Kegigihan di Balik Pengembangan Produk Olahan Apel

Beragam latar belakang pengusaha produk olahan apel di Batu. Salah satunya Mohammad Jayadi. Awalnya membuka bengkel, dia banting setir menjadi pengusaha keripik apel. Dua tahun beroperasi, ia meraih penghargaan makanan sehat tingkat nasional dari Kementerian Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah.

Puluhan bungkus keripik buah terjajar rapi di etalase ruang tamu rumah Jayadi di Jl Pattimura VIII RT 04 RW 007 Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. Banyak jenis buah keripik yang dipajang. Mulai apel, nanas, hingga salak.

Di antara deretan 12 jenis keripik buah itu, paling menonjol keripik apel. Ada beragam pilihan jenis olahan dan jenis ukuran untuk buah khas Batu itu. Mulai keripik apel tanpa kulit sampai keripik apel kulit. Ukurannya pun beragam, dari 200 gram hingga 1 kilogram.

Ruang tamu rumah Jayadi juga disulap menjadi salah satu showroom produk buah olahannya. Maklum, rumah tinggal yang juga dijadikan tempat produksi itu kerap dikunjungi wisatawan. “Sering jadi kunjungan tamu dinas pemkot,” kata Jayadi di rumahnya kemarin.

Selain memproduksi olahan apel, Jayadi tak pelit berbagi ilmu. Tidak jarang dia memberikan pelatihan kepada sejumlah lembaga tentang tata cara pembuatan keripik buah. Meski banyak yang mengikuti pelatihan membuat keripik buah, dia tidak takut ilmu yang dibagikan akan memunculkan pengusaha bidang serupa sehingga mengurangi pendapatannya.

Bagi Jayadi, semakin banyak orang yang membuka usaha tersebut, semakin banyak lapangan pekerjaan yang terbuka. Selain itu, Jayadi memiliki prinsip bahwa setiap orang lahir dengan bagian rezeki masing-masing. “Ada yang banyak keluar keringat tapi rezekinya sedikit. Ada juga sebaliknya. Itu harus dipahami,” tutur bapak lima anak ini.

Pria berusia 45 tahun itu memang belum lama menjalankan usaha pembuatan keripik buah. Usaha di bawah bendera UD Dwi Jaya itu baru digeluti tiga tahun lalu. Tepatnya awal 2005. Sebelumnya, dia membuka bengkel.

Banting setir dilakukan setelah usaha bengkel yang digeluti selama puluhan tahun itu tak kunjung memberikan penghasilan besar. Selain itu, Jayadi tergugah untuk menyongsong bidang usaha lain karena pengaruh para konsumen yang memesan peralatan mesin hortikultura di bengkelnya. “Mereka (konsumen) bisa eksis dan terus berkembang. Padahal, saya yang membuatkan alatnya belum banyak berkembang,” kenangnya.

Dari pergulatan pemikiran itulah, akhirnya dia membulatkan tekad membuat produk olahan buah-buahan. Penghasilan dari usaha perbengkelannya diinvestasikan untuk membuat peralatan keripik buah. “Saya bikin sendiri peralatannya. Sebagian bahannya beli dari pasar loak,” beber dia.

Jayadi yang hanya lulusan sekolah dasar itu memang tidak memiliki pengalaman dalam memproduksi maupun memasarkan keripik buah. Namun, dia memiliki keinginan kuat. Semangatnya juga tinggi. Meski tidak memiliki pengetahuan tentang produksi pengolahan apel maupun pemasarannya, Jayadi ingin membuktikan dirinya bisa menjadi pengusaha produk olahan buah.

Karena spirit itulah, dalam menjalani usaha, dia juga harus banyak berkorban. Awalnya, Jayadi kerap mengalami kegagalan. Bahkan, ia harus kembali membongkar permesinan yang menelan uang Rp 50 juta tersebut. “Trial and error saya lakukan hampir 2,5 bulan. puluhan juta juga amblas. Tapi tidak apa-apa karena proses itu ada akhirnya,” ungkapnya.

Produk olahan yang dia bikin awalnya bukan apel. Mulanya Jayadi mengolah nanas menjadi keripik. Setelah sukses membuat keripik nanas, dia pun mencoba membuat keripik apel. Kemudian membuat beragam keripik buah lainnya.

Namanya usaha, tidak selamanya berjalan mulus. Begitu juga perjalanan Jayadi dalam meniti usaha produk olahan buah-buahan. Selain banyak mengeluarkan uang untuk percobaan dan bongkar ulang permesinan, Jayadi juga pernah mengalami kerugian besar.

Tepatnya saat dia kebingungan melempar produk yang dihasilkan itu ke pasaran. Karena kurang lihai memasarkan produk ke pasaran, dia menawarkan kepada sejumlah tenaga sales untuk menjajakan produk. Sampai akhirnya, dia didatangi tiga orang sales yang bersedia melempar barang dagagannya.

Mulanya berjalan lancar. Beberapa kali melakukan pengambilan barang, dibayar lunas. Namun, setelah melakukan mengambil barang dalam jumlah besar, tidak ada kabar beritanya dan tidak ada uang. “Saya merugi sekitar Rp 45 juta,” katanya.

Meski mengalami kerugian uang cukup besar, dia tidak mau menyerah. Jayadi memulai kembali menjalankan usahanya. Untuk pemasarannya, dia akhirnya kerap mengikuti kegiatan pameran yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Pergagangan maupun Kantor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Pemkot Batu. “Saya ikut terus. Saya bertemu distributor dan pembeli. Relasi saya terbangun dari situ,” ucapnya.

Karena relasi sudah terbangun, dia pun tidak kesluitan lagi memasarkan produknya. Malah, sering dia kewalahan melayani permintaan pembeli. Maklum, saat ini relasinya menyebar di sejumlah wilayah di Indonesia. Mulai Surabaya, Bali, Bangka Belitung, Riau, dan Jakarta. Sementara kapasitas produksi keripik yang dihasilkan masih 50 kg per hari dengan jumlah 12 pegawai. Dia melibatkan warga sekitar rumahnya untuk menjalankan usahanya. Mulai dari mengupas buah, operasional permesinan hingga pengepakan.

Sukses yang diraih Jayadi itu juga berbuah penghargaan. Pada 22 Oktober 2007, usaha pengolahan keripik yang dia tekeuni mendapatkan penghargaan produk sehat dari Kementerian Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah.

Meski demikian, Jayadi belum puas. Dia masih memiliki banyak angan-angan yang ingin dicapai. Di antaranya memiliki beberapa toko. Bukan hanya di Malang Raya, tetapi juga di beberapa wilayah. “Namun, saya juga mengukur kemampuan saya biar tidak stres,” katanya.

Ahmad Yahya
(yn/radarmalang)

1 Komentar

Filed under Batu, Berita

One response to “Kegigihan di Balik Pengembangan Produk Olahan Apel

  1. krisnha ap

    selamat siang…saya sangat tertarik untuk menjadi distributor skala kecil untuk produk kripik buah dari bpk. jayadi, mohon bisa dibantu untuk bisa berhubungan langsung dengan bpk. jayadi…terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s