Jelang Pemakaman Mukhlas-Amrozi, Brimob dan Laskar Jihad Bentrok

Suasana penyambutan jenazah Mukhlas - Amrozi (Hary Santoso/malangpost)

Suasana penyambutan jenazah Mukhlas - Amrozi (Hary Santoso/malangpost)

Pemerintah ternyata lebih tegas menghadapi segala tuntutan keluarga besar terpidana mati Amrozi dan Mukhlas. Keinginan keluarga agar pemerintah menunda eksekusi sampai istri-istri dan anak-anak terpidana mati dipertemukan, tidak digubris sama sekali.

Minggu dinihari, sekitar pukul 00.15 WIB, trio bomber Bom Bali I resmi ditembak mati tim Brimob Polda Jateng. Ketiganya dieksekusi di LP Nirbaya di kompleks LP Nusakambangan Cilacap sesuai UU No. 5 Tahun 1969. Eksekusi ini sekaligus bukti keteguhan pemerintah atas ancaman berbagai pihak.

Setelah dilakukan penanganan seperlunya, jenazah Imam Samudra langsung diterbangkan ke Serang Banten Sedang, jenazah Amrozi dan Mukhlas diberangkatkan ke Solokuro, Tenggulun, Lamongan dan tiba di rumah duka, persis 09.27 WIB.

Begitu sampai di depan mulut gang rumahnya, dua ambulans bersisi jenazah dua bomber kakak beradik ini, tidak bisa langsung masuk rumah. Sebab, ratusan pendukung Amrozi dan Mukhlas memblokade jalan masuk sepanjang kira-kira 30 meter menuju rumah Tarmiyem, ibunda kedua bomber ini.

Melihat kondisi ini, sekitar satu kompi pasukan Brimob bersenjata laras panjang dari Polwil Bojonegoro berusaha untuk membuka blokade ini. Tetapi, upaya yang sempat melukai seorang Brimob ini gagal total, karena barikade Laskar Jihad dan simpatisan Amrozi dan Mukhlas lebih kuat.

Bahkan, setelah sempat bentrok fisik saling dorong antara Brimob dan barikade Laskar Jihad, seorang anggota Brimob mengalami luka-luka dibagian mulutnya, akibat dihantam batu salah satu anggota Laskar. Melihat situasi tidak menguntungkan ini, Brimob memilih tidak meneruskan.

Jalan menuju ke rumah Ny. Tariyem baru dibuka setelah Kapolres Bojonegoro Noer Ali memberikan pengarahan terkait kedatangan dua jenzah, yang mereka tunggu-tunggu. Setelah itu Ustad Chozin kakak Amrozi dan Muhklas ganti meminta Laskar Jihad memberikan jalan ambulans menuju rumah duka.

Begitu dua ambulan pembawa jenazah dan mobil dinas Noer Ali masuk, barikade langsung ditutup kembali. Bahkan, Brimob yang semua menduduki separoh badan jalan menuju rumah Tariyem, dipukul mundur barisan laskar jihad, hingga diujung gang masuk.

Dari pantauan Malang Post di dalam ambulans sebelum masuk ke rumah duka, diketahuii ternyata mayat kedua bomber yang dikirim menggunakan heli dan turun di helipad di kawasan Solokuro dalam kondisi tanpa peti mati. Keduanya, ditempatkan di dalam keranda dengan ditutup kain warna hijau.

Jenasah Amrozi ditempatkan di tengah-tengah ambulan bernopol S 9996 TA diapit keluarga yang menyertainya dari helipad. Sedang mayat Mukhlas berada diambulan bernopol S 8084 JP persis dibelakang ambulans pertama.

Besar kemungkinan, keberadaan peti mati itu sudah ditukar ketika dilakukan serah terima jenazah dengan pihak keluarga yang diwakili ustad Chozin, ketika berada di helipad.

Di sisi lain, merapatnya dua ambulan tanpa kawalan petugas sampai di depan rumah, sekaligus merupakan keuntungan bagi keluarga Amrozi dan Mukhlas.

Jika sebelumnya mereka mengkuatirkan tidak bisa merawat keduanya secara syariat Islam karena ultimatum Kapolwil Bojonegoro, maka tidak demikian kemarin siang.

Seluruh istri dan anak-anak dan handai taulan Amrozi dan Mukhlas dengan tenang dan tanpa buru-buru bisa merawat dan mensalati kedua jenazah diluar kawalan petugas. Tetapi tidak tampak kegiatan memandikan kembali kedua jenazah. Setelah seluruh keluarga bisa memandangi kedua jenazah langsung diganti kafan dan diangkut menuju masjid Baitul Mutaqin, yang jaraknya hanya 20 meter dari rumah dukua.

Secara bergantian para simpatisan dan pendukung Amrozi dan Mukhlas mensalati kedua jenazah ini. Sayang, sejak awal sebelum sampai jenazah dibawa ke pondok Alislam, wartawan tidak memiliki kebebasan untuk meliput perawatan jenazah.

Setelah dirasakan cukup, sekitar pukul 13.00 WIB dua keranda bomber ini langsung diangkut dari masjid menuju ponpes Alislam. Lambatnya keberangkatan dari masjid menuju ponpes karena masih harus menunggu kedatangan Abubakar Baasyir, pimpinan Majelis Mujahidin Islam perjalanan dari kunjungannya di Situbondo.

Begitu sampai di ponpes tempat Amrozi dan Mukhlas dahulu pernah menimba ilmu keislaman, langsung disambut keluarga besar ponpes yang sudah menunggu sejak kabar eksekusi akan dilakukan.
Di sini, kedua jenazah kembali dilakukan salat jenzah dipimpin Abubakar Baasyir. Setelah dirasakan cukup, keduan jenazah diberangkat ke TPU Tenggulun diiiringi ribuan pelayat. (has/avi)
(Hary Santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s