Jalan Umum Kok Pasang Tarif!

Mencuatnya kembali persoalan tentang status jalan tembus Universitas Brawijaya (UB) mengundang polemik di masyarakat dan mahasiswa. Disatu pihak, masyarakat mempertanyakan kesaktian UB yang memagari jalan umum. Di pihak lain, mahasiswa UB khawatir bila jalan tembus dibuka untuk umum berdampak hilangnya kenyamanan kampus.

Setelah anggota DPRD Kota Malang angkat bicara tentang status jalan tembus itu, kemarin warga sekitarnya pun mulai mempertanyakan sikap UB. Warga bagaikan dibuka matanya oleh dewan yang membicarakan tentang status jalan tembus itu.

Sejumlah warga sekitarnya, diantaranya Sumbersari mempertanyakan kebijakan memagari jalan sepanjang 500 meter itu. ‘’Kalau jalan umum, kenapa Brawijaya (UB) pasang tarif?’’ kata Budi Santoso, warga Sumbesari.

Warga lainnya, Marno yang tinggal disekitar kompleks UB juga mempertanyakan biaya yang ditarik UB. ‘’Kalau jalan umum, kok seperti jalan tol saja ya. Memang katanya bayar parkir, tapi kan banyak orang lewat situ (jalan tembus) agar tidak mutar-mutar bila ingin ke arah Jalan Sokerano Hatta,’’ katanya.
Seperti diketahui, selama ini tidak hanya mahasiswa saja yang menggunakan jalan tembus itu untuk masuk ke areal kampus. Masyarakat umum pun biasa menggunakan jalan tembus itu untuk meringkas jarak.

Cukup dengan membayar Rp 1.000 untuk motor dan Rp 2.000 untuk mobil, perjalanan dari kawasan Sumbesari dan sekitarnya menuju arah Blimbing bisa diringkas melalui jalan tembus itu.

Budi dan Marno mengaku baru mengetahui status jalan tembus itu sebagai jalan umum setelah ramai diberitakan Media Massa. Mereka pun terheran-heran, apalagi status jalan umum itu diatur dalam perda 7 tentang RTRW.

‘’Kalau jalan umum ya dibuka saja untuk umum. Kan hanya lewat dalam kampus saja. Masyarakat umum tidak ganggu kegiatan kampus kok,’’ kata Marno. Dia berharap, jalan tembus itu dibuka untuk umum sehingga meringkas jarak dari Jalan Veteran menuju kawasan Blimbing.

Sementara, sejumlah mahasiswa Unibraw keberatan bila jalan tembus itu dibuka untuk umum. Keamanan dan kenyamanan perkuliahan di kampus. Kekawatiran curnamor hingga ancaman kemacetan di perempatan Jalan Soekarno Hatta-Jalan MT Haryono merupakan alasan mahasiswa agar jalan tembus itu tidak dibuka untuk umum.

‘’Wah kalau dibuka untuk umum, pasti saja setiap hari motor mahasiswa bisa dicuri. Kuliah tidak aman,’’ kata Yande, mahasiswa FE UB.

Menurut dia, dengan dipagari sudah aman bagi mahasiswa.

Mahasiswa lainnya mengaku lebih nyaman dengan jalan yang dipagari itu. ‘’Kalau dibuka untuk umum, jangan-jangan jadi tempat trek-trekan sepeda motor,’’ kata Silvi, mahasiswi UB.

Mahasiswa lainnya beralasan kalau jalan tembus itu dibuka, arus lalu lintas di perempatan Jalan Soekarno Hatta-Jalan MT Haryono bakal amburadul. ‘’Sekarang saja sudah macet. Kalau dibuka untuk umum, tambah macet,’’ katanya.

Mereka juga mempertanyakan kenapa sekarang status jalan tembus itu diungkit-ungkit. ‘’Kenapa tidak dari dulu-dulu? Kok sekarang diungkit seperti itu,’’ tanya Silvi sengit. (van/avi)
(vandri/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s