Pakde Jadi Gubernur Terpilih

 Suasana Rekapitulasi Suara Pilgub di Hotel Mercure Grand Mirama, Surabaya (Irawulan/Detik Surabaya)

Suasana Rekapitulasi Suara Pilgub di Hotel Mercure Grand Mirama, Surabaya (Irawulan/Detik Surabaya)

Perjalanan panjang dan melelahkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2008, berakhir sudah. Kursi empuk Gubernur Jatim seharga kurang lebih Rp 800 miliar, akhirnya dimiliki pasangan cagub dancawagub Soekarwo dan Saifullah Yusuf (Karsa).

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim, Selasa kemarin, dalam perhitungan manual Pilgub Putaran kedua, Karsa berhasil mengantongi sebanyak 7.729.944 suara dan rival utamanya Khofifah Indar Parawansah – Mujiono hanya meraup 7.669.721 suara atau terjadi selisih angka sebanyak 60.223 suara.

Kemenangan pasangan Karsa diperoleh dari pundi-pundi suara di 22 kabupaten kota di Jatim. Sedang 16 kabupaten/kota lainnya dimiliki pasangan Khofifah-Mujiono (Kaji).

Termasuk suara Malang Raya yang semuanya disapu bersih Kaji dengan total 687.224 suara dan Karsa hanya 613.427 suara atau 73.797 lebih rendah dibanding kaji.

Lengkapnya, di Kabupaten Malang, Kaji memperoleh 496.722 suara sedang Karsa hanya 431.468, di Kota Malang Kaji meraup 150.814 suara dan Karsa hanya 144.765 suara. Kaji juga memperoleh 39. 688 suara di Kota Batu dan Karsa hanya 37.194 suara.

Seperti bisanya dalam sebuah pertandingan, kubu Soekarwo-Saifullah langsung menyambut kemenangan itu dengan luapan kegembiraan. Pak Dhe Karwo dan istrinya Nina Soekarwo langsung menuju markas Karsa di Jl. Comal untuk menerima ucapan selamat dari pendukung dan simpatisan.

‘’Terima kasih. Terima kasih,’’ ucapnya kepada pendukungnya yang menyalami mulai turun mobil sampai masuk kantor Karsa. ‘’Kami juga ucapkan terima kasih kepada ibu Khofifah, yang telah mewujudkan pilgub yang demokratis secara bersama-sama. Kami ini silahturahmi jalan terus untuk kemajuan Jatim ke depan,’’ tambah Soekarwo dengan mata berkaca-kaca.

Sebaliknya, kubu Khofifah-Mujiono larut dalam kekecewaan dan duka atas hasil perhitungan manual ini. Ujung-ujungnya, Muhammad Mirdasy dan tim kemenangan Kaji yang hadir di acara penghitungan di Grand Mercure Hotel Surabaya, menolak dan tidak mau menandatangani hasil penghitungan manual KPU Jatim.

Mirdasy, sebagai juru bicara 10 saksi yang diundang untuk acara penghitungan manual, sejak rapat belum dibuka secara resmi, secara bertubi-tubi telah melayangkan protes dan interupsi kepada pimpinan KPU Jatim, Drs. Wahyudi Purnomo. Bahkan, Tim Kaji ‘memaksa’ agar penghitungan penentuan ini tidak digelar lebih dahulu.

Sepertinya, Tim Kaji telah mengetahui kalau jagonya bakal kalah. Bahkan, perbedaan angka sekitar 60 ribu sudah diketahuinya sejak Minggu lalu. Karena itu, dengan alasan surat keberatan belum dijawab KPU Jatim, Mirdasy minta penghitungan ditunda lebih dahulu.

‘’Saudara ketua, sebelum penghitungan manual ini kami sudah mengirimkan dua surat ke KPU Jatim. Tetapi, sampai hari ini, kami belum mendapatkan jawaban resmi dari KPU. Karena itu, kami minta agar penghitungan ditunda sampai ada jawaban untuk surat kami,’’ pinta Mirdasy.

Mendapat serangan Mirdasy ini, tidak membuat Wahyudi dan timnya patah arang. Secara tegas dan meyakinkan Wahyudi menjawab, kalau agenda rapat Selasa kemarin bukan membahas soal keberatan yang diajukan tim kemenangan, masing-masing pasangan cagub/cawagub.

‘’Kami tegaskan, rapat penghitungan manual sebagai tahapan Pilgub Jatim putaran kedua, tetap harus dibuka. Agenda rapat hari ini bukan membahas soal surat keberatan dari tim pasangan. Nanti ada waktunya tersendiri untuk membahas itu,’’ hantam Wahyudi, yang langsung disambut tepuk tangan anggota KPU se Jatim.

Merasa aksinya tidak digubris, tidak membuat Mirdasy, politikus kelahiran Siring Sidoarjo ini patah semangat. Buktinya, sejak KPU Pacitan sebagai KPU pertama yang memberikan perhitungan manual diberi kesempatan sampai KPU Kota Batu, Mirdasy tidak henti-hentinya melakukan interupsi.

(malang post)

(malang post)

Tetapi, upaya gigih Mirdasy tidak pernah ada ‘kemenangan’. KPU se Jatim yang diprotesnya selalu memberikan jawaban yang mutlak dan membalik semua fakta negatif yang disodorkan Mirdasy.
Terutama, ketika penghitungan memasuki KPU se Madura. Mulai dari Bangkalan sampai Sumenep, semuanya diprotes Mirdasy dengan tudingan banyak kecurangan dan pelanggaran.

‘’Karena kami merasa tidak mendapatkan jawaban yang pas dan tim kami banyak mendapatkan kecurangan di Madura, maka Tim Kaji menolak menandatangani berita acara penghitungan ini. Kami akan menuntut ke Makamah Konstitusi agar dilakukan penghitungan ulang di Madura,’’ ancam Mirdasy. (has/avi)(Hary Santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s