Buruh Star Plastindo Tuntut UMK dan Harian

Dengan menenteng tulisan, sejumlah buruh menyampaikan tuntutan kepada perusahaan. (SIGIT ROKHMAD/MALANG POST)

Dengan menenteng tulisan, sejumlah buruh menyampaikan tuntutan kepada perusahaan. (SIGIT ROKHMAD/MALANG POST)

Puluhan buruh pengerjaan karung di PT Star Plastindo di Jalan Raya Krebet Senggrong, Bululawang, menggelar aksi unjuk rasa kemarin pagi. Dengan difasilitasi Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI), puluhan karyawan yang terdiri dari bagian circulair dan benang, menentang perubahan status dari buruh harian ke buruh borongan yang sudah diberlakukan oleh perusahaan.

Alasannya, pemberlakukan buruh borongan kepada karyawan, membuat gaji mereka menjadi jauh di bawah UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten).

Aksi demo kemarin berjalan lancar meski diwarnai suasana agak tegang. Pasalnya selain berunjuk rasa di pintu pabrik, karyawan atau buruh yang didominasi perempuan itu juga membentang spanduk dengan tulisan bernada cercaan atas sesuatu yang mereka anggap sebagai ekploitasi buruh.

Seperti, berikan sarana antar-jemput buruh perempuan pada jam malam, tolak diskriminasi upah buruh PT Star Plastindo dan bayar kekurangan upah buruh.

“Dengan menjadi buruh harian yang masa kerjanya delapan jam (plus 1 jam istirahat), setiap karyawan dibayar Rp 32 Ribu dengan masa kerja selama enam hari. Namun, dengan jam kerja menjadi buruh borongan, setiap minggunya justru dibayar antara Rp 160 Ribu hingga Rp 170 Ribu. Inilah, yang membuat kami merasa dirugikan,” beber salah seorang buruh Anis Kurniatulfak.

Tentang perubahan status harian ke borongan, menurut perempuan berjilbab ini, perusahaan hanya membicarakan dengan perwakilan buruh. Itupun, katanya, hanya diuji coba selama tiga bulan mulai Maret 2008.

“Nyatanya, sampai sekarang status kami malah tetap menjadi buruh borongan. Kami sendiri sampai melakukan unjuk rasa, karena selama ini masih mencoba mengeman perusahaan. Apalagi, perusahaan juga kerap mengintimidasi. Baik itu seperti sampai mem-PHK karyawan ketika melakukan unjuk rasa sekitar Agustus 2006. Termasuk, menutup perusahaan selama seminggu pada Juli 2007. Intinya, kami melakukan unjuk rasa ini hanya ingin dikembalikan menjadi buruh harian,” ungkapnya lagi.

Menanggapi aksi karyawannya, Kepala Bagian Personalia Yudi Wikanto didampingi Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk, Djaka Hari Ritamtama bersama perwakilan buruh yang difasilitasi SPBI Bambang Edi Sucipto, akhirnya melakukan pertemuan.

Dalam pertemuan itu, perusahaan menjamin untuk gaji karyawan nantinya sesuai UMK. Hanya saja, mengenai permintaan menjadi buruh harian, masih akan dibicarakan kembali melalui pertemuan Tri Partit yaitu antara pihak Pemerintah, serikat buruh dan pengusaha.

“Untuk gaji, perusahaan menjanjikan UMK. Namun untuk perubahan ke buruh harian, ini masih akan dibicarakan kembali,” kata Djaka diakhir pertemuan.(sit/eno) (Sigit Rohnad/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s