Kontes Pandu Diabet Terbaik, Tunggu April 2009

Dewan juri pemilihan Pandu Diabetes tingkat nasional belum dapat menetapkan pandu terbaik yang akan mendapatkan hadiah terbang ke Kanada. Hingga penutupan Kongres Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) di Kota Batu, kemarin, dewan juri hanya menetapkan tiga terbaik finalis pandu tingkat nasional.

Menurut Wakil Ketua Persadia dr. Roy P. Sibarani, ketiga finalis terbaik, Susanti dari Bogor, Yadu dari Jakarta Pusat dan Widi dari Subang Jawa Barat akan dinilai kembali hingga April 2009 mendatang untuk mencari yang terbaik. Selama masa penilaian, mereka diharapkan memiliki konsep sendiri yang mandiri dan bukan berasal dari konsep kedokteran.

“Kami berharap mereka memiliki konsep sendiri. Bagaimana mereka memiliki konsep sendiri untuk memberikan sumbangsih kepada penderita diabetes lainnya. Karena mereka akan menjadi ikon penyandang diabetes di Indonesia,” kata Roy kepada Malang Post, usai penutupan Kongres Persadia di Hotel Kusuma Agrowisata, kemarin.

Ketiga finalis terbaik yang dipilih dewan juri telah melewati masa panjang untuk menjadi finalis tingkat nasional. Selama dua tahun mereka telah mengikuti seleksi yang dilakukan dimasing-masing daerah. Mereka mewakili Indonesia bagian barat dan timur.

Masa ujian untuk menjadi pandu terbaik akan ditambah lagi hingga pertengahan tahun 2009 mendatang.
“Kami ingin mencari pandu yang lebih baik dari Pak Kontjoro dan Epy yang sudah menjadi pemenang pandu nasional tahun 2007 lalu. Karena Pandu Diabetes hanya ada di Indonesia, di luar negeri tidak ada. Dan Pandu Diabetes sudah banyak dikenal dibanyak negara,” ungkapnya.

Disinggung bagaimana konsep mandiri yang dimiliki masing-masing finalis, Roy memberikan contoh penyandang diabetes di luar negeri yang bisa masuk ke parlemen dan berbuat sesuatu untuk penyandang diabetes lainnya. Di Indonesia hal itu bisa dilakukan dan dapat memberikan sumbangsih kepada penyandang diabet lainnya.

Meski saat ini, ada pejabat atau mantan pejabat yang termasuk penyandang diabetes, tapi bagaimana sumbangsih mereka untuk penderita diabetes lainnya. Kerap kali, mereka masih malu atau riskan untuk mengakui bila mereka termasuk penyandang diabetes atau yang biasa disebut diabetesi.
“Kalau disebutkan semua, mereka tidak akan bisa mandiri dengan konsep mereka sendiri,” terangnya. (aim/eno) (Muhaimin/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s