Warga dan Tim Khusus Siaga Kemungkinan Longsor Susulan Pujiharjo

Lahan hutan Tirtoyudo yang beralih fungsi menjadi lahan tebu, menjadi penyebab utama rawan longsor di wilayah itu.

Lahan hutan Tirtoyudo yang beralih fungsi menjadi lahan tebu, menjadi penyebab utama rawan longsor di wilayah itu.

Terancam terisolasi karena longsor, warga Desa Pujiharjo Kecamatan Tirtoyudo langsung siaga. Selain menyiagakan 50 personel tanggap darurat bencana, warga juga aktif bekerja bakti membangun bronjong dua minggu sekali. Hal itu guna meminimalisir dampak longsor yang diperkirakan bisa melumpuhkan perekonomian warga desa tersebut.

Kepala Desa Pujiharjo Sulistyo Adi mengatakan, jalan raya yang sempat longsor beberapa waktu lalu adalah satu-satunya jalur transportasi penghubung ke daerah lain. Praktis, perekonomian Desa Pujiharjo bakal lumpuh jika jalur distribusi pertanian dan hasil laut nelayan Pantai Sipelot tertutup.

“Jika sebelumnya kerja bakti hanya dilakukan tiap hari Jumat. Sekarang hari Rabu, kami juga bekerja bakti membangung bronjong. Ini darurat,” tegas Sulistyo dihubungi Malang Post kemarin.

Selain kerja bakti, kata Sulistyo, pihaknya juga menyiagakan tim khusus tanggap darurat bencana. Tim khusus tersebut memiliki 26 anggota sebagai satuan pengaman desa. Mereka bisa dibilang profesional karena pernah dilatih oleh Satgana dan Tim Sar. “Tim khusus itu diback up oleh kelompok pemuda yang bisa dikoordinasi sewaktu-waktu, jumlahnya 25 orang,” imbuh Kades ramah itu.

Sulistyo Adi menambahkan, selain waspada terhadap putusnya jalur, pemerintah desa juga memantau titik temu (tempuran) Sungai Purwo dan Tundo. Sebab, lahan di atas tempuran dua sungai tersebut, dihuni oleh warga RT 29 yang berjumlah 60 KK. Apalagi, di lahan itu juga terdapat fasilitas umum, seperti gedung SMP dan bangunan masjid.

“Jumlah keluarga di desa ini sekitar 1.731 KK. Kalau longsor terjadi di jalan raya, otomatis desa ini tertutup total. Binamarga sudah memberikan bantuan Rp 5 juta, warga juga swadaya, sementara terkumpul Rp 7 juta,” pungkasnya.

Terpisah, Sekcam Tirtoyudo Firmando H. Matondang menyatakan, saat ini Tirtoyudo dalam kondisi siaga. Curah hujan yang tinggi didukung oleh rusaknya lingkungan hutan setempat membuat bencana bisa datang sewaktu-waktu. Untuk itu, pihaknya juga menyiagakan dua orang yang mobile setiap hujan menguyur wilayahnya. “Hutan sini memang telah berubah fungsi sebagai lahan pertanian,” ungkapnya.(ary/lim)
(Ary Wicaksono/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s