Depdiknas Target 450 Sekolah Jadi SBI

Drs Slamet Suyanto M.Pd, Tim pengembang RSBI Depdiknas saat presentasi di Aula Serbaguna SMAN 3 Malang (Lailatul Rosida/Malang Post)

Drs Slamet Suyanto M.Pd, Tim pengembang RSBI Depdiknas saat presentasi di Aula Serbaguna SMAN 3 Malang (Lailatul Rosida/Malang Post)

Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menargetkan pertumbuhan jumlah Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional (RSMABI) pada 2009 mendatang. Saat ini untuk tingkatan SMA saja baru ada 198 SMA se Indonesia yang sudah RSBI. Ditargetkan pertumbuhannya mencapai 450 sekolah yang terdiri dari satu sekolah di tiap kabupaten kota.

Hal ini ditegaskan Tim Pengembang SBI Depdiknas, Drs Slamet Suyanto M.Pd kepada Malang Post seusai sosialisasi Bimbingan Teknis (Bintek) di Aula serbaguna SMAN 3 Malang kemarin. “SBI ini merupakan upaya untuk membuka mata terhadap perkembangan sekolah di luar negeri. Sehingga sekolah yang ada di dalam negeri bisa bersaing dengan yang ada di luar negeri,” ungkapnya.

Dengan berubah menjadi SBI, kata dia, maka sekolah akan terus memacu diri untuk meningkatkan mutunya. Apalagi pemerintah juga mendukung pendanaan untuk SBI ini yang besarnya untuk SD sebesar Rp 500 juta, SMP Rp 450 juta dan SMA Rp 300 juta. Dana ini sebenarnya, tidak cukup jika diperuntukkan bagi pemenuhan mutu sekolah RSBI, sehingga butuh partisipasi dari pemerintah daerahnya. Paling tidak, ungkap dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, partisipasi APBD I dan II juga sama besarnya dengan yang diberikan APBN. Karena itu, butuh komitmen pemegang kebijakan agar memperjuangkan status sekolah RSBI. Artinya dana sharing antara pemerintah pusat dan daerah harus diwujudkan demi idealnya sebuah sekolah RSBI.

Pada evaluasi tahun pertama saja, kata Slamet Suyanto, dari 198 sekolah, yang mendapatkan nilai 80 ke atas atau A hanya 33 sekolah, sisanya banyak mendapatkan nilai B sebanyak 146 sekolah, dan nilai C 16 sekolah. Pada tahun berikutnya, jumlah nilai B diharapkan lebih sedikit dan lebih banyak yang sudah meraih A. Penilaiannya mencakup beberapa unsur seperti pengelolaan, akreditasi, kurikulum, PBM, pendidik, tenaga kependidikan, sarpras, dan pembiayaan.

Yang juga paling penting, lanjutnya, sekolah RSBI harus mempunyai sister school. Sister school itu adalah sekolah pembanding di luar negeri untuk memanage sekolah agar minimal sama dengan sekolah yang ada di luar negeri. Untuk itu, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. “Saya lihat seperti SMAN 3 Malang, masak sekolahnya sudah internasional. Tapi parkirnya tidak tertata rapi, kalau dibandingkan dengan sister schoolnya tentu jauh sekali. Karena itu, butuh pembiayan yang tidak sedikit untuk menata semuanya,” tambahnya. (oci/udi) (Lailatul Rosida/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s