Ratusan Fotografer Memotret Batu

333 fotografer dari beberapa wilayah Indonesia sejak Kamis (30/10) lalu melancong ke Kota Batu. Kedatangan mereka bukan sekedar wisata, namun mengikuti lomba salon foto, yang digelar Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSFI).

Tak pelak, seluruh obyek wisata di Kota Batu menjadi sasaran semua fotografer. Baik yang sudah punya nama ataupun pemula saling berlomba mencari bidikan terbaik. Mulai dari Taman Wisata Payung, Selecta sampai Gunung Banyak. Lengkap dengan paralayangnya yang tidak lepas dari jepretan.

Menurut salah seorang panitia M. Kaleb, kegiatan ini merupakan kejuaraan salon foto ke XXIX, sejak berdiri 1973 lalu. Selama ini kejuaraan salon foto selalu mendapat respon positif.

“Berbeda dengan seni lukis yang memiliki jenis atau aliran tertentu, untuk foto tidak. Yang menjadi penilaian utama adalah warna, dan kenaturalan foto. Itu sebabnya, setiap fotografer yang ikut pun harus memahami betul obyek fotonya, termasuk kecerahan cahayanya, apakah foto diambil di ruangan atau di luar ruangan,” ujar Kaleb kepada Malang Post kemarin.

Selain keindahan dan tata cahaya, Kaleb juga mengatakan, fotografer harus mengerti asa yang dipakai berikut dengan kecepatan dan diagframanya. Menurutnya, disitulah seni memotret. Bukan itu saja, Kaleb juga menjelaskan, jika fotografer dituntut untuk tidak hanya bisa mengambil satu obyek foto, melainkan berbagai obyek. Itu sebabnya, selain foto obyek wisata, pihak panitia juga menyediakan model-model untuk difoto.

Sama sulitnya pengambilan obyek foto wisata, jika pengambilan foto kepada model tidak tepat pencahayaannya, maka hasilnya pun tidak maksimal.

Beberapa sesi yang digelar dalam ajang itu yaitu softcopy, monocrome, dan cetak warna. Sementara Jumat (31/10) kemarin, bidikan fotografer terfokus pada model, tapi sebelumnya para fotografer lebih dulu mengambil gambar ke daerah-daerah wisata lebih dulu.

Sedangkan penilaian terakhir rencanannya hari ini, yaitu penilaian foto jurnalistik. Sudah tentu kriteria penilaiannya adalah obyek yang dibidik, mewakili peristiwa yang ada dalam obyek tersebut. Sehingga meski foto tersebut tidak diberi keterangan yang melihat langsung tahu jika ada peristiwa berbeda di tempat itu, saat pengambilan foto berlangsung.(ira/eno)
(Ira Ravika/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Batu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s