Operasi Preman di Mata Mantan Anggota Geng

Operasi preman yang gencar dilakukan oleh polisi saat ini, sebenarnya bukan hal yang baru. Beberapa dekade yang lalu, operasi preman juga sudah pernah dilakukan. Bahkan tak tanggung-tanggung, pada saat itu pemerintah melakukan operasi preman dengan menurunkan penembak misterius (petrus), termasuk di Kota Malang. Lalu bagaimana pada tokoh masyarakat, yang dulu sempat menjadi sasaran operasi, menanggapi hal itu? Berikut laporannya.

Di awal era 80-an, cukup banyak orang-orang yang diincar oleh penembak misterius (petrus). Salah satunya yang cukup dikenal adalah HM. Mochtar.

Pria yang berperawakan tinggi besar ini sempat disebut-sebut sebagai salah seorang yang diincar oleh petrus. Karena saat itu, dia tergabung dalam sebuah kelompok anak muda yang bernama Argomz. Argomz sendiri saat itu dianggap kumpulan preman.

Mochtar sebenarnya menolak anggapan masyarakat tersebut. Menurut dia, Argomz hanyalah kelompok anak muda yang berdiri dari penghobi radio amatir, yang saat itu sedang ngetren.
Tidak hanya Argomz, tetapi juga banyak kelompok radio amatir seperti Mopret, Renco hingga Black Embek. Anggapan tersebut sepertinya muncul karena arek-arek Argomz tidak memiliki kegiatan yang jelas seperti halnya pramuka.

‘’Tahun 1970-1980-an, anak muda Kota Malang sedang gandrung membuat geng-geng. Mereka bergabung dalam geng-geng ini agar memiliki identitas. Tujuan adanya geng saat itu, bukan untuk berbuat kejahatan, tetapi sebagai suatu kesatuan agar bisa mempertahankan hidup, mencari makan. Itu saja, kok!’’ tutur Mochtar pada Malang Post.

Cukup lama ia bergabung dengan Argomz dan cukup lama pula kelompok ini eksis. Sampai akhirnya, pemerintah menurunkan petrus untuk menghabisi anggota-anggota geng, termasuk Argomz. Karena adanya petrus inilah, anggota-anggota geng banyak yang semburat. Banyak di antara mereka yang pergi ke luar kota untuk menghindari petrus.

‘’Adanya petrus itu menunjukkan jika pemerintah tidak bisa membina anak muda. Mereka sudah putus asa, karena itu mereka mengambil jalan pintas dengan menembak anggota geng satu persatu seperti itu,’’ ungkap ketua Ikatan Keluarga Besar Arema.

Dua dasawarsa berlalu, kini kehidupan Mochtar sudah berubah. Bapak empat anak ini bukan lagi anggota geng yang ditakuti seperti dulu. Ia bekerja sebagai pegawai HRD di sebuah perusahaan garmen untuk menghidupi keluarganya.

Pria yang pergi haji pada tahun 2002 ini, juga tetap menjaga tali silahturahmi dengan teman-temannya dulu dengan membuat Kumpulan Arisan Arek-arek Malang. Kegiatannya kali ini jauh lebih bermanfaat dibanding dulu, yakni kegiatan tahlil dan istigosah yang dilangsungkan sebulan sekali.

Pengalamannya tentang dunia geng dan remaja, ternyata tidak bisa dilupakan begitu saja. Bahkan ia memiliki keinginan untuk membukukan kisah-kisahnya dulu agar bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat.
‘’Saya memiliki keinginan membuat buku tentang bagaimana mengatasi kenakalan remaja atau yang disebut premanisme. Ceritanya tidak jauh dari faktor-faktor penyebab kenakalan remaja, bagaimana mengatasinya, sampai bagaimana agar pemerintah ini tidak lagi menganggap mereka sebagai gangguan. Ini penting mengingat saat ini permasalahan operasi preman kembali mencuat di tengah-tengah masyarakat,’’ cetusnya.

Pria yang aktif dalam pembinaan tinju di Kota Malang ini juga berharap, pemerintah – dalam hal ini polisi – tidak lagi semena-mena memperlakukan para preman. Termasuk menangkapi mereka.

Menangkapi preman dan memasukkannya ke dalam kurungan, bukan cara yang tepat untuk mengatasi persoalan ini. Seharusnya pemerintah memilih merangkul dinas sosial untuk melakukan pembinaan agar mereka nantinya menjadi orang yang lebih bermanfaat. Kalau perlu menyediakan lapangan pekerjaan.

‘’Lagipula pemerintah juga tidak menyebutkan secara jelas, kriteria seorang preman. Kalau asal main tangkap nantinya juga meresahkan masyarakat. Kalau ini terjadi, justru akan muncul gejolak masyarakat yang lebih besar dan berbahaya. Sebaiknya pemerintah lebih bijak lagi bagaimana memperlakukan mereka,’’ katanya.

Mochtar lantas mencontohkan, jika preman-preman itu sekadar ditangkap, kemudian ditahan, tapi tidak ada pembinaan, jelas tidak efektif. Karena setelah bebas nantinya, sang preman tidak juga memiliki keahlian. ‘’Ini yang perlu dipertimbangkan. Tindak lanjut pasca operasi ini apa,’’ kata Cak Tar, demikian dia biasa dipanggil. (Adinda Noer Zaeni) (dinda/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s