Usai Upacara, Pejabat Makan Nasi Bungkus Bersama

Wali Kota Malang, Peni Suparto dan Ketua DPRD Kota Malang, EC RB Priyatmoko dan jajaran muspida menyantap nasi bungkus usai upacara Hari Pahlawan. (VANDRI VAN BATTU/MALANG POST)

Wali Kota Malang, Peni Suparto dan Ketua DPRD Kota Malang, EC RB Priyatmoko dan jajaran muspida menyantap nasi bungkus usai upacara Hari Pahlawan. (VANDRI VAN BATTU/MALANG POST)


Peringatan Hari Pahlawan di balai kota Malang, kemarin berlangsung unik dan sederhana. Tidak ada resepsi dengan menu makanan istimewa. Panitia justru menyiapkan nasi bungkus untuk makan bersama usai upacara. Nasi bungkus merupakan simbol kebersamaan dalam perjuangan.

Begitu upacara berakhir, pembawa acara mengumumkan peringatan Hari Pahlawan dilanjutkan resepsi. Tak berselang lama, sejumlah petugas membagi-bagikan nasi bungkus. Antara prajurit upacara hingga pejabat mendapat nasi bungkus dengan menu yang sama. Nasi, sepotong daging ayam, sambal dan sayur.

Tak terkecuali Wali Kota Peni Suparto, Ketua DPRD Drs Ec RB Priyatmoko Oetomo MM, muspida hingga pejuang kemerdekaan menikmatinya bersama-sama. “Wah menyenangkan juga,” kata seorang peserta upacara sambil melahap nasi bungkus.

Semangat kebersamaan memang terungkap saat makan nasi bungkus bersama. Tanpa alas piring, ramai-ramai melahap nasi bungkus gratis itu. Sesekali di antara mereka memuji semangat kebersamaan melalui makan bersama.

“Kalau begini sama semua. Tidak ada menu istimewa. Makannya juga santai, bisa duduk di kursi, bisa juga berdiri. Tak ada kesan formil,” komentar Agus, salah seorang peserta upacara.

Bagi pejuang kemerdekaan, nasi bungkus memiliki makna mendalam. ”Nasi bungkus itu simbol kebersamaan, kesetiakawanan sosial dan semangat dalam perjuangan,” kata Anton Adji Soehartono, Ketua DHC 45 Kota Malang.

Menurut pejuang 45 ini, di saat zaman perjuangan, nasi bungkus merupakan simbol kebersamaan dan membangkitkan semangat perjuangan. “Waktu itu (masa perjuangan), nasi bungkus merupakan andalan,” ucapnya. Hanya saja yang berbeda antara nasi bungkus zaman perang dengan masa kini pada bungkusannya. Zaman pergerakan melawan penjajah, nasi bungkus menggunakan daun jati, daun pisang sebagai pembungkus. “Sekarang sudah modern, jadi menggunakan kertas. Tapi yang penting semangatnya,” kata dia bersemangat.(van/lim) (Vandri van Battu/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s