Warga Bareng Rebutan Warisan Rp 50 M

(nurdiansah / malang post)

(nurdiansah / malang post)


Ahli waris pasangan suami istri alm Sentot Wardoyo-Soemardiyah warga Bareng, bertikai. Mereka memperebutkan harta senilai sekitar Rp 50 miliar, peninggalan ‘Raja’ SPBU Kota Malang itu. Gugatan menuntut hak pembagian warisan pun, saat ini sedang diperiksa di Pengadilan Agama (PA) Kota Malang.

Sementara yang bertindak sebagai penggugat, adalah Didik Hersunanto, warga Bareng Raya II-A Klojen. Anak sulung alm Ny Soemardiyah (anak tiri Sentot) dari hasil perkawinan pertamannya dengan alm M Sudarsono ini, menguasakan gugatan kepada advokat Suhendro Priyadi, SH dan Nanianto, SH.

‘’ Klien kami bukan menuntut warisan peninggalan pak Sentot. Melainkan hak gono gini ibunya (Soemardiyah) dari perkawinan dengan Sentot, yang belum dibagikan. Semua harta itu, saat ini masih dikuasai Yayuk Sriwilujeng dan Titahing Widhi Yulianingtyas Nuari,’’ungkap Suhendro Priyadi, kepada Malang Post.

Karena itu, untuk memperebutkan hak dari harta yang menyebar di sejumlah wilayah Jatim ini, Didik lewat kuasa hukumnya menjadikan Yayuk, warga Perum Griyashanta D/319 dan Titahing Widhi warga Bareng Raya II A/44 Malang, sebagai tergugat I dan II.

Advokat Imam Hidayat SH, kuasa hukum Yayuk dan Titahing Widhi, membenarkan jika dua kliennya sedang digugat Didik. ’’Kami sendiri sedang mempersiapkan jawaban atas gugatan itu. Yang perlu dipertanyakan, apakah penggugat sebagai anak gawan (anak tiri alm Sentot, Red.) apa punya hak harta peninggalan Pak Sentot?’’ ujar Imam Hidayat.

Sementara Suhendro justru menyebut, status Yayuk bukan anak kandung Sentot-Soemardiyah yang dalam perkawinannya tidak dikaruniai anak kandung. Yayuk, kata Suhendro, adalah anak angkat yang dikuatkan dengan penetapan PN Malang nomor Perdata 291/1973 tertanggal 8 Oktober 1973.

Sedangkan Titahing Widhi, tambah Suhendro, statusnya bukan diapdosi secara hukum oleh pasutri Sentot-Soemardiyah, melainkan diasuh tanpa status hukum yang sah. ‘’Titaning sendiri, aslinya anak janda Purwatingsih warga Madiun,’’ timpal advokat Nanianto.

Tidak hanya itu, Didik juga menjadikan tiga adik kandungnya (dari perkawinan Soemardiyah-Sudarsono) sebagai turut tergugat I, II dan III. Yakni, Lukman Hendar warga Singosari. Edy Hidayat Widyanto warga Sawojajar dan Evita hajar Setiani warga Jalan Watugong Malang.

Perkawinan Sentot dengan Soemardiyah sendiri, berlangsung di kantor KUA Klojen pada 1965, setelah Soemardiyah bercerai dengan Soedarsono yang telah memberinya empat orang anak tersebut. Kemudian, dari tali perkwinan itu, keduanya mengangkat Yayuk yang masih keponakan Sentot sebagai anak angkat. Disusul mengasuh Titahing Widhi.

Sentot meninggal dunia pada 23 Maret 2001, sedangkan istrinya meninggal pada 8 Mei 2004. Dari perkawinan mereka, telah meninggalkan harta benda yang cukup banyak.

Diantaranya lima usaha SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum) di Jalan Kol Sugiono, Jl Kawi Malang, Jl Diponegoro, Batu. Serta dua SPBU di Dringu dan Mayangan, Probolinggo. Harta tak bergerak lainnya, tanah maupun rumah yang tersebar di 28 lokasi di Malang Raya, Lumajang, Probolinggo maupun di Surabaya. (lyo)
(Redaksi/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s