Hasil-hasil Quick-Count Picu Ketegangan Politik Baru

Ekskalasi politik pasca coblosan pilgub putaran II di Surabaya, terus meningkat. Data perolehan sementara produk lembaga survey, terus menjadi bahan perdebatan diantara kedua kubu. Sampai-sampai pejabat sekelas Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim harus ikut angkat bicara.

Muhammad Nuh, Menkominfo menyebutkan, secara riil data quick count yang dikeluarkan lembaga survey di Indonesia, tidak bisa dijadikan pembenar kekalahan atau kemenangan pasangan Pilgub yang bertarung, 4 Nopember lalu. Dengan kata lain, angka yang quick count tidak bisa dijadikan jaminan sebagai cermin angka hasil akhir.

‘’Angka quick count itu diambil secara acak dari beberapa TPS (Tempat Pemungutan Suara) sebagai sample-nya. Ini yang perlu dimengerti masyarakat, agar tidak terlalu menggantungkan quick count untuk mengukur kemenangan atau kekalahan,’’ pintahnya di Sheraton Hotel, Kamis siang.

Berangkat dari kondisi itu juga, mantan Rektor ITS ini minta agar salah satu pendukung calon yang ikut Pilgub Putaran kedua tidak mengintervensi kinerja KPU. Sebagai lembaga independen dan paling bertanggung jawab terhadap hasil pemungutan suara, hendaknya KPU diberi kebebasan untuk bekerja.

‘’Hati-hati, kalau quick count ini tidak dimengerti secara benar, justru bisa menimbulkan beda pendapat atau muncul esensi negative yang tidak kita inginkan bersama. Karena itu, biarkan KPU bekerja, beri KPU kebebasan sebelum mengumumkan secara resmi, siapa pemenang pilgub putaran kedua ini,’’ ujarnya.

Senada dengan menteri, MUI Jatim, lembaga resmi yang biasanya mengurusi soal keagamaan ini melihat, kalau quick count itu sebetulnya hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang cepat. Tetapi, kecepatan penghitungan suara dari quick count bukan angka resmi kemenangan atau kekalahan seseorang.

‘’Masyarakat harus sadar, kalau lembaga resmi yang menetapkan perolehan suara pilkada itu bukan lembaga survey. Tetapi, Komisi Pemilihan Umum atau KPU sebagai lembaga sah yang ditunjuk undang-undang dan pemerintah,’’ papar Abdusshomad Buchori, Ketua MUI Jatim di kantornya, kemarin siang.

Di sisi lain, Abdusshomad juga mengingatkan, agar kubu kedua calon yang bertarung, baik Khofifah atau pun Soekarwo, bisa bertindak bijaksana dan legowo. Artinya, jika KPU secara resmi menetapkan hasil pilgub putaran kedua, maka siapa yang kalah harus legowo dan siapa yang menang jangan sombong.

‘’Jangan kemudian yang kalah malah emosi dan bisa memancing anarkisme. Apalagi main hakim sendiri yang ujung-ujungnya bisa memancing lawan untuk ikut-ikutan emosi juga. Kalau siap menang, juga harus siap kalah,’’ pintahnya.

Ungkapan MUI diperkuat Philip K Wijaya. Sekjen DPP Perwakilan Umat Budha (Walubi) ini berharap agar situasi Jatim tetap kondusif seperti sebelum-sebelumnya. Jangan karena perbedaan pendapat akibat munculnya quick count menjadi pemicu tidak amannya situasi di Jatim.

‘’Yang benar, kami pikir bagaimana caranya kita sama-sama mengawasi penghitungan yang sekarang ini tengah berjalan. Semua pihak, baik masyarakat atau pun kubu kedua cagub/cawagub sama-sama mengikuti dan menggawasi,’’ papar Philip, yang juga direksi PT Samator ini. (has/avi)
(Hary Santoso/malangpost)

Iklan

1 Komentar

Filed under Berita, Indonesia

One response to “Hasil-hasil Quick-Count Picu Ketegangan Politik Baru

  1. Ping-balik: Pasangan Kar-Sa Dinyatakan Menang oleh KPUD, Quick-count Salah, LSI Kalah « Kota Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s