Obsesi Syaifuddin Zuhri Hijaukan Lereng Gunung Panderman

Tak banyak aktivis lingkungan yang merelakan lahan pribadinya untuk penghijauan. Syaifuddin Zuhri, 44, warga Pesanggarahan, Batu, merelakan lahanseluas 0,5 hektare untuk penghijauan. Melalui Komunitas Merah Putih, lahannya di Baleagung Nusantara Emas bakal disulap menjadi kawasan “pohon kebijakan”. Sebanyak 20 ribu bibit pohon beringin, belibis, dan satu pohon kelapa akan ditanam di kawasan tersebut.

Ahmad Yahya, Malang

Ratusan bibit pohon beringin terjajar rapi di halaman depan rumah Gus Udin- panggilan akrab Syaifuddin Zuhri- di Dusun Pesanggarahan, Desa Pesanggarahan, Batu, siang kemarin. Di antara ratusan bibit itu, juga terdapat tumpukan sekam. Sekam itu digunakan untuk menamam bibit beringin hasil cangkokan pada polibek kecil. Setelah banyak terkumpul, bibit itu akan segera ditanam di Baleagung Nusantara Emas, lereng Gunung Panderman.

Begitulah aktivitas sehari-hari Gus Udin. Pria berusia 44 tahun itu memang tidak melakukannya sendirian untuk merealisasikan penghijauan yang dikemas dalam “pohon kebijakan”. Melalui lembaga Komunitas Merah Putih yang didirikan pada 17 Agustus 2002 lalu itu, Gus Udin bakal menghijaukan lereng Gunung Panderman itu dengan puluhan ribu pohon beringin dan belibis. Saat ini sudah terdapat 2.351 bibit pohon beringin dan belibis yang tertanam di lahan miliknya seluas 5.500 meter per segi. Satu di antara ribuan pohon yang sudah ditanam itu adalah pohon kelapa.

Saat ini, pohon yang tertanam itu memang belum banyak. Karena, komunitas merah putih merencanakan menanam 20 ribu pohon beringin dan belibis. Sebanyak 20 ribu pohon itu disatukan pada kawasan tersebut. Pohon beringin dan belibis itu ditanam dengan jarak 0,5 meter. “Dengan jarak itu, saat besar nanti pohon beringin dan belibis itu dengan sendirinya akan disatukan oleh alam,” katanya.

Pencanangan penananam itu sendiri sebenarnya belum lama. Kegiatan itu baru dilakukan tiga bulan lalu, tepatnya pada peringatan hari kemerdekaan ke-63 RI. Saat itu kegiatan penanaman diikuti sebanyak 99 orang dari perwakilan Komunitas Merah Putih Malang Raya, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera, Sabang, Jakarta, dan beberapa daerah di Jatim. Secara simbolis, penanaman pohon ditandai dengan penanaman 1 pohon kelapa, 17 pohon beringin, dan 17 pohon belibis.

Pemilihan pohon beringin itu, menurut dia, bukannya tanpa alasan. Karena, berdasarkan tinjauan sejarah, banyak raja-raja terdahulu yang menanam pohon beringin di sekitar sumber mata air dan di depan kerajaan. Penyatuan 20 ribu pohon itu, selain untuk mengampanyekan gerakan penghijauan juga untuk menjaga sumber mata air yang ada di lereng Gunung Panderman. “Kami juga berharap akan muncul sumber mata air baru di situ,” kata bapak dua anak ini.

Lahan pribadi yang dijadikan lahan penghijauan itu tidak hanya ditanami anggota Komunitas Merah Putih. Tapi, juga terbuka untuk umum. Saat ini sudah tercatat 400 penanam pohon beringin di kawasan tersebut. Para penanam pohon dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari aktivis lingkungan, kalangan pengusaha, masyarakat kecil, pelajar, anak yatim, pejabat tinggi negara, hingga tokoh partai politik. Meski ada yang berasal dari partai politik, tidak mencatatnya sebagai partai politik. Tapi, atas nama pribadi.

“Siapapun bisa berpartisipasi menaman pohon beringin di kawasan tersebut. Syaratnya, pohon yang ditanam adalah pohon beringin atau belibis. Selain itu, tidak bisa. Karena sejak awal kami sudah komitmen akan menuntaskan rencana besar ini,” tegasnya.

Rencana penanaman 20 ribu pohon itu memang memiliki obsesi besar. Dalam jangka lima tahun ke depan, pohon beringin, pohon belibis itu diprediksikan sudah bisa menyatu. Dengan menyatunya 20 ribu pohon dan satu pohon kelapa diharapkan menjadi pohon beringin terbesar di dunia. “Tujuan kami bukan untuk memecahkan rekor MURI, tapi untuk menunjukkan keseriusan dalam menjaga lingkungan,” kata mantan pendiri Yayasan Iqro, lembaga kajian tentang lingkungan dan alam ini.

Gus Udin menjamin, rencana itu tidak akan berubah. Bahkan, dia juga menjamin dalam perjalanannya nanti pohon yang ditanam tidak akan dijual kalau sudah besar. Tapi, akan dibiarkan menyatu dan menjadi sumber kehidupan dalam menjaga mata air. (*/ziz/radarmalang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Batu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s