Blokir Aset Warisan

grafis-19-nov
Ahli waris (alm) Soemardiyah, Didik Hersunanto mengajukan pemblokiran semua aset harta gono-gini warisan dari (alm) Soemardiyah dan (alm) Sentot Wardoyo kepada kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN). Didik juga mengajukan sita jaminan aset warisan bagian Soemardiyah senilai Rp 23 miliar kepada Pengadilan Agama (PA) Kota Malang.

Pengajuan pemblokiran dan sita jaminan dilakukan Didik untuk mengamankan semua aset warisan peninggalan orang tuanya, agar tidak berpindah tangan kepada pihak lain.

Apalagi beberapa aset bagian Soemardiyah, diketahui telah berpindah tangan kepada pihak lain melalui jual beli yang dilakukan Yayuk Sriwilujeng, anak adopsi Sentot dan anak asuh Sentot, Titahing Widhi Yulianingtyas.

‘’Semua aset telah diblokir melalui pengajuan kuasa hukum saya ke BPN. Artinya semua aset tidak bisa dipindahtangankan. Sedangkan, sita jaminan aset bagian (alm) Soemardiyah senilai Rp 23 miliar masih dalam proses di PA Kota Malang,’’ kata Didik kepada Malang Post yang ditemui di kediamannya di jalan Bareng Raya Kota Malang, kemarin.

Dari hasil penelusurannya, ada beberapa warisan bagian ibunya, (alm) Soemardiyah yang telah dijual kepada pihak ketiga dan kepemilikannya dipindahnamakan.

Padahal, katanya, dalam surat wasiat yang ditulis (alm) Sentot Wardoyo sudah jelas menyebutkan, harta warisan yang diberikan kepadai istri dan dua anak angkatnya, berupa SPBU dan juga aset berupa tanah dan bangunan.

Salah satu warisan bagian Soemardiyah yang telah dijual sebelum ada penetapan dari Pengadilan Agama (PA) antara lain tanah yang berada di Desa Losariwetan Kecamatan Singosari sekitar 3,25 hektar dengan nilai jual sekitar Rp 12 miliar.

Tanah itu dijual Yayuk dan Titahing kepada Alfaria Grup Jakarta. Transaksi itu telah dinotariskan di salah satu notaris di Kota Malang. Untuk mempermudah penjualan aset itu, sertifikat itu dibaliknamakan atas nama Yayuk. Padahal, dalam surat wasiat Sentot, aset itu menjadi bagian Soemardiyah.

‘’Mereka mengaku tanah itu hanya laku sekitar Rp 4 miliar. Padahal, saya tahu penjualan aset itu mencapai Rp 12 miliar. Untuk memuluskan penjualannya, tanah itu diatasnamakan Yayuk,’’ ungkap ahli waris Soemardiyah itu.

Tidak hanya tanah di Singosari, tanah dan bangunan yang berada di Lumajang juga telah dijual kepada pihak ketiga sekitar Rp 800 juta. Sedangkan, dua SPBU yang menjadi bagian Soemardiyah adalah SPBU Lowokdoro Gadang dipindahnamakan kepada Anang Arif, suami Yayuk, pegawai salah satu bank di Pasuruan dan SPBU di Sumberpucung juga dipindahnamakan atas nama Angga Wisnu Wardana, suami Titahing.

Yang lebih parah, rumah yang awalnya milik ibunda Soemardiyah, Soematanoyo yang berada di Jalan Bareng Raya 2A/44 yang kemudian menjadi tempat tinggal bersama Soemardiyah dan Sentot semasa masih hidup, juga diklaim menjadi hak milik Titahing. Kini rumah itu sengaja dibiarkan kosong mulai tahun 2004 lalu.

‘’Mereka telah merebut hak kami sebagai ahli waris Soemardiyah. Padahal, dalam wasiat (alm) Sentot sudah jelas bagian masing-masing. Tapi, mengapa mereka tetap menguasai aset yang bukan menjadi haknya,’’ ujar pria yang sempat bekerja di SPBU Lowokdoro Malang.

Karena ada perencanaan untuk merebut hak warisnya itulah, Didik kembali menggugat pembagian harta warisan yang menjadi hak keluarga Soemardiyah.

Pada tahun 2004 lalu, Didik pernah mengajukan gugatan yang sama ke PN Malang dan melaporkan ke Polresta Malang atas tindakan pidananya. Tapi, pada tahun 2006 terjadi kesepakatan damai dan berujung pada pencabutan gugatan yang telah diajukannya.

Pencabutan gugatan itu diminta Yayuk dan Titahing untuk menggelar kesepakatan perdamaian keluarga. Hasilnya, Didik dan keluarga akan mendapatkan bagian harta warisan Soemardiyah.

Hanya saja, hingga 2 tahun lebih, tidak ada realisasi kesepakatan itu. Baru pada Juni 2008 lalu, pihak Yayuk memberikan uang sebesar Rp 650 juta kepada masing-masing ahli waris Soemardiyah. Ada empat anak Soemardiyah dari perkawinannya dengan suami pertama, M. Sudarsono.

‘’Saya menolak hanya mendapatkan pembagian Rp 650 juta. Tiga adik saya menerimanya, karena mereka tidak ikut menggugat. Nilai itu sangat rendah dari aset harta bagian Soemardiyah yang mencapai Rp 23 miliar. Apalagi, beberapa aset juga sudah dijual. Mereka itu memperkecil nilai aset yang ada,’’ tandasnya. (aim/avi) (Muhaimin/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s