Soal Preman, Polisi Menyerah

(sigit rohmad / malang post)

(sigit rohmad / malang post)


Tak ingin terlalu berlarut-larut dengan dugaan MT, siswa SMEA Ardjuna, yang ikut terlibat dalam pengerahan preman untuk mengeroyok Hendry, siswa SMA Ardjuna, polisi akhirnya menyerah.

Polisi mengembalikan penyelesaian masalah antara MT dan Hendry, kepada sekolah masing-masing. Pertimbangannya, karena usia keduanya yang masih di bawah umur dan selayaknya diberi pembinaan.

‘’Karena keduanya masih dibawah umur. Sementara statusnya juga masih pelajar yang memiliki masa depan. Karenanya, polisi menyerahkan penyelesaian antara MT dengan Hendry, kepada sekolah masing-masing. Dalam masalah ini, polisi lebih bersikap pembinaan bukan penindakkan,’’ kata Kapolresta Malang melalui Kapolsekta Blimbing, AKP Abdul Hadi kepada Malang Post.

Kecuali nanti pihak sekolah tidak mampu melakukan pembinaan, kata mantan Kapolsek Karangploso itu, baru polisi akan bertindak. Namun selama kedua sekolah masih mampu melakukan pembinaan, polisi tidak akan sampai menindak.

Terpisah, terkait masalah MT dengan Hendry, Kepala Sekolah SMEA Ardjuna, Drs Askar mengatakan, pihak sekolah langsung dan yayasan, sudah menganggap masalah tersebut selesai.

‘’Masalah MT dengan Hendry sudah diselesaikan bersama wali murid, sekolah dan yayasan juga dilibatkan. Jadi masalah sudah selesai. MT sendiri juga sudah masuk. Jadi mohon, agar jangan dipermasalahkan lagi ke media,’’ ujar Askar.

Suliyati, ibu MT saat ditemui dirumahnya, menyangkal jika MT sampai mengerahkan preman untuk melakukan pengeroyokan. Karena selama ini, MT dikenal anak pendiam dan tak banyak ulah.

‘’Kerja suami saya itu tukang (buruh), sementara saya sendiri adalah pemulung. Jadi mana mungkin punya uang untuk menyewa preman. Makanya, saya tidak yakin kalau Hendry dikeroyok preman.
Apalagi, teman-teman anak saya, juga tidak ada yang besar (orang dewasa). Anak saya sendiri, kadang kalau pas libur juga membantu saya cari uang dengan menjadi pengamen,’’ kata ibu lima anak itu.

Ditambahkan Suliyati, akibat tuduhan yang diarahkan kepada anaknya, MT saat ini kabur entah kemana. Sampai-sampai, suaminya, Sugianto, juga mencari tapi tidak ketemu.

‘’Terakhir dia pulang ke rumah Sabtu (15/11). Lalu, langsung pergi dengan cuma pamit kepada adiknya nomor empat. Saya sekarang hanya bisa berharap, sekolah masih mau memberikan toleransi. Sehingga, tidak sampai di keluarkan. Kasihan dia masih ingin sekolah meski kehidupan kami seperti ini,’’ ungkap Suliyati seraya mencoba menidurkan anak terakhirnya yang berada dalam gendongan.

Sementara itu, untuk mengantisipasi kenakalan siswa, Kapolsekta Blimbing, AKP Abdul Hadi, mulai melakukan pembinaan dengan menjadi Irup (Instruktur Upacara), Senin pagi kemarin. Sekolah yang dijadikan sasaran pembinaan, yakni SMKN 8 Malang di Jalan Teluk Pacitan, Blimbing.

Dihadapan sekitar 200 siswa yang mengikuti pelaksanaan upacara, Abdul Hadi membacakan amanat Kapolresta Malang, AKBP Atang Heradi, tentang bahaya kenakalan remaja diantaranya mengenai penyalahgunaan dan peredaran Narkoba, perkelahian antar pelajar dan maraknya pornografi serta porno aksi.

Menariknya selain mengenai kenalakan remaja, dalam kesempatan itu juga sedikit dibeberkan mengenai ancaman bila ada siswa yang melakukan pelanggaran. Termasuk menggunakan narkoba maupun pornografi. (sit/avi) (Sigit Rohnad/malangpost)

Iklan

1 Komentar

Filed under Malang, Pendidikan

One response to “Soal Preman, Polisi Menyerah

  1. salment

    aku suka dengan ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s