Rumah Eks Dr. Azhari Masih Sering Didatangi Turis

Rumah bekas kontrakan Dr Azhari yang tidak terawat dan masih dibiarkan apa adanya. (Muhaimin/Malang Post)

Rumah bekas kontrakan Dr Azhari yang tidak terawat dan masih dibiarkan apa adanya. (Muhaimin/Malang Post)

9 November mendatang, empat tahun peristiwa penyeregapan buronan teroris kelas wahid yang paling dicari aparat keamanan Indonesia. Dr. Azhari tewas di rumah kontrakannya di jalan Jl. Flamboyan II A-7 Kelurahan Songgokerto Batu. Dr ahli bom itu terlibat dalam serangkaian aksi bom yang terjadi di Indonesia, termasuk bom Bali. Bagaimana situasi tempat tewasnya Azahari menjelang eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali?

Jalan Flamboyan yang berada di komplek eks perumahan karyawan PT. Wastra Indah Kota Batu terlihat lengang siang kemarin. Tidak banyak orang berlalu lalung di dekat rumah No. A-7 yang berada di dekat pertigaan jalan Flamboyan II. Rumah lokasi tewasnya Azhari masih dibiarkan begitu saja porak poranda.
Semak belukar tumbuh lebat di dalam dan pagar bercat putih dan biru. Gerbang depan yang terbuat dari besi dibiarkan terbuka. Bercak darah yang banyak terlihat di tembok rumah sudah tidak terlihat. Begitu juga tali-tali bekas olah TKP yang dilakukan Densus sudah tidak ada lagi.

Yang ada hanya bekas tembakan di dinding rumah yang terlihat bolong-bolong, bekas adu tembak antara kawanan teroris dengan Densus 88 yang mengepung tempat persembunyian Azhari dan kawan-kawan pada 9 November 2005 lalu.

Berbeda dengan awal penembakan lalu, lokasi tewasnya Azhari bersama dua rekannya itu sudah tidak banyak dikunjungi wisatawan yang datang ke Kota Batu. Masyarakat sekitar yang menjual souvenir berupa potongan gambar berbentuk VCD ataupun kaos dan lainnya, juga sudah tidak ada lagi.

Meski sudah tidak banyak dikunjungi wisatawan, menurut salah satu warga, rumah persembunyian ahli bom yang terlibat bom Bali itu masih kerap dikunjungi wisatawan yang datang dari luar Kota Batu, baik rombongan maupun yang datang sendiri-sendiri.

“Saat liburan masih ada saja wisatawan yang datang berkunjung. Ada juga yang datang rombongan membawa bus,” ungkap Made, warga Flamboyan yang rumahnya berdekatan dengan lokasi penembakan Azhari.

Awalnya, Wali Kota Batu, (alm) Imam Kabul yang menjabat wali kota saat itu, lokasi penyergapan pakar bom yang pernah bekerja sebagai dosen di Universiti Teknologi Malaysia di Johor itu akan dijadikan museum atau monumen untuk mengingatkan berakhirnya petualangan sang teroris. Karena saat itu, lokasinya masih menjadi barang bukti Mabes Polri, rumah itu belum dapat dibeli Pemkot Batu untuk dibangun monumen.

Hanya saja, rencana itu hingga kini belum ada tindak lanjutnya dan kemungkinan besar sulit untuk diwujudkan. Pembangunan monumen di lokasi itu menjadi pro kontra di tengah masyarakat. Banyak yang beranggapan pembangunan monumen di lokasi itu tidak akan berdampak positif bagi Kota Batu. Batu bisa dianggap tidak aman karena pernah menjadi tempat persembunyian teroris. Sebagai kota pariwisata, rasa aman, nyaman harus terbangun dengan baik.

“Hingga kini tidak ada rencana pembangunan monumen atau lainnya di lokasi tewasnya Azhari. Peristiwa itu bukan peristiwa yang baik yang dapat mengharumkan Kota Batu. Jika akan dibangun monumen akan menimbulkan kesan negatif,” terang Wakil Ketua DPRD Kota Batu, Punjul Santoso. (muhaimin/eno) (Muhaimin/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Batu, Indonesia, Malang Raya, Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s