah pembentukan sifat ego-sentris karena terlalu asyik bermain sendiri dan kurang berhubungan dengan orang lain,” ucapnya.

Aspek problem solving, lanjut Suminarti, anak akan belajar mengatur strategi untuk mengalahkan lawan ketika mereka bermain dalam permainan-permainan kelompok. Misalnya pada permainan betengan, sepak tekong, dan gembatan. Bersama teman sekelompoknya, anak belajar bagaimana mengatur agar kelompoknya tidak curang. Mereka juga mencari pemecahan masalah ketika kelompok mereka berada pada posisi yang kalah.

Kemampuan anak dalam mengambil keputusan juga tampak ketika anak bermain wak-wak gong. Dalam permainan ini anak harus memilih untuk ikut kelompok di antara dua kelompok yang ada. Anak juga belajar mengambil keputusan memilih batu mana yang akan diambil lebih dahulu dalam permainan slentik. “Bermain dakon, anak belajar memilih biji bekel yang akan diambil terlebih dahulu,” ucapnya. Pelatihan konsentrasi agar tugas bisa selesai dengan baik dijumpai ketika anak bermain engklek, enthik, kelereng, dan ketek karet.

Permaian tradisional juga mampu mengasah aspek pengendalian diri. Yakni, kemampuan anak untuk menunda kepuasan, bisa bersabar, tidak mudah tersinggung. Anak bisa belajar untuk berhati-hati dan berkonsentrasi untuk bisa mengendalikan diri. Perlu dicermati juga, secara umum hampir semua permainan tradisional yang berbentuk games akan melatih anak untuk belajar menunda kepuasan. Karena mereka harus mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati, sehingga tidak bisa begitu saja memperoleh kemenangan.

“Anak akan belajar berkonsentrasi dan berhati-hati ketika dia bermain engklek. Ketika anak harus melompat dengan satu kaki, membawa gaco di tangan sambil engklek ataupun menaruh gaco di atas kepala sambil engklek,” sambung Sulismadi.

Dengan permainan tradisional itu, pada dasarnya anak melatih diri untuk berkonsentrasi dan mengendalikan diri. Kemampuan-kemampuan tersebut akan banyak dilakukan anak ketika mereka bermain batu taba, kelereng, dan enthik.

Dari hasil penelitian ini juga didapatkan hampir semua permainan tradisional bentuk atau berkelompok mengasah kemampuan bekerja sama. Permainan-permainan yang mengandung unsur kerja sama, yakni batu taba, betengan, sepak tekong, wak-wak gong, gobak sodor, dan petak umpet.

Peneliti ini juga melakukan pengumpulan data untuk memperoleh pendapat orang tua dan guru tentang kemungkinan menerapkan permainan tradisional ini di sekolah. Hasilnya, kebanyakan orang tua menyetujui jika permainan ini bisa diberikan di sekolah. Beberapa orang tua bahkan mengusulkan untuk diberikan pada saat pelajaran olah raga, ketrampilan atau ekstrakurikuler.

“Persoalannya, permainan ini hampir tergusur di tengah perkembangan arus yang sudah serba modern ini. Dengan pedoman yang kami susun ini dapat menjadi referensi. Bukan hanya di sekolah tapi juga untuk orang dewasa yang memberikan pendidikan kepada anak,” ungkap Sulismadi.

Happy DY
(*/ziz/radarmalang)

Iklan

2 Komentar

Filed under Indonesia, Malang, Pendidikan

2 responses to “Aspek Psikologis dari Permainan Anak Tradisional: Engklek Kendalikan Diri, Betengan Asah Kerja Sama

  1. ans

    bisakah saya membeli buku permainan tradisional ini?
    saya berminat sekali, karena dah lupa semua padahal waktu kecil sering main.
    mohon dibantu..
    terimaksih

  2. dewi maria u.r.

    kl boleh tau penelitian di atas pada tahun berpa ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s