Penambangan Sirtu Liar Jalan Terus

alah satu tambang sirtu liar di aliran Sungai Brantas berdampak pada ekosistem air dan lingkungan secara keseluruhan (IRA RAVIKA/MALANG POST )

alah satu tambang sirtu liar di aliran Sungai Brantas berdampak pada ekosistem air dan lingkungan secara keseluruhan (IRA RAVIKA/MALANG POST )

Ini peringatan keras terhadap para penggali Pasir dan Batu (sirtu) di wilayah Kota Batu. Pihak Satpol PP, mengancam bakal mempidanakan para penggali sirtu yang tetap beraktifitas melakukan penggalian. Apalagi seluruh lahan penggalian sirtu tersebut, tak satu pun yang mengantongi izin dari Pemkot Batu.

“Memang sampai saat ini belum ada Perda yang mengatur terkait dengan larangan penggalian. Namun jika penggalian tersebut sangat merugikan dan membahayakan warga lainnya, kami pun bisa bertindak tegas. Dalam KUHP pun juga ada pasal yang mengatur,’’ terang Kasi Trantip Satpol PP Pemkot Batu, Bambang Suyono SaB, kepada Malang Post kemarin.

Bambang yang ditemui di ruang kerjanya ini mengaku, masih memakai cara persuasif untuk mengatasi masalah galian sirtu liar ini. Yaitu melakukan pendekatan terhadap para penggali sirtu. Harapannya dengan cara tersebut, para penggali lebih memahami dari pada langsung menggunakan kekerasan. Memang benar, satu dua hari penggali memahami, namun selanjutnya, penggali kembali beraktifitas, melakukan penggalian.

Ancaman mempidanakan penggali sirtu itu, disebutkan Bambang terutama galian sirtu di atas aliran irigasi, dan kondisi lahan yang sudah tidak memungkinkan. “Dampaknya sangat jelas. Jika penambangan itu terjadi di atas aliran irigasi maka aliran airnya tidak maksimal. Awalnya air itu arusnya besar, tapi sampai di hilir, atau tepat untuk mengaliri irigasi bisa jadi aliran airnya sudah sangat kecil,’’ tambah Bambang.

Galian sirtu yang ada sejauh ini sangat rentan bencana. Malah ada yang sudah memakan korban jiwa. Itu karena tanah di atas galian sirtu longsor. “Sudah ada contohnya di galian sirtu daerah Junrejo, meninggal satu korban, dan Juni kemarin, di oro-oro ombo, juga mengakibatkan korban patah tulang,’’ tambah Bambang sambil mengatakan di wilayah Kota Batu ini ada sekitar 60 tambang sirtu liar.
Itu sebabnya, para penggali sirtu sendiri diharapkan bisa memahami. Tidak hanya sekadar menggali hanya karena urusan perut, namun juga diharapkan memperhatikan dampaknya secara serius.

Ketika dikonfirmasi soal aturan ini, para penggali sirtu mengaku keberatan. “Kami bekerja menggali ini sudah puluhan tahun, sejak tahun 1982 lalu. Dan ini merupakan pekerjaan satu-satunya. Jika penggalian ini dilarang, lalu kami bekerja apa?’’ kata Imam salah satu penggali sirtu di wilayah Junrejo kemarin.(ira/lim) (Ira Ravika/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Batu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s