Wisata Belanja Tetap Perlu Dipromosikan

BERBAGAI konsep mengembangkan wisata belanja Tugu di Rampal digagas. Tentu semua menginginkan, obyek wisata belanja yang digelar setiap Minggu pagi itu, semakin ramai dan dikenal luas. Tapi bagaimana dengan promosinya?

Tidak ada yang mendebat berbagai konsep mengembangkan wisata belanja Tugu di Rampal. Tak ada juga yang saling mempertentangkan berbagai konsep itu.

Apa saja konsep menata wisata belanja Tugu bisa diwujudkan. Tapi tak akan banyak berguna kalau acara menarik yang digelar di tak diketahui publik.

Pedagang berharap adanya promisi yang baik dan sistematis. Promosi tidak hanya dilakukan dalam satu kurun waktu saja. Tapi harus dilakukan terus menerus sampai keberbagai tempat.

Untuk promosi, sebenarnya bisa dilakukan secara terkoordinasi antara Dinas Parinkom, pemilik hotel, travel dan pelaku usaha parwisata lainnya. Misalnya saja di promosi dilakukan di hotel. Setiap tamu hotel, diberitahu bahwa di kota pendidikan ini ada wisata belanja.

Media promosi bisa menggunakan media yang sederhana hingga media berbasis internet. Misalnya menggunakan leaflet hingga menggunakan website.

Dewi Ningrum, anggota PHRI mengatakan, dalam leaflet harus disebutkan apa saja yang menarik di wisata belanja. ‘’Leaflet tidak hanya disebarkan di Malang saja, diluar Malang juga sehingga tahu,’’ kata Ningrum.

Menanggapi gagasan promosi, Taufik Huda, wakil koordinator Ikatan Pedagang Wisata Belanja Tugu, Rampal punya gagasan sederhana tapi tepat sasaran.

Menurur Taufik, dalam brosur hotel, bisa juga ditampilkan wisata belanja sebagai salah satu obyek wisata yang mesti dikunjungi. ‘’Tapi saat ini nama kami (wisata belanja) belum muncul di brosur hotel,’’ katanya.

Ida Ayu Wahyuni, Kabid Pariwisata, Parinkom memastikan promosi sudah dilakukan. Bahkan, promosi wisata belanja Tugu, Rampal dilakukan bersamaan obyek dan agenda wisata lain yang dimiliki kota ini.
Sejalan promosi, sudah saatnya merealisasikan gagasan sederhana tapi membuat nyaman wisata belanja. Misalnya tempat duduk yang nyaman penting. Tenda sebagai pengganti pohon perindang juga harus ada.

‘’Tempat duduk dan tempat berteduh perlu. Sehingga membuat pengunjung lebih betah,’’ kata Taufik. Dia mengingatkan hal ini tentu sangat masuk akal. Sebab di area wisata belanja, tak ada pohon pelindung atau tempat berteduh yang santai.

Syaiful Rusdy, Ketua Komisi B DPRD Kota Malang juga mengingatkan tentang keamanan dan kenyamanan. ‘’Sehingga pengunjung bisa lebih enjoy, santai,’’ terangnya.

Taufik kembali melanjutkan tentang gagasan lainnya. Yakni tenda. Tenda yang seragam menjadi salah satu faktor daya tarik. ‘’Tenda bisa diusahakan melalui bantuan sponsor,’’ katanya.

Kadis Parinkom PA Wiyono mendengar semua gagasan itu. Sekarang, menurut dia, perlu direalisasi dengan saling bergandeng tangan. Ini termasuk peran media sebagai pembawa informasi yang masif.

Area wisata belanja Tugu juga perlu dikoneksikan dengan area wisata lain. Misalnya ketika gagasan pedestrian di sekitar Jalan Trunojoyo, Kertanegara, Alun-Alun Merdeka dan Kayutangan terwujud, maka harus dikaitkan juga dengan area wisata belanja Tugu di Rampal. (vandri van battu) (vandri/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s