Habis Menabrak Masih Sempat Antarkan Muatan

Meski kendaraan yang dikemudikannya merenggut nyawa dua ABG, namun hal itu tidak mengurangi sikap profesional, yang ditunjukkan Jumadi. Terbukti, sopir truk N 8160 UE ini, masih sempat mengantarkan angkutan truknya ke tempat tujuan.

Truk itu mengangkut batu yang dari Wajak untuk diantarkan ke Niwen Wagir. Bahkan untuk membuktikan itikad baiknya, Jumadi menyerahkan KTP kepada orang-orang yang menghentikan laju truknya.

‘’Setelah merasa ada yang tertabrak, saya memang terus menjalankan truk. Kemudian ada orang menghentikan truk saya. Saya bilang ke mereka, saya akan bertanggung jawab. Saya akan menyerahkan ke polisi, tapi setelah muatan ini saya antarkan ke Wagir,’’ ujar Jumadi.

Itulah sebabnya, Jumadi langsung melanjutkan truknya sampai Wagir. Dia butuh waktu 1,5 jam untuk kembali ke TKP. Tapi Jumadi langsung mengarahkan kendaraannya ke Polsek Sukun.

Apalagi saat sampai di TKP, yang memang berdekatan dengan mapolsek, warga yang tahu truk itulah yang ‘membunuh’ dua siswi SMP Nusantara itu, sempat bertindak brutal. Warga langsung menggedor-gedor bak truk.

Beruntung petugas unit Laka Polresta Malang yang melakukan olah TKP, tanggap. Begitu puluhan pasang tangan menempel ke bodi truk, petugas melarang untuk tidak melakukan perbuatan anarkis dan ikut mengawal truk itu sampai di Mapolsek Sukun.

Sementara itu mendengar dua anak didiknya menjadi korban kecelakaan, Kepala Sekolah SMP Nasional Dra Sulastri langsung mendatangi TKP.

Air matanya pun tidak bisa dibendung, setelah melihat dua mayat terbujur kaku, di depan halaman toko milik warga. Meski saat itu tubuh korban ditutup perlak dan daun pisang, namun Sulastri hafal jika dua korban tersebut adalah anak didiknya.

‘’Pak, betul itu siswi kita? Siapa mereka? Apakah mereka tidak memakai helm dan mereka memakai jaket,’’ tanya Sulastri kepada Gitoyo, guru SMP Nasional, yang datang lebih awal.

Gitoyo pun mengangguk. Dengan perlahan, Gitoyo merangkul pundak Sulastri yang langsung tampak limbung. Beruntung, kondisi itu hanya sebentar. Sulastri mencari identitas kedua siswanya agar bisa menghubungi orang tua korban.

Selain Sulastri dan Gitoyo, dua guru lainnya juga datang ke TKP. Salah satunya Kukuh Widartono. Kukuh yang sempat melihat jenazah korban terlihat sangat shock. Bukan hanya karena kondisi korban yang memprihatinkan, namun Kukuh mengaku jika dirinya sangat dekat dengan keduanya. ‘’Mereka ada siswi-siswi terbaik kami,’’ kata Kukuh, yang kemarin sempat membuka tas milik kedua korban. (ira/avi) (ira ravika/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s