Terpidana Minta Ditembak di Depan Istrinya

Umi Embay Badriyah, ibu Imam Samudra juga mengaku pasrah bila anaknya dieksekusi

Umi Embay Badriyah, ibu Imam Samudra juga mengaku pasrah bila anaknya dieksekusi

Setelah permintaan agar cara mengeksekusi trio Bom Bali, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra, dengan cara digantung tidak dikabulkan, kini ketiga terpidana itu memiliki keinginan lain.

Jika harus dieksekusi, mereka meminta para istri menjadi saksi. Karena itulah, kemarin sore keluarga Amrozi dan Muklas yang diwakili tiga orang dan dua orang wakil keluarga Imam Samudra, berangkat ke Nusakambangan.

’’Ketiga-tiganya minta. Kalau pun memang harus dieksekusi, proses eksekusi harus disaksikan oleh istrinya masing-masing,’’ kata anggota Tim Pengacara Muslim (TPM) Achmad Michdan kepada wartawan, kemarin.

Bahkan, TPM sendiri sejak Jumat (31/10) lalu, sudah mengirimkan surat ke Kejagung yang isinya meminta diberitahu soal pelaksanaan eksekusi Amrozi cs. Namun hingga kini TPM belum menerima pemberitahuan eksekusi.

Namun TPM tetap mempertanyakan, kenapa eksekusi terhadap tiga terpidana mati bom Bali itu, terkesan terlalu berburu-buru. ‘’Banyak terpidana mati yang puluhan tahun lalu menjalani hukuman namun belum juga diekskekusi. Kenapa eksekusi Amrozi cs seolah-olah diburu-buru,’’ kata Achmad Michdan.

Karenanya, TPM akan mengajukan peninjauan kembali (PK) untuk mempertanyakan landasan eksekusi. PK kembali diajukan atas permintaan keluarga Amrozi cs.

TPM menegaskan, pengajuan kembali PK tidak menyalahi aturan sebab sudah ada preseden sebelumnya. Michdan mencontohkan PK kasus Munir yang diajukan oleh jaksa. ‘’Banyak terobosan hukum yang bisa kita lakukan,’’ pungkas Michdan.

Sedangkan ibu Amrozi, Tariyem, mengaku hanya bisa memberikan dukungan moral kepada istri Amrozi. Tariyem yang menyatakan dirinya sehat, meski habis batuk. Saat disinggung soal eksekusi, dia hanya menjawab ikhlas dan pasrah.

Sementara sejumlah tetangga mengatakan kasihan kalau Amrozi dan Ali Ghufron harus ditembak. ‘’Dalam Islam nggak boleh membunuh kecuali untuk jihad,’’ kata Miah.

Umi Embay Badriyah, ibu Imam Samudra juga mengaku pasrah bila anaknya dieksekusi. ‘’Kalau memang terjadi eksekusi, kami hanya bisa pasrah. Mungkin itu kehendak Allah SWT,’’ kata Umi Embay dalam jumpa pers di rumahnya, di kampung Lopang Gede, kelurahan Lopang, kecamatan Serang, Banten.

Sementara itu, tanda-tanda bakal segera dieksekusinya trio terpidana dalam kasus Bom Bali, Amrozi cs, kian dekat. Bahkan sejak Jumat (31/10) kemarin, tim jaksa eksekusi telah datang ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, untuk memproses aspek legal formal eksekusi mati.

Bukan itu saja, satu helikopter dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah, juga sudah disiagakan di Bandara Tunggul Wulung, Cilacap sejak Sabtu. Konon helikopter itulah yang akan dipakai membawa jenazah Amrozi cs keluar dari Nusakambangan.

Namun Kapolres Cilacap, AKB Teguh Pristiwanto menyangkal helikopter itu dipersiapkan untuk membawa jenazah. Helikopter tersebut, disiapkan untuk menunjang pengamanan dan mengangkut logistik.
‘’Pelaksanaan eksekusi semakin dekat. Tentunya kami membutuhkan helikopter ini untuk menunjang pengamanan. Selain itu, helikopter ini juga diperlukan untuk mengangkut logistik,’’ kata Teguh. (jpnn/avi)
(JPNN)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s