Hermeneutika Anti-Marketing, Fenomena di Gang Kloso

Ada banyak alternatif pilihan kongkow-kongkow malam di Kota Malang. Ada yang di hotel berbintang, kafe kelas menengah, sampai lokasi embongan. Nah, yang terakhir ini ada banyak. Selain di kawasan Jl Soekarno Hatta atau kawasan Pulosari, ada juga tempat unik. Yakni Gang Kloso. Apa sih asyiknya?

Apa yang kita inginkan saat kongkow-kongkow dengan rekan malam hari? Makanan enak, suasana nyaman, lokasi privat, atau hanya sebuah kebebasan menikmati hidup. Rasa-rasanya kok semuanya ya.

Namun adakah semua itu tersedia di satu tempat di kota ini? Jawabnya, ada. Tapi jika ditanya berapa rupiah dihabiskan untuk menikmatinya? Ssttt.. kira-kira tiga ratus ribuan untuk tiga orang. Lha kala kantong hanya berisi uang Rp 20 ribuan, solusinya? Ya tidak ke tempat seperti itu.

Tapi bagaimana kalau dengan uang segitu, tapi kebutuhan kongkow untuk melepas penat tetap harus dilakukan? Ya cari tempat yang setidaknya memenuhi beberapa kriteria. Misalnya, makanan; ya asal bisa dinikmati. Suasana; yang penting nyaman untuk ukuran kantong. Lokasi; yang paling penting aman, tidak ada truk yang tiba-tiba nyelonong, atau bill tagihan yang membengkak. Kebebasan menikmati hidup ; karena ini tujuan, tempat sesuai selera.

***

Itulah hidup. Di tengah kepenatan belajar dan bekerja di kota ini, tempat-tempat seperti itu banyak jadi jujugan. Terlebih kalau malam hari. Itu pula yang terjadi di Gang Kloso kala malam mulai merambat tengah malam.

Dinginnya suasana Malang tak membuat ratusan orang kongkow di sini risau. Kebanyakan anak-anak kuliahan. Tapi banyak pula yang sudah bapak-bapak. Mereka duduk seadanya. Sekenanya pula. Tak ada tempat privat di sini. Apalagi feodalisme antara yang punya duit atau tidak. Tak ada sekat itu. Pekongkow-pekongkow malam itu hanya mengalir saja di tempat ini. Semengalir pikiran yang mereka rasakan.

Bisa duduk seadanya karena hanya tersedia kloso (tikar) yang disediakan pemilik warung. Bisa duduk sekenanya karena lahannya luas. Seluas pinggir Jl Raung yang membentang 1,5 kilometer dari timur ke barat. Kita bisa duduk di mana saja asal tidak mengganggu orang lewat dan taman. Bisa di bawah pohon, pinggir jalan, atau badan jalan.

Menunya? Ini yang tidak mengeringkan kantong. Bisa secangkir kopi plus gorengan, mi godok atau goreng. Belakangan memang ada banyak pilihan makanan. Namun ”ruh” dari tempat ini adalah kopi itu. Lainnya mungkin bisa dikatakan tangan, kaki, atau apalah. Yang pasti dari secangkir kopi itu seakan bisa melegakan hati pengunjung.

Itulah Gang Kloso. Dari perspektif demografi, sebenarnya tempat ini bukan gang. Tapi jalan besar. Yakni Jl Raung. Nama Gang Kloso hanya untuk mempermudah otak agar tidak bekerja keras lagi mengingat sebuah tempat. ”Nama itu juga tak ada yang mengesahkan Mas. Ya dari kita-kita aja. Asal muasalnya ya karena kita duduk di tikar dan bisa memilih tempat seenaknya saja. Makanya kami menyebutnya gang kloso,” ucap Udin Anshori, pekerja swasta yang biasa nongkrong di sini, seraya tertawa lepas.

Begitulah. Di sini bisa tertawa lepas dan bicara blak-blakan dengan teman nongkrong. Tak ada yang sewot. Apalagi pengunjung lain juga melakukan hal yang sama. Jadi semua TST (tahu sama tahu). ”Memang ada sedikit individualisme di sini. Namun sifatnya kelompok. Makanya dari sini kita bisa belajar hakekat toleransi yang sebenarnya. Karena di sini kita bisa menghargai kelompok lain yang tidak melakukan seperti yang kita lakukan,” tambah Arifin, pengunjung lain.

Kemarin malam misalnya. Sejak pukul 20.00, pengunjung sudah mulai datang. Kebanyakan bawa motor. Kalau weekend, banyak juga yang bermobil.

Begitu tiba, rombongan kami pun langsung menuju warung kopi tua yang jadi ”ruh” tempat ini. Kami langsung disodori buku yang sudah agak kusut. Salah satu dari kami menulis pesanan di buku itu. Apalagi kalau bukan kopi susu, jahe, dan ada yang pesan mi godok.

Usai pesan, tanpa disuruh pemilik warung, kami pun mengambil tikar (Jawa: kloso). Tikar itu diletakkan begitu saja di pinggir warung. Saiful Islam, pemilik warung yang sudah delapan tahun istiqomah jualan kopi di tempat ini hanya tersenyum. Ia tetap duduk di bangku panjang warungnya yang tanpa sekat dan atap permanen.

”Monggo. Niku klosone. Tempate … ten mriku geh mboten nopo-nopo (Silakan. Itu tikarnya. Tempatnya di situ juga tidak apa-apa),” ucap Saiful sembari menunjuk tempat di sisi depan warung tuanya.

Kami pun beranjak dan mbeber kloso. Duduk lama sambil bercengkrama. ”Inilah hidup. Siapa sangka tempat seperti ini bisa menyubsidi banyak perusahaan besar,” kata salah satu dari rombongan kami.

Kok bisa? ”Ya bagaimana nggak menyubsidi perusahaan besar, wong banyak karyawan perusahaan besar itu yang duduk-duduk di sini. Salah satu alasannya ya karena kantongnya tidak tebal. Kenapa kantong tidak tebal, karena gajinya tidak besar. Makanya pilih tempat seperti ini, bukan kafe hotel berbintang. Lha kalau sudah begini, warung inilah yang menyubsidi perusahaan besar tersebut agar karyawannya bisa tetap menikmati hidup dengan nongkrong seperti ini.”

Kami pun tertawa mendengar penjelasan salah satu rekan kami itu. Tertawa lepas sekali. Rupanya rombongan lain di sebelah kami juga ada yang tertawa. Tidak tahu, materi apa yang membuat mereka juga ceria malam kemarin.

Hermeneutika Anti-Marketing

Kenapa kok ujug-ujug (tiba-tiba) tempat ini jadi ramai, padahal dulu sangat sepi? Kalau masih bingung dengan cara gila Kafi Kurnia – pelopor anti-marketing – dalam memasarkan sebuah produk, mungkin hermeneutika-nya dapat dibaca di Gang Kloso ini.

Namanya hermeneutika – salah satu aliran filsafat yang bisa diartikan sebagai teori interpretasi, penerjemahan, atau penafsiran -, tentu sah-sah saja kalau pengunjung Gang Kloso ini menafsirkan berbagai macam tentang ramainya tempat ini.

Misalnya soal pelayanan. Di sini tak ada pelayan eksklusif. Senyum, tegur, sapa, dan lainnya. Semuanya mengalir. Memang ada salah satu anak pemilik warung yang mengantarkan minuman ke gerombolan-gerombolan pengunjung tempat ini. Tapi sikapnya dingin, tidak bertegur sapa, dan kadang malah cuek.

Ditanya namanya juga tak menjawab. Diam seribu bahasa. Kata; monggo atau silakan, juga tak keluar dari bibirnya. Bahkan, saat minuman yang dihadirkan salah, juga tak ada kata maaf. Paling banter hanya sunggingan senyum yang tak kelihatan karena temaran lampu.

Dari sisi tempat juga tak meyakinkan. Warung hanya beratap tenda, tak ada sekat tembok. Batasnya hanya ruang bebas. Kalau hujan mungkin juga ketampu (kena percikan air hujan). Ya, sangat sederhana sekali. Mungkin bisa dikatakan tidak sesuai dengan pengunjung yang berjumlah seratusan tiap hari.

Dibandingkan dengan kafe sekitarnya, warung ini jauh lebih sederhana. Tapi justru warung tua yang buka 24 jam nonstop selama 8 tahun ini mampu menjadi ruh kawasan wisata kuliner malam sekitar Jl Ijen, Jl Anjasmoro, dan sekitarnya.

Nah, dalam perspektif anti-marketing, Gang Kloso ini sama sekali tidak memenuhi syarat dalam ilmu marketing. Semua berjalan apa adanya. Dari dua tahun lalu sampai sekarang ya tetap seperti itu. Bedanya, sekarang tambah ramai saja.

Inilah mungkin hermeneutika konsep anti-marketing yang disampaikan Kafi Kurnia. Berjalan sukses tanpa teori marketing. Dan siapa tahu, dari Gang Kloso ini pula kita mampu mendekontruksi marketing dengan jurus berani ala dekontruksi Jacques Derrida. Itu karena belajar bisa dari mana saja dan kapan saja.
(tim radar malang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s