Pengamanan Pemakaman Dua jenazah bomber Lebih Menegangkan Daripada Pak Harto

solokuro-brimobSemboyan bahwa pers atau wartawan atau jurnalistik tidak terbatas waktu dan ruang, tidak berlaku di Solokuro, Tenggulun, Lamongan. Buktinya, aktifitas wartawan cetak dan televisi, baik dalam negeri atau pun asing, benar-benar dikebiri saat meliput proses kedatangan dan pemakaman dua bomber Bali I, yang menewaskan sekitar 211 orang ini.

Meski pihak panitia, yang dikomandani jamaah dan santri Ponpes Alislam telah memberikan ID Card (kartu liputan khusus) ternyata tidak ada gunanya. Gerak-gerak wartawan, nyaris tidak ada sama sekali untuk meliput dengan bebas proses pemakaman Amrozi dan Mukhlas, yang menjadi sorotan dunia.
Sampai-sampai untuk mengambil foto jenazah yang berada di dalam ambulans, wartawan harus menerima ancaman laskar jihad, yang dipandegani FPI asal Solo. Tercatat ada empat lokasi yang dijadikan areal larangan bagi semua wartawan untuk meliput acara ini.

Bagaimana jika dilawan?

‘’’Mereka tidak segan-segan akan membanting kamera kita. Lebih baik kita ngalah, dari pada mengganti kameranya kantor,’’ papar reporter SCTV ketika hendak mengambil gambar keberangkatan jenazah dari rumah Tarmiyem menuju ponpes.

Hal serupa dialami seluruh fotografer, termasuk fotografer Malang Post yang mendapat acungan bogem, ketika hendak ‘mencuri’ kegiatan didalam ponpes saat jenazah sudah berada didalamnya. Yang lebih menyakitkan, karena hendak dilakukan sweeping ala FPI, seluruh jurnalis di areal Solokuro memilih hengkang dan tidak kembali lagi.

Lokasi lainnya juga dialami Malang Post ketika berada di areal pemakaman. Ketika proses pembuatan liang lahat tengah dilakukan, dua orang anggota FPI dengan kepala dibalut tulisan ‘Keluarga Syuahda’ minta agar Malang Post tidak mengambil foto orang-orang yang sedang mengerjakan liang lahat.
‘’Tidak boleh difoto, ini pesan keluarga. Tolong, sama-sama kita jaga situasi agar tetap kondusif,’’’ kilah seorang laskar jihad dengan mata melotot.

Peringatan ini ternyata tidak guyononan. Ketika kami berusaha mengambil foto dengan cara mencuri-curi, laskar jihad tadi kembali mendatangi sembari mengeluarkan ancaman.

Sehari sebelum kedatangan jenazah, kami juga sempat diuber-uber laskar jihad yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Tanpa alasan dan dasar hukum yang jelas, mereka dengan seenaknya mengusir dan mengacungkan bogem kepada kami dan wartawan lain. Malah kami sempat dikejar-kejar oleh mereka.

Pendek kata, banyak sekali perlakuan tidak pada tempatnya diterima wartawan, yang rata-rata sudah seminggu berada di Solokuro. Padahal, liputan pemakaman mantan Presiden Soeharto yang melibatkan ratusan jenis tenaga pengaman, tidak seketat ini.

Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) yang selama ini dikenal garang, tidak pernah mengusir apalagi melarang wartawan mengambil gambar atau foto. Selama identitas wartawan sudah terpenuhi dan diketahui petugas setempat, wartawan pun pasti akan memilih bertindak sopan.
(Hary Santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s