Pemerintah Berencana Naikkan Cukai, Buruh Pabrik Rokok Kecil Terancam

Pekerja wanita bekerja di pabrik rokok sigaret kretek mesin (SKM) Bentoel (TEMPO/ M Taufiqurohman)

Pekerja wanita bekerja di pabrik rokok sigaret kretek mesin (SKM) Bentoel (TEMPO/ M Taufiqurohman)

Rencana pemerintah pusat menaikkan cukai rokok tahun depan, langsung mengundang keluhan para pengusaha rokok kecil. Nasib buruh pabrik rokok pun, jadi pertaruhannya. Ketua Asosiasi Perusahaan Rokok Kecil Indonesia (Asperki) Malang, H Ali Dja’far mengatakan, pihaknya segera mengumpulkan para pengusaha rokok kecil untuk membicarakannya.

‘’Nanti akan dibahas bersama teman-teman (anggota Asperki) tentang hal itu (kenaikan cukai, Red.). Kalau sudah dibahas akan disampaikan (diberi penjelasan kepada pers),’’ kata Ali Dja’far yang dihubungi melalui ponselnya, kemarin siang.

Lebih lanjut dia mengatakan, kebijakan pemerintah menaikan cukai rokok antara 6-7 persen, akan memberatkan perusahaan rokok. Sebab tidak ada pilihan lain selain menaikan harga jual rokok. Sementara saat ini, kata dia, perekonomian Indoensia sedang lesu.

Dja’far mengatakan, kenaikan cukai rokok akan sangat dirasakan oleh perusahaan rokok kecil. Sebab tingkat penjualan rokok bisa saja mengalami penurunan lantaran harga jual rokok akan naik.

Tidak hanya perusahaan saja yang merasakan dampaknya. Buruh pabrik rokok pun, kata pemilik PR Adi Bungsu ini, akan ikut merasakan dampak kebijakan menaikan cukai rokok.

Ini karena kenaikan harga rokok, bisa memicu turunnya penjualan rokok. Dalam waktu bersamaan, buruh pabrik rokok pun terancam kehilangan pekerjaan hariannya.

Ali Dja’far mengatakan, umumnya para buruh perusahaan rokok bekerja berdasarkan order. Kalau harga jual rokok naik, sementara perminataan pasar menurun, berarti order kerja buruh akan langsung berkurang.

‘’Jadi itu (kebijakan menaikan harga cukai rokok) akan berdampak juga pada buruh. Mereka selama ini bekerja berdasarkan order,’’ katanya sembari mengakhiri pembicaraan karena sedang rapat.
Sementara itu di Kabupaten Malang, kenaikan cukai rokok sekitar 6-7 persen sudah diketahui pengusaha. Di Kabupaten Malang, terdapat sekitar 374 industri rokok yang terbagi dalam tiga klasifikasi. Industri besar 16 unit, industri menengah 54 unit dan industri kecil sebanyak 304 unit.

Ketua Paperki (Paguyuban Pengusaha Rokok Kecil Indonesia) Muhammad Geng Wahyudi menyatakan, kenaikan cukai tersebut masih dalam batas wajar.

Pasalnya, para pengusaha rokok masih bisa menyesuaikan dengan pasar. Geng menganggap, kenaikan sebesar 6-7 persen masih memberi ruang gerak pengusaha rokok kecil dalam penetrasi pasar. ‘’Saya anggap ini dalam batas wajar, masih bisa diterima,’’ ujarnya saat menelepon Malang Post semalam.

Namun Geng mencatat, kenaikan itu masih diterima, asalkan tidak ada kenaikan spesifik. Sementara ini beredar rumor, kenaikan cukai itu diikuti dengan naiknya harga tiap batang rokok. Pasalnya, selama krisis global ini para pengusaha rokok sudah terbeban naiknya harga saos rokok serta material lainnya.
‘’Jangan pula kenaikan ini dilakukan sedikit demi sedikit, artinya bulan depannya sudah naik lagi. Kita (pengusaha rokok) sudah cukup dikagetkan kenaikan sesuai Permenkeu 134 tahun 2007 lalu sebesar 1200 persen,’’ urai Geng.

Geng mencatat, dari 194 anggota Paperki, sekitar 47 perusahaan dalam kondisi mati suri. Sehingga terkait kenaikan cukai ini, dia juga menunggu informasi jelas dari bea dan cukai. Prinsipnya 6-7 persen masih masuk akal, dan pengusaha bisa menerima. (van/ary/avi) (Vandri van Battu/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s