Palsukan Surat Warisan

Gonjang ganjing rebutan harta peninggalan ‘Raja’ SPBU, alm Sentot Wardoyo dan istrinya alm Hj Soemardiyah, oleh para ahli waris, tampaknya kian memanas. Didik Hersunanto, anak sulung Sumardiyah, memperkarakan Yayuk Sriwilujeng dan Titahing Widhi Yulianingtyas Nuari, anak angkat dan anak asuh pasutri tersebut, ke Polwil Malang.

Suhendro Priyadi SH., kuasa hukum Didik Hersunanto menyebutkan, laporan Didik ke polisi adalah untuk mengungkap kebenaran adanya dugaan pemalsuan surat keterangan waris, yang dibuat Yayuk, warga Perum Griyashanta dan Titahing Widhi warga Jalan Bareng Raya II A/44 Malang tersebut.

Laporan Didik yang juga warga Jalan Bareng Raya II A/41 Klojen itu, sebagai tindak lanjut gugatan pembagian warisan yang sedang diperiksa majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Kota Malang. Tergugatnya juga sama, Yayuk dan Titahing Widhi serta tiga adik kandung Didik.

Terkait dugaan pemalsuan surat keterangan waris tersebut, jelas Suhendro, dibuat Yayuk dan Titahing di kantor Kelurahan Bareng, tertanggal 21 Mei 2004.

Surat keterangan waris yang dibubuhi meterai Rp6000 itu, dikuatkan tandatangan dan cap stempel Lurah Bareng dan Camat Klojen. Surat itu intinya menerangkan, Yayuk dan Titahing Widhi merupakan anak hasil perkawinan Sentot Wardoyo-Soemardiyah.

‘’Surat keterangan itu juga menerangan, Yayuk dan Titahing Widhi adalah satu-satunya ahli waris dari mendiang Sentot-Soemardiyah. Padahal faktanya, almarhum Sumardiyah punya empat orang anak kandung, yang juga merupakan anak tiri Pak Sentot,’’ ungkap Suhendro.

Terpisah, mendampingi Kapolwil Malang, Kanit IV Reskrim AKP Triyono Susanto membenarkan pihaknya sedang memeriksa perkara tersebut. ‘’Pelapor sudah kami periksa dan sekarang kami sudah melangka memeriksa saksi-saksi. Termasuk pejabat aparat Kelurahan Bareng, yang namanya tercantum dalam surat keterangan waris itu,’’ jelas Triyono Susanto.

Sedangkan Imam Hidayat SH., kuasa hukum Yayuk dan Titahing Widhi mengaku sudah mendengar jika dua kliennya juga diperkarakan ke polisi. Namun dia berkilah, surat keterangan itu dibuat bukan untuk menguasai harta Sentot.

‘’Surat itu digunakan untuk syarat penjualan salah satu obyek harta. Kami tidak gentar dan kien saya akan menghadapi jika sewaktu-waktu dipanggil polisi,’’ jelas Imam Hidayat, Senin pagi kemarin.
Sementara itu, ketika Malang Post mencoba menghubungi kedua tergugat dengan mendatangi kediamannya masing-masing, keduanya ternyata sudah pergi meninggalkan rumah sejak pagi.

Saat Malang Post mendatangi rumah Yayuk Sriwilujeng, rumah yang berada di Perumahan Griyashanta tersebut tampak sepi. Pintu garasi rumah mewah berlantai dua itu masih terbuka lebar, tapi tidak ada kendaraan si pemilik rumah. Ini cukup menjadi bukti jika si pemilik rumah memang tidak ada di rumahnya.
Meski pintu garasi terbuka lebar, tapi pagar rumah yang tingginya lebih dari dua meter itu tertutup rapat, seolah-olah tidak mau menerima tamu. Termasuk juga pintu dan jendela depan yang didominasi dengan kaca berwarna hitam.

Setelah Malang Post menekan bel, seorang pria berumur 30 tahunan keluar. Pria tersebut mengaku sebagai pembantu Yayuk. Dia mengatakan jika majikannya itu sudah pergi sejak jam 10.00 dengan mengendarai mobil Kijang Innova warna emas metalik. ‘’Tadi sudah pergi dari jam sepuluh pagi pakai mobilnya. Nggak tahu mau ke mana,’’ ujarnya singkat.

Sama seperti kakaknya, Titahing Widhi yang akan dikonfirmasi juga sudah pergi dari rumahnya sejak pagi. Titahing sendiri, saat ini mendiami rumah yang berada di Kelurahan Bareng, yang dulu ditempati Sentot, semasa masih hidup.

Berbeda dengan kondisi rumah kakaknya yang terlihat mewah karena terawat, rumah peninggalan pengusaha SPBU ini justru terkesan suram.

Bangunanya memang besar, tetapi terlihat seperti bangunan lama. Pagar besi tinggi berwarna hijau muda yang cukup rapat sepertinya menunjukkan jika si pemilik rumah, sangat tertutup dengan siapapun.
Sebagaimana diberitakan harian ini sebelumnya, Didik Hersunanto menggugat Yayuk dan Titahing Widhi ke PA Kota Malang. Tuntutannya, pembagian warisan peninggalan alm Sentot Wardoyo- Soemardiyah senilai sekitar Rp 50 miliar.

Obyek warisan diantaranya lima usaha SPBU dan 28 tanah maupun rumah yang menyebar di sejumlah wilayah Jatim, ini menurut penggugat, masih dikuasai tergugat.

Dalam gugatan itu, Didik bukan minta warisan peninggalan Sentot, melainkan hak harta gono gini ibunya dari perkawinan dengan Sentot, yang belum dibagikan. (lyo/nda/avi) (lyo/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s