Harga Karet Turun, Produksi Dipangkas

Imbas menurunnya harga karet dalam dua bulan terakhir dari USD 2,8 per kilogram menjadi USD 1,6 per kilogram memicu tiga negara produsen utama, Indonesia, Malaysia dan Thailand bersatu. Ketiga negara ini sepakat menurunkan produksi karet hingga 30 persen.

“Pemerintah di tiga negara akan melakukan upaya untuk mendorong agar para petani mengurangi intensitas penyadapan pohon karet (reduce tapping intensity),” ujar Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu akhir pekan lalu. Dia mencontohkan, bila di Indonesia rata-rata penyadapan karet biasanya dilakukan setiap dua hari sekali, maka pemerintah akan menghimbau agar petani melakukan penyadapan setiap tiga hari sekali untuk mengurangi suplai.

Mendag menambahkan, langkah-langkah urgen yang telah disepakati ketiga negara anggota (International Tripartite Rubber Council) tersebut adalah Supply Management Scheme yaitu dengan mempercepat program peremajaan (accelerated replanting) karet. “Kita akan melakukan peremajaan karet yang sudah ada dari 112 ribu hektar menjadi 169 ribu hektar di tahun 2009. Hal ini diharapkan akan mengurangi produksi karet alam di pasar sebanyak 215 ribu ton di tahun 2009 nanti,” terangnya.

Langkah yang lain, lanjut Mendag, adalah mengurangi perluasan kebun karet (decelerate new planting). Melalui langkah ini, Thailand akan melakukan diversifikasi perkebunan kepada tanaman lain, sementara itu Indonesia akan mengontrol pemberian ijin baru bagi usaha perkebunan karet. ”Penurunan harga karet alam lebih disebabkan oleh krisis finansial global dari pada faktor-faktor fundamental terkait pasar karet alam. Faktor-faktor fundamental pasar karet alam masih cukup kuat,” tegasnya.

Selain itu, juga disepakati langkah yang perlu dilakukan oleh para eksportir karet alam yang berada di bawah ASEAN Rubber Business Council (ARBC), suatu organisasi yang terdiri dari asosiasi pedagang karet dari enam negara pengekspor karet alam, yaitu Thailand, Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Kamboja agar mampu mengembalikan stabilitas pasar. “Tentunya dengan mendorong agar kontrak ekspor-impor karet alam berjalan sebagaimana mestinya,” cetusnya.

Para eksportir yang tergabung dalam ARBC tersebut diharapkan untuk menghindari transaksi dengan para defaulters; sedapat mungkin mendorong para anggotanya untuk menyelesaikan sengketa secara damai atau melalui arbitrase; tidak memberikan discount harga maupun pembatalan kontrak. Dia berharap negara-negara eksportir karet saling berkomunikasi secara intens untuk memastikan dampak dari langkah yang diambil. “Langkah koordinasi selanjutnya jika diperlukan,” jelasnya. (jpnn/han) (JPNN)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s