Bupati Minta Jangan Merokok di Sembarang Tempat

Bupati Malang Sujud Pribadi mendukung penuh realisasi pembangunan ruangan khusus merokok di Kabupaten Malang. Meski hal tersebut belum tentu maksimal, penyediaan ruangan khusus itu diharapkan bisa meminimalisasi aktivitas para perokok -termasuk pegawai pemkab- yang punya kebiasaan merokok di tempat umum atau di ruang kerja.

Menurut bupati yang tidak merokok ini, memang tidak ada larangan untuk merokok. Apalagi, uang yang digunakan untuk membeli rokok adalah uang milik perokok sendiri. Sujud juga memahami tidak mudah meminta perokok berhenti. Yang bisa dilakukan pemkab sekarang adalah menyediakan ruangan khusus bagi perokok sehingga mereka tidak kebal-kebul di sembarang tempat.

Bagaimana soal ruangan yang dianggap mewah untuk “memanjakan” perokok? Sujud menilai masih wajar. Sebab, ruangannya juga dilengkapi alat penyerap asap. Ruangan tersebut juga dilengkapi beberapa fasilitas agar perokok betah. “Menurut saya wajar dibangun seperti itu karena asap harus terserap agar tidak mengganggu orang lain,” ucapnya.

Jika ruangan khusus merokok dibangun apa adanya, Sujud khawatir para perokok tidak betah. Ujung-ujungnya, mereka bisa kembali merokok di sembarang tempat. Kalau itu yang terjadi, gerakan mempersempit aktivitas merokok malah tidak berhasil.

Seperti diberitakan, tiga ruangan khusus perokok sedang dibangun di tiga tempat di kabupaten. Yakni di pendapa, kantor DPRD, dan RSUD Kanjuruhan. Pembangunan itu sebagai salah satu kompensasi pendapatan cukai rokok yang diterima pemkab sebesar Rp 5,2 miliar untuk 2008 ini. Masing-masing ruangan dianggarkan Rp 95 juta. Berarti, uang yang dikeluarkan untuk melayani para perokok mencapai Rp 285 juta.

Sama dengan Sujud, Wakil Bupati Rendra Kresna menilai pembangunan tempat khusus yang cukup “wah” untuk perokok masih wajar. Dia berharap para perokok bisa memanfaatkan tempat tersebut. Karena sudah ada ruangan khusus, pegawai pemkab pun diminta tidak lagi merokok di dalam ruang kerja sehingga mengganggu pegawai lainnya yang tidak merokok. “Perokok pasif itu justru yang berisiko lebih tinggi,” ujar Rendra, yang sudah lama menghentikan kebiasaan merokok.

Berdasarkan pengalamannya, Rendra mengatakan, menghentikan kebiasaan merokok sangat susah. Butuh perjuangan yang sangat besar untuk bisa keluar dari barang candu itu. Makanya, tempat khusus untuk perokok diharapkan bisa mengurangi dampak negatif rokok. Kepada para perokok, wabup juga meminta agar menghargai hak orang lain dengan tidak merokok di tempat umum.

Soal kemungkinan sanksi bagi perokok di tempat umum, Rendra mengutarakan, di Kabupaten Malang belum ada perda soal itu. Saat ini baru Jakarta yang sudah punya perda larangan merokok di tempat umum.

Dari gedung dewan, pembangunan ruangan khusus merokok di lantai tiga mulai memunculkan suara tidak setuju. Wakil Ketua DPRD M. Sanusi menganggap kurang pas jika ruangan merokok berada di lantai tiga karena sangat jarang dimasuki pegawai. “Menurut saya, yang baik di ruang tunggu atau di luar ruang sidang,” ujar politikus PKB ini.

Sanui sendiri baru kemrin mengatahui bahwa ruangan kaca yang sedang dibangun tersebut untuk perokok. Dia mengira ruangan itu untuk tempat siaran. “Ternyata untuk merokok,” ucap politikus yang sudah berhenti merokok ini.

Menurut Sanusi, saat sidang, anggota dewan sepakat tidak merokok. Sebab, merokok di ruang sidang kurang etis. Dari pantauan Radar, pembangunan ruangan merokok seluas 3 x 6 meter di gedung dewan terus dikebut. (lid/yn/radarmalang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s