Kisah Lukisan Kaca Diantara Buku

Buku dan kaca. Memang tidak ada kaitannya kalau tidak segera dikait-kaitkan kisahnya. Adalah Tatik Simanjuntak yang punya hobi melukis. Tidak puas dengan hanya melukis di atas kanvas, tatik berinovasi melukis di atas berbagai jenis dan warna kaca.

Uniknya lagi, semua hasil karya dan kreasinya ia kerjakan diantara tumpukan buku-buku bekas yang juga ia jual di bedak Nomor 31 Jalan Sriwijaya Kota Malang. Bahkan, inspirasi melukis materi kaca pun ia dapatkan dari membaca buku bekas impor dari Singapura di bedaknya yang sempit dan panas itu !
Lebih hebat lagi, barang-barang yang diproduksi dengan cara sederhana dan dari tempat yang nylempit itu banyak di pajang di beberapa toko dan mall di Malang. Bahkan sampai melanglangbuana ke beberapa kota di Jawa Timur.

Hobi melukis mulai di tekuni Tatik Simanjuntak sekitar 11 tahun lalu. Saat itu, ibu rumah tangga berdarah Medan dari ayahnya ini sedang gandrung melukis diatas kanvas. Berbagai teknik dan motif melukis dipelajarinya secara otodidak. ”Keluarga memang sering memperkenalkan kesenian kepada kami,” ujar wanita kelahiran Malang ini.

Kegemarannya melukis ditasa kanvas sempat membawanya untuk mengadakan pameran di sejumlah daerah, baik di Jawa Timur hingga tingkat nasional di Jakarta.

Tetapi kegemaran melukis diatas kanvas mulai berubah sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu Tatik membaca buku tentang lukisan kaca dari majalah Singapura. ”Dari buku itu saya mulai mencoba-coba melukis diatas media kaca,” ujar Tatik membeber awal mula ketertarikannya untuk melukis diatas kaca atau painting glass.

Berbagai media kaca mulai dicobanya. Dari kaca datar, kaca lampu templek, hingga kaca botol. Yang terakhir tampaknya lebih memikat hati Tatik dibanding media kaca lainnya. ”Meluksi di botol lebih kuat di dimensinya,” ujar Tatik menguraikan ketertarikannya memilih media botol.

Disamping itu, media yang lebih sempit dan kecil di banding kain kanvas yang lebar turut memikat ketertarikan Tatik untuk mendalaminya. ”Pengerjaan yang cepat karena sempitnya ruang menuntut kreatifitas saya untuk terus berkembang,” imbuhnya.

Hingga kini lukisan botol yang dihasilkan di galeri mininya telah banyak mengisi etalase galeri kerajinan Malang serta beberapa Mall di Malang. ”Ada beberapa di Matos, galeri di Jalan. Kawi, dan di Dinoyo,” ujar Tatik menyebut sejumlah galeri yang telah sering mengambil barang hasil kerajinan tangannya.
Dengan bangga pula, Tatik menamai workshop sederhananya dengan nama Lituhayu. Berasal dari bahasa sansekerta yang berarti keindahan.

Dari melukis kaca dan botol itulah, penghidupan keluarga Tatik bertumpu sejak belasan tahun terakhir.
Dibantu dengan suaminya, Agus Mulyono, pasangan suami istri ini rutin memproduksi lukisan botol setiap hari. Tidak tanggung-tanggung, pemesannya juga ada yang dari Australia.(mg1/eno) (Redaksi/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s