Heroisme Sumpah Pemuda di Mana-Mana

Karang Taruna RW 08 Kelurahan Kotalama menggelar upacara sumpah pemuda sebagai wujud cinta tanah air Indonesia. (MUFLIKH FARID/MALANG POST)

Karang Taruna RW 08 Kelurahan Kotalama menggelar upacara sumpah pemuda sebagai wujud cinta tanah air Indonesia. (MUFLIKH FARID/MALANG POST)

Heroisme Sumpah Pemuda terasa di mana-mana di Kota Malang kemarin. Peringatan ke-80 salah satu tonggak sejarah di tanah air itu bukan hanya dilakukan lewat upacara, tetapi juga atraksi, orasi, dan renungan. Pelakunya pun bukan cuma kalangan ormas kepemudaan dan siswa. Komunitas pengamen pun tak mau ketinggalan.

Di halaman Balai Kota Malang, misalnya, upacara sampai diwarnai peserta pingsan. Belasan peserta dari ratusan orang yang turut dalam upacara tersebut jatuh tak sadarkan diri. Meski tak menimbulkan kepanikan, insiden itu membuat petugas Palang Merah Indonesia (PMI) cukup kewalahan.

Padahal, saat upacara berlangsung kemarin, matahari tak begitu terik. Upacara juga hanya berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 08.00 sampai 10.00. Tetapi, begitu bendera Merah Putih dinaikkan ke tiang oleh petugas, tiba-tiba saja dari salah satu barisan, seseorang jatuh lunglai. Disusul dari barisan lain.

Yang pingsan bukan hanya siswa dari tingkatan SD, SMP, atau SMA. Ada satu petugas Satgana PMI yang juga pingsan. “Korban pingsan langsung kami tangani dan kami bawa ke tempat teduh,” ujar Heri Suwarsono, bagian pelatihan PMI yang saat itu bertugas.

Heri memperkirakan, pingsan terjadi karena peserta terlalu lama berdiri dan belum sarapan. Dalam kondisi kecapaian, suplai oksigen ke otak berkurang dan terjadilah yang namanya pingsan. Mengatasi kondisi tersebut, Heri dan timnya langsung membawa korban ke tempat teduh serta melonggarkan pakaian yang mengikat. Juga meletakkan kaki lebih tinggi dari posisi jantung. “Dengan segelas air putih hangat dan manis, korban langsung siuman. Tidak ada yang fatal sehingga semua langsung boleh pulang,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Malang Peni Suparto membacakan sambutan resmi dari Menpora Adhyaksa Dault. Salah satu isinya, mengharap kembalinya para pemuda Indonesia dalam bilik kesatuan bangsa. Sebab, saat ini pemuda Indonesia lebih konsentrasi pada bilik masing-masing. Ada yang berkiprah di jalur politik, jalur bisnis, jalur seni, dan lainnya.

Upacara juga dilakukan pemuda-pemudi pengamen jalanan di kawasan Kota Lama, tepatnya kawasan Jl Muharto 5B. Kelompok ini memiliki cara sendiri dalam memperingati Sumpah Pemuda. Sekitar pukul 14.00, puluhan pengamen jalanan menggelar upacara bendera secara sederhana. “Meski kami anak jalanan, tapi tetap pemuda Indonesia. Kami juga ingin menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk bangsa ini,” ucap Sunaryo, ketua Serikat Pengamen Jalanan Malang (SPJM).

Sementara, kemarin malam elemen mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Malang menggelar renungan malam Sumpah Pemuda. Dalam kegiatan yang dipusatkan di depan Stasiun Kota Baru itu, PMII menggelar berbagai kegiatan. Mulai hiburan kuda lumping, sarasehan budaya, hingga orasi budaya. Meski dalam suasana gerimis, pengunjung dan ratusan anggota PMII menyaksikan atraksi kuda lumping yang disuguhkan grup kuda lumping Tulangga Pilar Pertiwi.

Setelah pertunjukan itu, ratusan mahasiswa menggelar orasi budaya. Beberapa perwakilan mahasiswa menyampaikan orasi berisi berbagai kritikan atas kondisi pemuda saat ini. Mulai dari banyaknya pengangguran dan hingga lestarinya budaya hedonisme di kalangan pemuda. Selain itu, para mahasiswa menekankan pentingnya nasionalisme pada peringatan malam Sumpah Pemuda. Sebab, dengan nasionalisme yang tinggi, bangsa ini akan terhindar dari perpecahan.

“Majunya bangsa ini sangat tergantung dari pemuda. Untuk itu, pemuda harus mempunyai nasionalisme yang tinggi agar menjadi pemuda yang cinta terhadap tanah air dan bangsanya,” tandas Ketua Cabang PMII Kota Malang Fery Firmansyah.

Refleksi Sumpah Pemuda juga dilakukan Iwama (Ikatan Waria Malang). Sekitar 25 waria yang tergabung dalam organisasi tersebut membacakan ikrar Sumpah Pemuda di Alun-Alun Kota Malang. Mereka juga menyanyikan lagu perjuangan, membacakan puisi Karawang Bekasi, serta membagikan bunga kepada pengendara jalan. (nen/gus/yn/radarmalang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s