Jika Paksakan Penggantian Nama, MIJS Terancam Tak Bisa UASBN

Rencana perubahan nama MIJS menjadi SD Insan Amanah membuat guru dan para orang tua siswa gamang. Mereka pun ramai-ramai mutasi ke sekolah lain. (MUFLIKH FARID/MALANG POST)

Rencana perubahan nama MIJS menjadi SD Insan Amanah membuat guru dan para orang tua siswa gamang. Mereka pun ramai-ramai mutasi ke sekolah lain. (MUFLIKH FARID/MALANG POST)

Keputusan pengelola Yayasan Madrasah Ibtidaiyah Jenderal Sudirman (MIJS) dengan merubah nama sekolah menjadi SD Insan Amanah mengudang risiko besar. Jika nama ini nekat dipakai pada periode 2008/2009 ini, sekolah terancam tidak bisa menggelar Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UASBN) sendiri. Sebab, syarat untuk menjadi penyelenggara UN salah satunya adalah lembaga tersebut memiliki izin operasional.

“Sampai saat ini kami belum mengeluarkan izin operasional SD Insan Amanah. Dan siswa di sana tetap terdaftar sebagai siswa MIJS. Kalau nama itu tetap dipakai sebagai identitas siswa kelas enam yang akan mengikuti ujian, maka tentu saja tidak boleh menyelenggarakan ujian sendiri,” ungkap Kasi Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Malang Suwarjana SE MM kepada Malang Post.

Jana panggilan akrab Suwarjana menuturkan, hingga sore kemarin pihaknya belum menerima data nominasi siswa calon peserta UASBN dari wilayah Lowokwaru. Termasuk data dari MIJS mengenai jumlah siswa yang akan mengikuti UASBN ini. Padahal wilayah kecamatan lainnya sudah merampungkan pendataan yang dipergunakan untuk permohonan ijazah kepada dinas pendidikan provinsi itu.

Sementara penentuan sekolah sebagai penyelenggara UASBN atau hanya penggabung saja ditentukan dengan berbagai persyaratan. Di antaranya sudah memiliki izin operasional, sudah terakreditasi, dan sudah meluluskan siswanya. Sementara lembaga dengan nama baru itu jelas belum memiliki ketentuan tersebut.

Lebih jauh ia menuturkan, pada dasarnya Disdik tidak pernah mempersulit keinginan sebuah lembaga untuk mendirikan sekolah baru. Asalkan memenuhi persyaratan dan asetnya tidak bermasalah. “Kami hanya menyarankan agar sengketa yang ada di selesaikan dahulu. Toh siswa tetap kami lindungi untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Kalau memang pengajuannya bisa dipertimbangkan tentu tidak akan dipersulit,” tegasnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun Malang Post, sampai hari ini banyak orang tua siswa yang memutuskan untuk memindahkan anaknya dari MIJS ke sekolah lain. Data yang dihimpun Malang Post, total siswa MIJS saat ini sebanyak 548 siswa. Tak hanya isu mutasi siswa saja yang beredar, tapi beberapa guru juga dikabarkan tidak lagi mengajar di MIJS. Meski demikian rupanya masih banyak yang bertahan karena alasan biaya mutasi terlalu tinggi.(oci/lim) (Lailatul Rosida/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s