Operasi Preman Dipertanyakan

Adanya operasi preman yang baru-baru ini dilancarkan, ternyata banyak mengundang pertanyaan masyarakat. Termasuk juga oleh mantan anggota geng yang pernah mengalami kejadian serupa dua dekade lalu. Selain mempertanyakan kriteria preman yang pantas ditangkap, mereka juga mempertanyakan tujuan digelarnya operasi tersebut.

Bagi Hamdani M Yusuf, yang pernah menjadi geng Arghomz, operasi preman yang terjadi saat ini, tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan di awal tahun 1980-an lalu. Semua sama-sama dilakukan tanpa ada dasar penangkapan yang jelas.

Pihak kepolisian yang melakukan penangkapan, tidak juga mau menunjukkan kriteria yang seperti apa yang membuat orang tersebut dianggap preman dan ditangkap.

Akibat tidak ada kriteria yang jelas seperti ini, banyak orang yang sebenarnya bukan preman ikut terjaring. Kondisi seperti ini pernah dirasakannya dulu.

Ketika operasi preman era 1980-an dilakukan, Hamdani menjadi salah satu korban salah tangkap. Saat itu karena ia bergabung dengan Arghomz, ia dianggap sebagai seorang preman. Padahal hal tersebut sangat tidak benar.

Bergabungnya pria kelahiran Pare-pare, 12 Desember 1942 di Arghomz ini bukan seperti yang disangka oleh pihak berwajib. Ia justru bergabung dengan Arghomz untuk mengajak mereka belajar berbisnis. Bahkan selama di Arghomz, ia berhasil mengajak anggota lainnya bareng-bareng membuka bisnis berjualan koran yang didrop langsung dari Jakarta.

‘’Pihak yang berwajib saat itu sembarangan menangkap orang. Semua yang bergabung dengan geng dianggap sebagai preman atau apalah itu namanya, termasuk saya dan teman-teman. Padahal jujur saja, kita punya kegiatan di sana. Saya sendiri mengajari teman-teman berbisnis, mulai dari jualan koran sampai minyak gas,’’ ungkap Hamdani.

Dari operasi tersebut, kakek 8 cucu ini sempat ditahan selama 29 hari dan diusir keluar Kota Malang dalam jangka waktu 3 tahun. Ia pun terpaksa pulang kampung ke daerah Sulawesi Selatan. Ia tidak bisa apa-apa karena saat itu kondisi negara memang tidak memungkinkan orang-orang bisa berbicara lantang.

Meski sempat tercerai-berai akibat operasi tersebut, tetapi perlahan-lahan Hamdani mampu mengumpulkan kembali teman-teman lamanya itu.

Bahkan ia juga membuat sebuah perkumpulan, Ikatan Keluarga Besar Arema, yang banyak diikuti oleh teman-temannya di Arghomz dulu untuk menjalin silahturahmi serta sebagai wadah menyalurkan bantuan.

Kini setelah bertahun-tahun peristiwa itu terkubur, pemerintah justru kembali mengadakan operasi preman yang dilakukan hampir di seluruh daerah.

Lagi-lagi operasi ini dianggap tidak memiliki dasar dan tujuan yang jelas. Polisi menangkap orang-orang di jalanan yang dianggap preman. Padahal seharusnya kewenangan polisi adalah menangkap orang-orang yang melakukan kejahatan.

Apa yang dilakukan pemerintah ini sebenarnya bisa dikatakan melanggar HAM, mengingat penangkapannya tidak didasari alasan yang jelas.

Seharusnya sebelum melakukan penangkapan orang-orang yang dianggap preman, pemerintah menyelami terlebih dahulu isi dari UUD 1945 Pasal 34 tentang kewajibannya untuk memelihara anak terlantar atau bisa disebut anak jalanan juga.

‘’Pemerintah seharusnya jangan terburu-terburu menangkapi orang-orang di jalanan. Seharusnya mereka berpikir terlebih dahulu kenapa kok sampai ada anak-anak di jalanan. Bukankah sudah kewajiban pemerintah untuk memelihara mereka? Persoalan yang seharusnya mereka atasi saat ini adalah korupsi. Kejahatan ini jauh membuat negara rugi karena bisa sampai menjual pulau di Indonesia,” sambungnya.
Ia sendiri juga mempertanyakan sikap anggota dewan yang merupakan wakil rakyat. Selama ini mereka cenderung diam melihat adanya penangkapan yang tidak berdasar itu.

Ia berharap ada suatu komunikasi dua arah antara masyarakat dengan anggota dewan untuk menyelesaikan persoalan ini. Kalau perlu digelar suatu dialog yang melibatkan anggota dewan dengan orang-orang yang dianggap preman itu. (noer adinda zaeni)
(dinda/malangpost)

Iklan

1 Komentar

Filed under Malang

One response to “Operasi Preman Dipertanyakan

  1. heru

    dasar orang malang , sok tau , sok terpulo soro, sok teraniyaya , dan sok mengaku paling tau , padahal yang memprotes itulah preman , ayo pak polisi brantas preman termasuk yang protes , soale memperlambat tugas. sikat habis preman di malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s