Pendirian Tempat Usaha Besar Abaikan Amdal Lalin

Tempat usaha berskala besar seperti mall dan SPBU belum patuh menjalankan analisa mengenai dampak lingkungan lalu lintas (amdal lalin). Akibatnya kemacetan di kota pendidikan ini semakin parah. Bila tak ada langkah konkret mengatasinya, lima tahun mendatang lalu lintas di Kota Malang crowded.

Persoalan kemacetan lalu lintas ini diungkapkan pakar manajemen lalu lintas Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Harnen Sulistio MSc. Harnen mengatakan hal itu usai dialog dengan Komisi C dan pemkot tentang amdal lalin dua SPBU baru di Ciliwung dan Jalan Dirgantara yang sedang bermasalah.

Harnen mengatakan, harusnya mall seperti Matos dan MOG menerapkan amdal lalin. Tapi kenyataannya menurut Kepala Laboratorium Transportasi dan Jalan Raya FT Unibraw ini, amdal lalin belum diterapkan sehingga lalu lintas tak lancar. Lantas dia mencontohkan, di depan Matos dan MOG, mestinya harus ada lajur khusus keluar masuk kendaraan. Lajur khusus ini kata Harnen, mestinya berada dalam area mall dan tak boleh menggunakan badan jalan.

“Saya tidak melihat adanya lajur khusus di MOG dan Matos. Yang ada hanya tempat antrean. Itu pun tempat antrean ada di badan jalan. Akibatnya badan jalan umum menyempit,” jelasnya.

Selain mall, SPBU juga harus memperhatikan lajur khusus sehingga tidak menimbulkan kemacetan. Dengan demikian, potensi sumber kemacetan baru bisa segera diminimalisir. Lebih lanjut, Harnen mengatakan, aspek penting amdal lalin yang harus diterapkan yakni, selain harus ada lajur khusus, harus setting ulang lampu pengatur lalu lintas di sekitarnya. “Selain itu juga harus beri rambu lalu lintas,” terangnya.

Selain persoalan penerapan amdal lalin MOG dan Matos, Harnen mengingatkan saat ini ada 16 persimpangan yang bermasalah dalam kelancaran lalu lintas. 16 persimpangan itu merupakan 40 persen persimpangan yang ada di kota ini. “Harus serius mengatasinya, bila tidak lima tahun lagi lalu lintas menjadi crowded.

16 persimpangan itu di antaranya di depan kompleks Dinas Perizinan, Stasiun Kota Baru, Embong Brantas, perempatan Rampal dan persimpangan Jalan Gajayana-Jalan MT Haryono. Untuk mengatasinya perlu menata ulang ukuran persimpangan dan konfigurasi gerakan kendaraan. Selain itu, misalnya seperti di perempatan Rampal, tempat pemberhentian di depan traffic light harus dimajukan lagi. Sehingga kata dia, tidak sampai terjadi antrean panjang di perempatan.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Ir Sofyan Edi Jarwoko mengatakan SPBU Ciliwung dan SPBU Dirgantara menambah kemacetan dan kerawanan kecelakaan lalu lintas. “Karena arus lalu lintas di sekitarnya padat dan berada di persimpangan,” ungkapnya.

Sebelumnya kata politisi Partai Golkar ini, masyarakat di sekitar dua SPBU tersebut sudah mengajukan keberatan ke dewan. “Berdasarkan kunjungan lapangan yang sudah kami lakukan, keberatan masyarakat masuk akal,” kata dia. Sekretaris Komisi C, H Pujianto juga mengingatkan hal senada. Dia mengingatkan seharusnya pemkot memperhatikan serius usaha mengatasi kemacetan. ”Misalnya seperti di depan Pasar Dinoyo. Sampai saat ini masih menjadi persoalan, jangan ditunda lagi penyelesaiannya,” tandasnya.(van/lim) (Vandri van Battu/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s