951 Perawat dan Bidan Ikut Ujian Kompetensi

Upaya mengukur kemampuan perawat dan bidan, ratusan bidan dan perawat mengikuti uji kompetensi di DOME UMM kemarin. (Lailatul Rosida/Malang Post)

Upaya mengukur kemampuan perawat dan bidan, ratusan bidan dan perawat mengikuti uji kompetensi di DOME UMM kemarin. (Lailatul Rosida/Malang Post)

Sebanyak 951 orang tenaga perawat dan bidan kemarin mengikuti uji kompetensi sebagai syarat wajib sebelum terjun ke dunia kerja. Ujian yang digelar di DOME Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu sekaligus merupakan alat ukur apakah tenaga kesehatan tersebut layak bekerja sesuai dengan keahliannya. Mengingat maraknya sekolah-sekolah ilmu kesehatan yang terus tumbuh setiap tahunnya.

“Jika tidak lulus dalam uji kompetensi, jelas perawat atau bidan tersebut tidak bisa menjalankan profesinya. Karena syarat untuk berprofesi adalah memiliki surat izin yang dikeluarkan setelah lulus uji kompetensi,” ungkap Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM Drs Atok Miftachul Hudha M.Pd kepada Malang Post, kemarin.

Uji kompetensi yang dilaksanakan di UMM DOME tersebut adalah salah satu syarat yang ditetapkan Depkes bagi tenaga profesional bidang kesehatan untuk mendapatkan surat izin perawat (SIP) dan surat izin bidan (SIB). SIP maupun SIB adalah bukti legislasi yang dikeluarkan Depkes yang menyatakan bahwa perawat ataupun bidan berhak menjalankan pekerjaan keperawatan maupun kebidanan. Untuk memilikinya, harus mengikuti uji kompetensi profesi.

Di Jawa Timur, kegiatan uji kompetensi sejak 2008 dikelola Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi (MTKP) yang dibentuk melalui SK Gubernur yang didalamnya terdiri dari wakil-wakil organisasi profesi kesehatan. Bagi yang lulus mengikuti uji kompetensi maka dinyatakan berhak mendapatkan SIP atau SIB.

“Saya mengusulkan agar pelaksanaan uji kompetensi bisa dilaksanakan di Malang, sebab selama ini uji kompetensi dilaksanakan di Dinkes Provinsi. Sehingga memerlukan waktu dan biaya yang lebih besar. Sejak 2007, Malang menjadi rayon pelaksana ujian ini,” ungkapnya.

Sedangkan materi ujian, kata dia, lebih mengarah pada essay dan kasuistis. Pertanyaan dibuat berdasarkan kejadian yang biasa jumpai perawat atau bidan di lapangan. Jika tenaga kesehatan itu benar profesional, maka mereka akan bisa dengan mudah menjawab soal. (oci/udi)
(Lailatul Rosida/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s