GHIPPA Tirtasari mewakili Bakorwil III Malang dalam lomba HIPPA tingkat Provinsi

Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (GHIPPA) Tirtasari Kabupaten Malang mewakili Badan Koordinasi Wilayah III Malang dalam lomba HIPPA tingkat Provinsi Jawa Timur. Dalam lomba itu GHIPPA Tirtasari bakal melawan HIPPA dari tiga badan koordinasi lainnya, yaitu Bakorwil I Madiun, Bakorwil II Bojonegoro dan Bakorwil IV Pamekasan.

Ketua GHIPPA Tirtasari Kunawi optimis bakal menjadi pemenang HIPPA tingkat Provinsi kali ini. Pasalnya, pihaknya telah memimpin perolehan nilai dalam sesi pemaparan HIPPA di Kota Batu beberapa waktu lalu. Sehingga saat ini, GHIPPA tengah menunggu penilaia lapangan tanggal 11 November mendatang.

“Kita optimis menang, karena sudah menjadi Juara I dalam sesi pemaparan di Kota Batu beberapa waktu lalu. Dalam penilaian lapangan, lawan berat kita wakil dari Bakorwil I Madiun yaitu Kabupaten Blitar,” ujarnya ditemui di Balai Desa Glanggang Pakisaji, kemarin.

Guna mempersiapkan penilaian tersebut, kemarin seluruh anggota HIPPA mengikuti evaluasi yang dipimpin Bakorwil III Malang dan Plt Sekda Kabupaten Malang Abdul Malik. Rencananya, tim penilai lomba HIPPA Provinsi Jawa Timur bakal diarahkan ke Desa Glanggang Kecamatan Pakisaji.

“GHIPPA ini merupakan gabungan HIPPA dari 10 desa yaitu Kebonagung, Karangpandang, Jatirejoyoso, Glanggang, Mojosari, Genengan, Ardirejo, Ngadilangkung, Dilem dan Kepanjen,” imbuh Kunawi.
Dia menambahkan, jumlah petani yang tergabung dalam GHIPPA sebanyak 829 orang dengan total lahan mencapai 879 hektar. Menurut Kunawi. Lahan terluas berada di desa Jatirejoyoso sekitar 209 hektar dimiliki oleh 300-an petani. Menurutnya, GHIPPA maju ke lomba Provinsi karena berhasil menjadi juara berkali-kali.

“Tahun 2005 kita menjuarai lomba Kabupaten, lantas tahun 2006 menjadi Juara II di Bakorwil III. Kita maju ke Provinmsi setelah menjadi juara I di Bakorwil III tahun 2007 lalu,” terang Kunawi.
Terpisah, H. Abdul Sykuru (50 tahun) selaku Mantri Pengairan Kabupaten Malang dan pembina GHIPPA Tirtasari mengatakan sistem eksploitasi pengairan GHIPPA memanfaatkan daerah irigasi (DI) sungai Metro. Melalui DI tersebut GHIPPA lantas meneruskan pembagian air melalui Jaringan Irigasi (JI) Sonosari. Selama ini, pembagian air cukup kondusif karena pengurus memakai Rencana Tata Tanam Global (RTTG).

“RTTG ini ada dalam AD ART, sehingga para petani harus mengikuti pembagian pola tanam. Pola ini berdasarkan penghitungan jumlah iar serta kebutuhan di tiap baku lahan. Sehingga ditetapkan pola tanam pada musim kemarau, 60 persen untuk padi, sisanya untuk palawija,” pungkasnya.(ary/eno)
(Ary Wicaksono/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s