Terispirasi Miracle of Love, Dalami Penyakit Lupus

Usia tak menghalangi Prof Handono Kalim dan istrinya, Dr Kusworini Handono, terus mengabdi dengan ilmu yang dimilikinya. Terbaru, pasangan suami istri (pasutri) berusia 64 tahun dan 52 tahun ini menyelami penyakit lupus dan terus melakukan riset menangkal penyakit ini. Bagaimana usahanya?

Tidak banyak dokter yang mendedikasikan dirinya terhadap penanggulangan penyakit Systemic Lupus Erythematous (SLE). Salah satu penyebabnya adalah penyakit ini tidak memiliki gambaran nyata yang bisa dilihat apabila terkena serangan. Gambaran umum SLE adalah berubahnya sistem kekebalan tubuh dari fungsi yang sebenarnya. Akibat itulah, sedikit dokter yang kurang menyukai jenis disiplin ilmu ini.

Meski demikian di Malang ada sepasang suami istri dokter yang sudah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya pada penelitian penyakit ini. Ia adalah Prof Dr dr Handono Kalim SpPD KR dan istrinya, Dr Kusworini Handono MKes. Kedua staf medis di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang ini memelopori berdirinya Perkumpulan Parahita.

Parahita adalah wadah perkumpulan bagi para penderita penyakit lupus atau SLE di Malang. Baru 26 Juli 2008 lalu, perhimpunan ini dideklarasikan dengan jumlah anggota sekitar 70 orang. Dalam perkembangannya, kini anggotanya hampir mencapai 100 orang.

Dalam kegiatannya, Parahita memiliki banyak program. Di antaranya, melakukan kegiatan positif bagi para penderita guna menunjukkan eksistensinya. Melalui wadah ini, penderita bisa berkarya. Misalnya, melakukan aksi sosial dan membuat kerajinan tangan. Selain itu, melalui pertemuan yang mereka lakukan, maka tukar pendapat soal derita yang dialami bisa dilakukan. Dengan membuka diri, diharapkan penderita memiliki semangat hidup untuk lebih tegar menghadapi sakitnya.

Ditemui di ruang kerjanya, kemarin siang, profesor berusia 64 tahun ini masih tampak sibuk di belakang meja kerja yang dipenuhi banyak tumpukan buku. Mengetahui kedatangan Radar, pria kelahiran Solo ini bergegas beranjak dari kursi kerjanya dan mempersilakan duduk. ”Usai menggagas berdirinya Parahita, sekarang saya kembali menyibukkan diri dengan kegiatan penelitian soal obat bagi penderita SLE,” kata Ketua Perhimpunan SLE Indonesia (Pesli) yang menjabat sejak 1999 lalu.

Terbaru, bapak tiga anak ini sedang mengerjakan program penelitian multinasional soal uji coba pemberian obat kepada penderita SLE yang mengidap gangguan pada organ ginjal. Obat pertama yang sedang ia uji sejak enam bulan lalu ini adalah Abetimus yakni sejenis sodium yang berguna untuk mencegah serangan ginjal pada pasien SLE. Penelitian kedua, yang baru dilakukan sebulan ini menguji kerja obat Ocrelizumab. Obat ini digunakan untuk mengobati gangganguan ginjal pada penderita SLE. ” Perbedaan dari kedua obat itu adalah jika Abetimus untuk mencegah sedang Ocrelizumab untuk mengobati pada organ ginjal penderita SLE,” kata pria penghobi traveling mengunjungi objek wisata gunung.

Program penelitian ini diikuti serempak oleh sebanyak 39 negara di dunia dengan leading sector produsen kedua obat tersebut yakni di Amerika Serikat. Kini, penelitian yang sedianya berlangsung 3 tahun ini telah memasuki tahap ke III dari yang sebelumnya sudah dilakukan di negara produsen obat tersebut. Seleksi dilakukan sangat ketat melalui cara uji klinik. Di Indonesia, terpilih dua kota, yakni Jakarta dan Malang.

Sejak penelitian di mulai hingga sekarang, sudah terekrut kurang lebih 90 orang penderita SLE yang dijadikan obyek penelitian. Meski masih dalam taraf uji coba, namun kualitas kedua obat ini termasuk bagus. Uji coba ini dilakukan untuk menyempurnakan hasil uji coba yang sebelumnya pernah dilakukan. Setelah lolos dalam uji phase III, produk akan dijual bebas secara internasional.

Banyak sisi keuntungan yang diperoleh penderita SLE untuk mengikuti program penelitian ini karena semua perawatan, mulai pemberian obat dan uji laboratorium tidak dipungut biaya. Padahal jika harus bayar sendiri, cukup besar. ”Semua pendanaan ditanggung oleh negara penyelenggaran proyek penelitian,” kata Ketua Umum Perhimpunan Rhematologi Indonesia periode 2005-2009 ini.

Bagi pasangan kembar Prof Dr Harmani Kalim MPH SpJP yang dinas di RS Jantung Harapan Kita di Jakarta ini, program kerjasama penelitian ini sangat bermanfaat bagi negara yang ditunjuk.

Selain memperoleh prestice di mata dunia, sekaligus juga untuk meringankan beban penderita SLE. Biaya perawatan bagi penderita SLE sangat besar. Untuk yang sudah parah dan terkena serangan organ vitalnya, misalnya ginjal, seharinya harus mengonsumsi lebih dari 4 jenis obat. ”Jika dihitung rupiah, seharinya obat yang dikonsumsi sebesar Rp 100 ribu. Itu belum termasuk jadwal cek ke laboratorium yang harus dilakukan minimal sebulan sekali,” paparnya.

Dalam tim uji coba itu, Handono juga melibatkan sejumlah dokter spesialis penyakit dalam yang berhubungan dengan rhematologi. Di antaranya, Dr Bagus Putra Suryana SpPD (K), Dr Singgih Wahono SpPD, Dr Atma Gunawan SpPD (KGH), dan Dr Kusworini Handono MKes yang tak lain adalah istri Handono. ”Saya sengaja mengikutsertakan istri saya, karena memang dia memiliki kemampuan di bidangnya. Saya tahu karena saya adalah suaminya, lagi pula dulu dia adalah mahasiswa saya saat kuliah di FK Universitas Brawijaya,” ujarnya seraya tertawa.

Secara umum, gejala awal penderita lupus bisa diketahui dari ciri-ciri adanya kelainan pada kulit pipi. Utamanya di bawah kelopak mata. ”Kelainan itu berubah warna kemerah-merahan melingkar menyerupai bentuk serangga kupu-kupu. Bahasa asingnya lupus,” imbuh Handono.

Gejala berikutnya adalah munculnya gejala nyeri di persendian atau sakit rheumatic, mengalami ganguan fungsi ginjal, rambut rontok, dan sering muncul sariawan dalam jumlah banyak. Kemudian, mengalami kelainan urine, demam tidak sembuh-sembuh, dan disertai nafsu makan berkurang.

Umumnya, penderita baru menyadari jika mengidap SLE setelah mendapatkan vonis dari dokter atau para medis lainnya yang belum mengetahui secara benar apa itu SLE dan bagaimana penyebarannya. ”Misalnya penderita sakit deman selama berhari-hari lalu dokter mendiaganosis jika sakit thypus. Namun setelah dan diberi obat sakit thypus, demam tak juga kunjung sembuh,” katanya.

Saat melakukan check up di Poli Rheumatologi di RSSA Malang, barulah diketahui jika penderita ini menderita SLE. Handono menilai, kesalahan identifikasi awal penderita SLE tidak hanya dari faktor kemampuan pasien untuk memahami apa itu SLE, tapi juga peranan para dokter di pelosok yang menjadi garda depan kesehatan masyarakat. Misalnya dokter di puskesmas.

Hasil akhir pengobatan terhadap penderita SLE bukan sembuh, melainkan memperpanjang usia hidup penderita. ”Karena obat yang diberikan kepada pasien, sebatas untuk melemahkan penyakit ini agar tidak aktif. Di kedokteran, kami menyebutkan remisi yakni lama penyakit tidak aktif,” kata Handono. Rata-rata usia harapan hidup pasien lupusantara 10 hingga 20 tahun.

SLE umumnya menyerang manusia usia produktif yakni antara 25-35 tahun. Penyakit ini disebabkan oleh beragam faktor, di antaranya adalah adanya pembawaan kelainan gen dalam mengatur respons imun sehingga gen bekerja tidak sesuai yang diharapkan. Lainnya adalah muncul faktor pencetus, yakni pernah menderita infeksi, mengonsumsi makanan berbahan kimia, dan polisi udara. Umumnya, SLE menyerang wanita adanya interksi hormon wanita dengan perbandingan, 10 : 1. (mas/war/radarmalang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s