Krisis Global Pengaruhi Perajin Tempe

Pengrajin Tempe Ketanen Kelurahan Penarukan Kecamatan Kepanjen membersihkan kedelai Amerika yang harganya mulai naik karena krisis global. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)

Pengrajin Tempe Ketanen Kelurahan Penarukan Kecamatan Kepanjen membersihkan kedelai Amerika yang harganya mulai naik karena krisis global. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)

Setelah dampak kenaikan harga kedelai impor yang berimbas pada ukuran dan harga tempe beberapa waktu lalu, hal itu kini terulang lagi. Kini giliran dampak krisis global mulai dirasakan ribuan perajin tempe dan tahu di Kabupaten Malang.

Hampir semua perajin tempe mulai memperkecil volume produksi akibat naiknya harga kedelai impor Amerika. Karena dolar menguat, harga beli kedelai naik dari Rp 6200 menuju Rp 6500 – Rp 6600/kg.
Hal itu dikatakan Kepala Bidang Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pasar Kabupaten Malang, Agus Satrio kepada Malang Post, kemarin. Agus mengatakan menguatnya nilai dolar mempengaruhi impor dari Amerika.

“Harga kedelai Amerika naik, namun trend kenaikan itu masih cukup normal,” kata Agus diruang kerjanya.
Ia menambahkan, jumlah perajin tempe dan tahu di Kabupaten Malang sekitar 2500 orang. 30 persen diantaranya khusus perajin tahu. Menurutnya, perajin telah siap dengan kenaikan tersebut sebagaiman kenaikan pada bulan Juni lalu hingga Rp 7000/kg.

“Biasanya mereka mengecilkan volume produksi dalam arti produk tempenya dibuat kecil-kecil. Supaya harga tetap stabil sehingga konsumen tidak lari,” ujarnya.

Dia mengatakan kebutuhan Kabupaten Malang mencapai 2000 ton kedelai setiap bulan. Jika pasokan kurang, para perajin diarahkan memakai kedelai lokal.

“Meski bisa menyikapi, namun kenaikan ini cukup terasa bagi perajin kecil,” pungkas Agus.
Terpisah, Hartono 29 tahun, perajin tempe asal Ketanen Kelurahan Penarukan Kecamatan Kepanjen membenarkan hal itu. Pihaknya selalu memperkecil volume produksi ketika harga kedelai mengalami lonjakan.

Normalnya, ukuran tiap kotak atau lajur tempe sekitar 15 cmx20 cm dengan ketebalan 5 cm. Ukuran itu menurut Hartono bisa dikurangi hingga 10 persen saat harga naik.

“Sing kandel ditipisno mas (yang tebal ditipiskan), menyesuaikan dengan harga kedelai, supaya pembeli tidak kabur, per lajur kita jual Rp 4000 ke tengkulak,” terangnya.(ary/eno)
(Ary Wicaksono/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s