Belajar Bahasa Indonesia Tak Menarik Lagi

Peringatan Bulan Bahasa yang digagas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia kemarin. (Muflikh Farid/MALANG POST)

Peringatan Bulan Bahasa yang digagas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia kemarin. (Muflikh Farid/MALANG POST)

Belajar bahasa Indonesia saat ini tak semenarik belajar bahasa Inggris dan Matematika. Apalagi bicara tentang sastra, pasti yang terbayang adalah karya-karya lama yang sudah tidak relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Seperti diungkapkan salah satu siswa SMPN 8 Malang yang kemarin menjadi peserta Sarasehan Peringatan Bulan Bahasa di SMPN 20 Malang kemarin.

“Belajar Bahasa Indonesia tidak menarik, lebih menarik belajar matematika, karena ada rumus yang harus dihafal. Sementara bahasa Indonesia sama saja,” ungkapnya saat ditanya apakah ia suka belajar bahasa Indonesia.

Dogma yang sudah terpatri dan menjadikan efek negatif pada pembelajaran sastra Indonesia ini tentu saja harus segera diubah. Dan menjadi tanggung jawab guru untuk menjadikan pelajaran ini dicintai muridnya. Dalam gelaran Peringatan Bulan Bahasa yang digagas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia kemarin, dipilih tema Gairahkan Kembali Kecintaan Pada Bahasa dan Sastra Indonesia.

Hadir sebagai pembicara. yaitu Penyair yang juga dosen di Unesa Tengsoe Tjahjono. Menurutnya, menjadi tantangan bagi para guru dengan realita bahwa siswa jenuh belajar bahasa Indonesia. Karena itu, sudah bukan zamannya lagi, dalam pembelajaran masih menggunakan karya sastra lama. “Kenapa tidak di SD guru mengajar dengan membawa Majalah Bobo atau Mentari untuk referensi di kelas. Pasti anak lebih tertarik daripada membawa puisi dan karya sastra lama yang sudah tidak menggambarkan dunia anak zaman sekarang,” ungkapnya.

Hal ini, kata Tengsoe, bukan berarti mengajarkan anak untuk meninggalkan sejarah, tapi pengetahuan sastra lama perlu diberikan, tapi dengan porsi kecil saja. Tidak menjadikan karya-karya itu menjadi rujukan utama pada setiap pembelajaran. Bahkan, novel-novel remaja seperti teenlit juga pantas dijadikan media belajar. Selain itu, kata dia guru pun harus membenahi cara mengajarnya. Jangan sampai, materi bahasa Indonesia yang diperoleh siswa mulai SD hingga SMA sama saja.

“Jika perlu, di sekolah itu guru bahasa dan sastra dibedakan. Sebab jelas berbeda, karena jika guru tidak suka sastra, maka ia akan meninggalkan materi itu dan tidak akan mengajarkan pada siswa,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kota Malang, Tatik Dwi Suswati menuturkan, melalui kegiatan seperti peringatan bulan bahasa ini diharapkan siswa mencintai bahasa Indonesia.
Sesuai dengan target belajar, mereka pun masing-masing diharapkan sudah membaca 15 judul karya sastra. Baik berupa kumpulan puisi, dongeng dan lainnya. “Sastra itu ada untuk dinikmati, bukan untuk membuat anak menghafalkannya karena diujikan. Kalau perlu ujian sastra itu tidak dengan teks, tapi dilombakan seperti ini,” tuturnya. (oci/udi) (Lailatul Rosida/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s