Amrozi dan Mukhlas Dikubur di Kebun Mangga

makam-amrozi
Mayat Amrozi dan Mukhlas, sekitar pukul 15.00 WIB, telah dimakamkan di pemakaman ’khusus’ di atas kebun mangga milik keluarganya.

Dipilihnya lokasi pemakaman ini karena permintaan banyak pihak yang menginginkan agar Amrozi dan Mukhlas tidak dikubur seperti umumnya warga Solokuro.

Bahkan rencana mendampingkan keduanya dengan jasad ayahnya H. Nur Hasyim, yang dimakamkan di sisi kiri lokasi pemakaman Amrozi dan Muhklas, juga dibatalkan. Alasan mereka, karena keduanya adalah pejuang Islam yang meninggal dalam keadaan mati sahid.

Sejak pukul 09.00 WIB, sekitar 30 orang pendukung dan simpatisan bahu membahu menyiapkan lubang kuburan untuk kedua bomber. Mengambil tempat persis di tengah-tengah sebidang tanah seluas kurang lebih 450 m2, dua lubang dibuat dengan ukuran sama, berjajar.

Sekitar 20 orang menggali dua lubang dan sisanya membuat batu nisan dari bahan batu gamping, yang biasa dimanfaatkan untuk dinding rumah warga. Untuk mengali kedua lubang kuburan bukanlah pekerjaan mudah. Karena tanahnya mengandung batu cadas yang cukup keras.

Penggalian lubang dibuatkan dengan ukuran 50 cm x 1,5 meter dengan kedalaman 2 meter. Tetapi tidak ditentukan secara khusus, mana liang untuk Amrozi dan mana liang untuk Mukhlas. Jarak kedua liang sekitar 1 meter dan penguburan dilakukan secara bergantian.

Di tubuh empat pohon mangga yang mengayomi kedua kuburan, dua pohon ditempelkan tulisan Di sini Makam Pejuang Islam dan dibawahnya diberi gambar dua belah pedang dengan diujungnya terdapat bendera putih. Sedang di depan pintu masuk makam juga dituliskan kata-kata yang sama dengan huruf lebih besar.

Menariknya, proses pembuatan liang lahat ini disaksikan ratusan bahkan ribuan warga yang ingin menyaksikan proses pemakaman. Tetapi, warga tidak bisa mendekat melainkan harus menonton dari jarak kurang lebih 20 meter di atas tanah pembatas kebun mangga dan lahan kosong.

Jumlah massa bertambah lebih banyak manakala kedua jenazah memasuki kuburan. Selain datang dari para pendukung Amrozi dan Mukhlas, ribuan manusia yang memadati pemakaman disebabkan datangnya warga dari berbagai pelosok Lamongan.

Sementara itu dari Serang dilaporkan, jenazah Imam samudra, terdakwa mati kasus Bom Bali I, dimakamkan kemarin sekitar pukul 10.00. Salah satu dari trio bomber ini, dimakamkan di samping ayahnya, Sihabuddin, di permakaman Kramat Lopang Gede, Kelurahan Lopang, Kota Serang, Banten.
Jenazah pria bernama asli Abdul Aziz itu tiba di Serang sekitar pukul 07.00 dan langsung diantar ke rumah mertuanya di Perumahan Pasir Indah, Cinanggung, Serang.

Iring-iringan warga yang mengantarkan jenazah Imam memadati ruas jalan Kota Serang. Dalam perjalanan, gema takbir terus menggema. Sebelum dikubur, jasad Imam Samudra disalatkan terlebih dahulu di rumah orangtua istrinya, Zakiah Darajad.

Lantaran banyaknya warga yang ingin mengantarkan Imam Samudra, membuat jalan macet sekitar tiga kilometer. Jalan-jalan yang dipadati itu terutama Jalan Raya Banten Lama Kebaharan yang menuju ke TPU Lopang Gede, Serang, Banten. Arus lalu lintas yang dibuka pun hanya satu jalur, yaitu lajur yang mengarah ke Pasar Rau. Beberapa warga ada yang nekat memanjat pohon untuk melihat mobil yang membawa jenazah Imam Samudra.

Sesuai wasiat Imam Samudra, jenazahnya minta dimakamkan tak jauh dari makam ayahnya, almarhum Sihabuddin yang meninggal pada tahun 2006. Imam dalam wasiatnya juga meminta agar dikubur tak jauh dari rumah ibu kandungnya, Umi Embay Badriah.

Umi Embay serta kakak dan adik kandung almarhum Imam ikut menguburkan. Begitu juga istri Imam Samudra, Zakiah Darajad, serta putra-putrinya. Gema takbir diteriakkan berkali-kali saat jasad Imam Samudra dimasukkan ke liang lahat.

Jenazah Imam Samudra dikuburkan tidak menggunakan peti, tetapi dikubur seperti biasa dengan menggunakan keranda yang digotong oleh keluarga dan warga setempat dari Masjid Al Manar menuju tempat pemakaman yang berjarak kurang lebih 300 meter.

Pelayat yang sudah menunggu sejak pagi di areal permakaman Kampung Lopang Gede seluas kurang lebih 1 hektar ini terlihat saling berebutan untuk bisa mendekat ke makam Imam Samudra. Abu Jibril dari Forum Ummat Islam memimpin prosesi pemakaman. (has/jpnn/avi) (Hary Santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s