Sekolah Setingat SMA Akan Dijaga Polisi

polisi-17-nov Aksi premanisme di SMA Ardjuna, tidak saja membuat polisi mendapat tambahan pekerjaan. Tapi juga harus bekerja ekstra keras untuk menangkap pelaku.

Bagaimana tidak, meski sudah mengantongi identitas, plus mengakuan dari MT, siswa SMEA Ardjuno yang ‘membayar’ delapan preman itu untuk menyerbu Hendry Agung di dalam sekolah, tapi sampai kemarin belum juga berhasil mengamankan preman-preman tersebut.

Hanya saja, polisi tampaknya tidak mau kecolongan lagi. Sebagai tindakan preventif, polisi akan menyiagakan petugas di sekolah-sekolah yang ada di Kota Malang. Khususnya sekolah setingkat SMA. Bukan itu saja, setiap perwira di Polresta Malang, akan diinstruksikan untuk menjadi Inspektur Upacara (irup) di SMA dan SMK di Kota Malang.

‘’Ada sekitar 25 SMA dan SMK, yang Irupnya adalah perwira polisi. Yakni, mulai dari Kabag, Kasubag, Kasat, KBO dan para Kapolsekta,’’ terang Kabag Binamitra Polresta Malang, Kompol Suhartini Eko, kemarin.

Nantinya, minimal sebulan sekali para perwira itu harus menjadi irup di sekolah. Karena mereka juga diminta memberikan imbauan kepada siswa menyangkut kenakalan remaja.

Sementara itu, menyangkut aksi brutal delapan preman yang menghajar Hendry, sampai kemarin masih dalam pengejaran. Informasi terbaru, para preman itu mau ngluruk ke SMA Ardjuna karena dijanjikan dibelikan minuman keras oleh MT.

Menariknya, ketika kasus ini semakin menarik, justru keberadaan MT menjadi misterius. Bahkan sejak Sabtu kemarin, MT sudah tidak diketahui rimbanya.

‘’Benar Mas, Mt, menghilang sejak kemarin (Sabtu,red) saat akan kami periksa lagi, dia sudah tidak ada. Bahkan, ketika didatangi di rumahnya, keluarganya pun juga tidak tahu kemana perginya,’’ ungkap salah satu sumber Malang Post, dikepolisian.

Padahal, untuk mengungkap kasus penyerbuan preman ke lembaga pendidikan itu, kuncinya ada pada MT. Sebab, untuk mengetahui identitas para preman, hanyalah MT yang mengetahuinya.

‘’Dari hasil penyelidikan, delapan orang preman suruhan MT tersebut, adalah oknum anak-anak Punk, yang biasa mangkal di depan Mitra II dan simpang tiga Jalan Sulfat. Namun, mereka semuanya sudah kabur, sejak peristiwa penyerbuan itu,’’ terangnya.

Sementara itu, ketika Polresta Malang masih kesulitan mencari delapan preman tersebut, jajaran polsek-polsek di Mapolres Malang, Sabtu malam kemarin, operasi preman kembali digelar. Hasilnya, sedikitnya 16 orang terjaring dalam operasi yang dilakukan oleh Polsek Lawang dan Polsek Wagir, dalam waktu nyaris bersamaan.

Polsek Lawang berhasil mengamankan tujuh orang yang tidak mengantongi identitas.

Mereka yang diamankan saat bermain bilyar di Pasar Lawang itu Amiri, 21 tahun, Ahmad Sokeh, 19 tahun dan Rois, 25 tahun, ketiganya warga Jalan Temuroso, Desa/Kecamatan Guntur, Demak. Empat lainnya yakni Andik Gatot, 16 tahun dan Arif Sulistiawan, 14 tahun, keduanya warga Kecamatan Purwodadi, Pasuruan, Slamet Atim, 14 tahun warga Desa/Kecamatan Pandaan, Pasuruan serta Markasan, 21 tahun warga Dusun Gunung Malang, Desa Tejowangi, Kecamatan Purwosari, Pasuruan.

Ketujuh orang tersebut, sempat mendapatkan pembinaan dan diambil foto plus sidik jarinya. ‘’Kalau nantinya ada tindak kejahatan, akan memudahkan kami dalam mengidentifikasi dugaan pelakunya,’’ kata Kapolsek Lawang, AKP Aria Wibawa.

Sedang operasi yang dilakukan Polsek Wagir, yang dipusatkan di Pasar Parangargo, sebanyak sembilan orang diamankan dari sekitar 30 orang yang menarik perhatian petugas untuk diperiksa identitasnya.

Menariknya, dari sembilan yang diamankan itu, dua orang adalah pengamen. Seorang diketahui dari mulutnya berbau minuman keras, sedangkan enam lainnya sedang asyik meneguk miras. Petugas sendiri, juga mengamankan dua gitar, tiga botol miras dan satu botol minuman ringan lainnya.

Mereka yang diamankan, dua pengamen, Yanto, 29 tahun dan Idiantoko, 24 tahun, keduanya warga Desa Karangpandan. Sisanya yang mulutnya berbau miras yakni Supriadi, 24 tahun warga Desa Sidorahayu, juga Wagir.

Enam orang yang tengah pesta miras, adalah Agus Aji, 25 tahun, Soke, 22 tahun, Yadi, 24 tahun dan Fandi, 20 tahun, keempatnya warga Desa Mendalanwangi serta Supriyadi, 24 tahun warga Desa Sidorahayu. Seorang lagi yaitu Ronal, 19 tahun warga Desa Parangargo, Wagir, yang mengaku sebagai pelajar.

Sedang di Kota Malang, selama dua pekan melakukan razia premanisme di beberapa sudut dan ruas jalan kota, sudah 181 orang yang diamankan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kasatsamapta Polresta Malang, AKP Susanto, kepada Malang Post siang kemarin. Susanto menyebut, jumlah 181 preman itu, adalah hasil razia sejak dua pekan lalu sampai hari Minggu kemarin.

Dari total 181 preman itu, 10 orang preman diantaranya, terpaksa di tindak pidana ringan (tipiring). Mereka terbukti mengganggu ketertiban umum. Mulai mabuk di pinggir jalan, hingga ngamen secara paksa.

‘’Sedangkan sisanya, 171 orang preman itu, hanya kami beri pembinaan moral yang selanjutnya kami kembalikan kepada orang tuanya masing-masing,’’ ungkap Susanto. (sit/agp/avi)
(Sigit Rohnad/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s