Makam Cina Terancam Bongkar Paksa

Warga Dusun Kebonsari Desa/Kecamatan Tumpang memprotes pembangunan kuburan Cina yang diklaim diatas lahan Kas Desa, kemarin. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)

Warga Dusun Kebonsari Desa/Kecamatan Tumpang memprotes pembangunan kuburan Cina yang diklaim diatas lahan Kas Desa, kemarin. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)


Puluhan warga dusun Kebonsari Desa/Kecamatan Tumpang mendatangi kompleks Pemakaman Cina yang terletak di gang Cempaka Desa Tumpang. Warga hendak membongkar paksa dua blok kuburan Cina yang baru dibangun, karena diklaim kuburan berdiri diatas lahan kas desa. Beruntung, aksi sepihak itu masih bisa diredam aparat desa dibantu personel Polisi dan Kodim setempat.

Puluhan warga melurug lokasi makam yang terletak disamping lahan tebu petak 18 itu. Mereka membawa beberapa poster untuk menegaskan status tanah sebagai lahan milik desa. Poster antara lain bertuliskan, ‘tanah ini milik warga masyarakat desa Tumpang’, ‘jangan dijual atau disewakan’.

“Sesuai peta blok tanah di Tumpang, makam ini berdiri diatas tanah kas desa. Yakni di atas petak 18 blok 24, ini dulu merupakan tanah Ganjaran,” ujar Kades Tumpang Achmad Apriono kepada Malang Post di lokasi.

Apriono menambahkan, rencananya lahan itu bakal difungsikan sebagai lapangan bola milik desa. Hanya saja, lahan itu masih disewa oleh PT Sami Jaya dan saat ini ditanami tebu. Dia mengatakan warga ngotot membongkar makam itu namun berhasil diredam aparat.

“Luas lahan ini sekitar 1,1 ha, terpotong jalan desa berkurang menjadi 945 m2, sekarang masih disewa oleh PT Sami Jaya berakhir hingga tanaman tebunya panen,” ujar Apriono.

Berdasarkan penelusuran Malang Post, dua blok kuburan di komplek Bong Cina Gang Cempaka iu dibangun tanggal 27 Oktober lalu. Pembangunan itu sesuai pesanan klien dari Surabaya pada staff UPTD Cipta Karya dan Tata Ruang setempat bernama Riyono. Staff UPTD itu lantas meminta juru kunci Bong, bernama Nasib untuk membangun pondasi kuburan.

“Saya hanya diperintah Pak Riyono, kuburan itu dibeli dari Dinas Cipta Karya seharga Rp 20 Ribu per meternya, luasnya antara 9 meter x 7 meter,” aku Nasib warga jalan Pahlawan Barat Desa Tumpang kepada Malang Post.

Nasib amat yakin bahwa tanah itu sudah menjadi milik Dinas Cipta Karya sejak puluhan tahun lalu. Seingat dia, lahan itu dibeli dari Pak Ramelan, warga setempat yang sudah meninggal. Dia mengaku tidak tahu menahu soal klaim bahwa makam berdiri diatas tanah kas desa.

“Nggak tahu mas, memang saya pernah ditegur Kades Tumpang saat mulai membangun Makam. Tapi saya bilang, pembangunan tidak berhenti selama Kades belum membawa hitam diatas putih,” tegasnya.(ary/eno)
(Ary Wicaksono/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s