Bertandang Ke Kampungnya Amrozi

Bertempat tinggal di kawasan Lamongan, khususnya di seputaran Paciran, pada saat-saat sekarang mungkin akan sangat menyiksa. Mengapa, karena jika siang hari harus melawan serbuan lalat dan di malam hari harus perang terhadap serbuan nyamuk.

Seperti yang kami alami di dusun Solokuro, desa Tenggulun, Paciran ini. Jika siang hari, harus menghadapi serbuan lalat yang jumlahnya sangat banyak sekali. Tidak hanya saat makan, mereka juga menggerayangi kami ketika mengetik berita atau sedang tidur-tidur sembari menunggu momen. ”Susah, mau tidur sejenak nggak bisa. Laler (lalat)-nya ngrepoti,’’ keluh Nurdiansah, fotografer Malang Post.

Menurut warga, ternyata kehadiran lalat sekarang ini disebabkan karena masa panen mangga. Kawasan Lamongan yang dikenal ditumbuhi subur pohon mangga sebagai salah satu penghasilan penduduknya, jika musim panen seperti sekarang mengundang lalat untuk hadir.

‘’Mau bagaimana lagi. Kita sudah berusaha mengusirnya, tetapi tidak bisa. Jumlahnya mas tahu sendiri cukup banyak sekali. Dan ini terjadi setiap musim mangga,’’ tutur ibu Jumariyah, pemilik warung yang lokasinya berdekatan dengan posko wartawan peliputan eksekusi Amrozi cs.

Saking banyaknya, sampai-sampai, ruang tempat wartawan dan kami berkumpul tidak pernah terbuka pintunya. Begitu pintu terbuka, lalat dengan leluasa akan masuk. Termasuk jika sembarang membuka pintu mobil. Lalat akan mbulet masuk dalam mobil.

‘’Tidak hanya makanan atau minuman, menungso jadi sasaran empuk lalat mencari kehidupan. Padahal, kita baru saja mandi,’’ tukas Puli, salah satu fotografer kantor berita asing, yang juga hadir meliput kondisi Solokuro.

Sementara itu jika malam hari mulai tiba, persoalan yang hampir sama siap menghantui kami dan wartawan serta warga pada umumnya. Tidak stabilnya iklim di kawasan Lamongan, jika malam nyamuk cukup banyak sekali. Tidak hanya ketika tidur, nyamuk-nyamuk yang tidak jelas dari mana datangnya ini menganggu kami dalam bekerja.

Saat malam hari, tidak banyak wartawan yang bisa tidur nyenyak. Selain tetap harus menjaga insting menunggu kejadian yang setiap saat bisa terjadi, harapan untuk hidup tenang tanpa gangguan binatang sejak pagi hingga malam hari tidak pernah kesampaian.

Suasana penerangan di Solokuro juga tidak terlalu terang. Jalan desa yang menjadi akses utama, hanya sedikit terpasang lampu neon. Selebihnya adalah kondisi gelap. ‘’Ini yang menjadikan nyamuk di sini gemuk-gemuk,’’ papar rekan-rekan kami.

Gangguan di atas menjadi sangat menjengkelkan, manakala tiba-tiba ada pertemuan di rumah Ny. Tarmiyem. Pasalnya, mulai Jumat malam, wartawan tidak lagi bisa mendekati rumah yang menjadi perhatian internasional ini. Jika ada pertemuan di dalamnya, para wartawan sudah dihadang ‘pasukan khusus’ dari ponpes Alislam di ujung gang yang cukup gelap.

‘’Suroboyo juga banyak nyamuknya. Tapi nggak koyo’ nyamuk Solokuro. Sudah kerja semakin dibatasi aturan-aturan yang tidak jelas, nyamuke melok-melok ngrepoti,” keluh Eric, fotografer KBN Antara berkulit gelap ini. (hary santoso) (harry santoso/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s