Pemilihan Pembantu Rektor Unikan Diwarnai Protes

Proses pemilihan pembantu rektor (PR) di Universitas Kanjuruhan (Unikan) yang Sabtu (18/10) lalu menyisakan masalah. Hasil pemilihan itu diprotes justru oleh calon yang memenangkan pemilihan. Pasalnya proses pemilihan itu ditengarai berbau kolusi. Sayangnya, aroma kolusi ini baru diungkap setelah pemilu usai oleh PR III terpilih Drs H Christea F AK MM. Dia bahkan menganggap proses pemilihan itu tidak sah.

“Saya merasa proses pemilihan itu tidak sah. Karena ada kecurangan yang diwujudkan dengan koalisi antara KPU dan senat. Hal ini jelas tidak pantas dicontoh oleh senat mahasiswa yang ada di kampus ini,” ungkapnya.

Thea, panggilan akrab Christea menguraikan sebenarnya ia sendiri sudah curiga sejak awal bahwa ada keganjilan pada proses pemilu itu. Pada saat pemaparan visi misi calon PR yang digelar sebelum pemilihan, ada salah satu calon yang jelas mengaku tidak sanggup mengemban amanat jabatan itu. Keikutsertaanya hanya karena alasan untuk meramaikan bursa. Saat itu ada enam orang yang mencalonkan untuk menduduki empat jabatan PR. Dan ternyata, setelah rapat senat, calon yang menyatakan tidak mau menjabat itu malah yang terpilih.

Kecurigaannya itu semakin menguat, saat Senin (20/10) lalu usai proses pemilihan, dua anggota KPU yang juga anggota senat mendatanginya. Mereka menceritakan dengan gamblang bahwa mereka telah melakukan kolusi untuk mengatur pemilihan ini. Dua anggota KPU itu disebutkannya berinisial PTR dan PJT. Mereka berkolusi dengan beberapa anggota senat dan mendesain agar suara senat mengarah pada calon yang mereka usung.

Pengakuan ini sontak membuat pria yang sebelumnya menjabat PR IV Unikan ini terusik. Ia merasa jabatan yang diembannya saat ini tidak sah. “Kolusi jelas tidak dibenarkan dalam sebuah pemilihan, harusnya digunakan asas jujur dan adil. 21 anggota senat yang memiliki hak suara ternyata tidak menggunakan suaranya dengan benar,” tukasnya kecewa.

Walaupun ia sebenarnya diuntungkan dengan proses ini karena terpilih menjadi PR III, tapi bagi Thea hal ini tidak sesuai dengan hati nuraninya. Bahkan ia ragu, apakah jabatan yang diembannya sah. Jika tidak, maka selama empat tahun ke depan ia akan bekerja tanpa arti. Karena itulah, menurutnya KPU harus meminta maaf kepada publik Unikan. Ketidak jujuran yang terjadi, harus diungkap di hadapan publik. Selanjutnya, tergantung pada kebijakan senat apakah proses yang sudah finish itu akan diulang atau tetap disahkan.

“KPU Unikan harus minta maaf kepada publik di Unikan. Hanya itu tuntutan saja, dan saya menggugat KPU untuk membersihkan proses pemilihan itu,” tegasnya.

Kolusi itu Biasa

SOAL tudingan adanya kolusi dalam proses pemilihan pembantu rektor (PR) yang dilaksanakan di Universitas Kanjuruhan (Unikan) Malang, salah satu anggota KPU Unikan Drs. Pieter Sahertian M.Si menegaskan bahwa proses pemilihan sudah berjalan sesuai aturan.

“Saya tidak tahu kalau ada kolusi, tapi sejak awal pemilihan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. KPU Unikan sudah menjalankan tugas dengan baik, kalaupun akhirnya muncul ketidakpuasan itu saya tidak tahu kenapa,” ungkapnya.

Soal tudingan kolusi ini lagi-lagi Pieter enggan berkomentar. Sebab menurutnya semua anggota senat sudah memberikan suaranya dengan baik. Masalah hasilnya, dikembalikan kepada masing-masing orang. Sementara yang terkait dengan KPU Unikan, hanyalah tugas untuk menyiapkan persyaratan pemilihan saja. Tata cara pemilihan pun sudah dibicarakan di senat dan atas persetujuan senat. Hasil pemilihan yang sudah dicapai, murni dari pemikiran masing-masing orang yang disuarakan dalam rapat senat.

Hanya saja, kata Pieter nuansa kolusi seperti yang dituduhkan itu sudah biasa terjadi pada setiap ajang pemilihan apapun. Misalnya serangan fajar dilakukan. Atau kadang ada orang yang pada awalnya menjagokan salah satu calon, tiba-tiba berubah fikiran saat pemilihan karena melihat kemampuan calon saat penyampaian visi misi. Karena itu, kata dia kolusi atau tidak, menurutnya kembali pada masing-masing individu. “Kalau mau tahu apakah memang ada kolusi, tanyakan saja kepada masing-masing anggota senat yang punya suara,” tegasnya.

Ia menegaskan, hasil pemilihan yang dilakukan KPU sudah diserahkan kepada Rektor. Dan Rektor lah yang akan memutuskan siapa yang akan membantunya dalam melaksanakan tugas empat tahun ke depan.

(oci) (Lailatul Rosida/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s