PREMAN ELIT

Dalam rubrik Selamat Pagi Malang harian ini Senin lalu, H Husnun N Djuraid membahas mengenai PREMAN, saya ingin ikut urun rembuk juga masalah premanisme yang seolah sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan kita. Sering kita lihat seseorang dijambret di tengah keramaian dan masyarakat di sekeliling hanya menonton tidak bereaksi melakukan pencegahan.

Sudah sering kita dengar masyarakat mengeluh ketidakamanan naik mikrolet karena jambret ataupun gendam. Tetapi kegiatan itu seolah jalan terus. Kasus kehilangan sepeda motor seolah tidak pernah selesai dan jumlahnya makin meningkat sehingga muncul keengganan masyarakat melapor kalau kehilangan. Mereka merasa dengan melapor ke polisi makin tambah repot urusannya tetapi sepeda motor tidak akan kembali.

Sebaliknya, jarang kita dengar masyarakat mengeluh jalan rusak berlubang karena oknum petugas jembatan timbang sering menerima “salam tempel” atau dana anggaran pemeliharaan jalan sangat kurang walaupun pertumbuhan jumlah kendaraan sangat pesat. Tindakan preman elit yang terjadi di hotel ber bintang, di gedung dewan seakan tidak menyentuh sama sekali kepentingan rakyat banyak.

Atau, rakyat memang tidak berdaya sehingga hanya bisa jengkel ngomel tanpa ada daya. Sering terungkapnya kasus preman elit atau kejahatan kerah putih (white collar crime) menjadikan pertanyaan “Apakah kesuksesan aparat mengungkap kasus kejahatannya meningkat atau memang jumlah pelaku kejahatannya yang meningkat”.

Modus operandi preman elit adalah melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi budaya, merusak mental, moral, tata nilai dan pola pikir bangsa Indonesia. Seolah-olah kita sudah tidak merasakan kejanggalan ketika melihat, mendengar dan melakukan KKN. Kita tidak merasa bersalah atau berdosa ketika memberikan imbalan kepada petugas atas pelanggaran yang kita lakukan. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Apakah tidak ada yang salah di masyarakat mengenai pemahaman premanisme elit ini.

Saya beberapa kali mendengar seorang guru mengajarkan prinsip ekonomi adalah “DENGAN MODAL SEKECIL KECILNYA HARUS MENDAPATKAN HASIL SEBESAR BESARNYA”. Kelak kemudian hari, jika ada salah satu siswanya menjadi tukang palak, dia tidak merasa bersalah karena sesuai dengan ajaran gurunya, cukup dengan “BONdo NEKat” hasil lumayan gede. Apalagi jika seorang dosen mengatakan bahwa “KOLUSI ITU SUDAH BIASA” kelak kemudian hari ketika salah satu mahasiswanya menjadi pejabat Bank Indonesia melakukan korupsi, kolusi dengan mengalirkan dana Rp 100 miliar ke anggota legislatif, dianggap hal yang biasa karena sesuai dengan ajaran dosennya.

Seorang guru, dosen selain orang tua adalah orang orang yang paling bertanggung jawab dalam pembentukan moral etika bangsa. Namun justru mereka sering kehilangan kepekaan KKN yang sudah menjadi gaya hidup bangsa ini. Menurut istilah Kwik Kian Gie, mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan : “Corrupted Mind”. Pengertian KKN tidak hanya pengertian primitif mencuri duit negara tetapi juga kebijakan, tindakan yang dapat merugikan kepentingan masyarakat.

Pejabat yang menerima hadiah dari pemasok karena berhasil meloloskan pemasok sebagai salah satu rekanan suatu instansi adalah jelas merupakan tindakan KKN. Demikian juga jika seorang guru yang meloloskan siswa untuk menjadi siswa sekolahnya walaupun sebenarnya tidak lulus dalam sistem penerimaan siswa baru, kemudian sang guru mendapat hadiah dari orang tua siswa, inilah yang dimaksud dengan corrupted mind atau pikiran yang korup. Begitu juga oknum-oknum perguruan tinggi yang berkolusi menerbitkan ijazah bagi mahasiswa yang belum waktunya lulus. Jika kita “membelikan” SIM (Surat Ijin Mengemudi) untuk anak kita yang memang belum berumur 17 tahun sebagai persyaratan pemegang SIM, ini juga corrupted mind. Mertua akan sangat bangga jika punya menantu seorang pejabat di posisi “basah”. Hal hal tersebut sekarang ini seperti sudah menjadi gaya hidup masyarakat, menjadi hal biasa.

Pemasok yang memberi imbalan kepada pejabat, orang tua yang memberikan hadiah kepada guru yang meluluskan anaknya yang tidak lolos seleksi, orang tua yang “membelikan” SIM anaknya, ataupun mertua yang bangga terhadap menantunya tadi memang tidak melakukan tindakan korupsi tetapi mereka sudah terkena virus corrupted mind. Virius ini mendorong dirinya sendiri atau mendorong orang lain untuk melakukan tindakan korupsi.

Percaya atau tidak, jika dilakukan jajag pendapat di antara siswa, kalau mereka disuruh memilih, sebagian besar dari mereka akan memilih menjawab lebih bangga Bapaknya menjadi koruptor trilliunan rupiah dari pada menjadi pencuri ayam. Ini artinya moral anak anak kita pun sudah terjangkit corrupted mind . Atau dengan kata lain pikiran preman sebenarnya sudah mendarah daging di masyarakat kita, bukan hanya di tingkatan kelompok masyarakat yang memang jadi preman karena memenuhi kebutuhan perut tetapi juga sudah sangat mewabah di masyarakat elit termasuk para pendidik .

Tindakan apapun kalau sudah diniati buruk (pikiran preman) sangat sulit menangkalnya, walaupun sudah diantisipasi dengan sederet peraturan dan perundangan yang sangat lengkap dan susunan kalimat yang sangat cermat. Kreativitas manusia yang tidak ada batasnya yang menjadikan mereka yang beritikad buruk selalu mampu menyatakan dirinya tidak melakukan kejahatan.

Karena itu harus ada gerakan bersama, bukan hanya dari struktural pemerintah tetapi juga dari masyarakat sendiri untuk melakukan pencerahan soal KKN dan bagaimana pencegahannya. Karena tindakan KKN sama berbahayanya dengan penggunaan narkoba. Di sinilah dibutuhkan program pendidikan yang terorganisir untuk masyarakat agar dapat memberikan pencerahan apa yang dimaksud KKN sampai dengan bentuk turunannya (derivatif). Saya menganalogkan jika gerakan ini dilakukan seperti gerakan perang melawan NARKOBA yang gencar dilakukan pemerintah maupun masyarakat, maka gebrakan aparat menghabisi premanisme; KPK menangkapi preman preman elit, akan gayung bersambut luar biasa untuk memberantas total premanisme, Semoga hal ini tidak hanya menjadi utopia.(*) (Redaksi/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s