Lestarikan Budaya Lokal, Kupas Filosofi Lesung

Warga menabuh lesung, usai sarasehan budaya di Pusat Promosi Kerajinan Kendedes, Singosari

Warga menabuh lesung, usai sarasehan budaya di Pusat Promosi Kerajinan Kendedes, Singosari


Budaya lokal lesung dan ludruk menjadi tema diskusi dalam sarasehan budaya di Pusat Promosi Kerajinan Kendedes, Singosari kemarin. Tampak, budayawan Jati Kusumo, memberikan materi dan wawasan tentang dua budaya lokal itu. Dengan gaya bahasannya yang santun, Jati yang cukup membahami dua budaya ini berusaha memberikan wawasan baru kepada para pesera sarasehan.

Dikatakan oleh Jati, perkembangan zaman memang secara langsung menggeser budaya-budaya lokal. Berbagai peralatan digital, sangat mempengaruhi kepunahan budaya lokal. Padahal jika dipelajari secara seksama, Jati pun menjelaskan, jika dua budaya lokal tersebut, menyimpan filosofi yang sangat tinggi. Terutama budaya lesung, yang menjadi sarana nenek moyang untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.

“Dulu jika ada orang menabuh lesung, semua warga langsung berbondong-bondong menuju sumber suara tersebut. Dan mereka dengan sendirinya akan bergantian untuk menabuh lesung. Sementara warga yang tidak memukul lesung, langsung bergabung dengan rekan-rekannya yang lain untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat,’’ kata Jati sambil menjelaskan arti dan filosofi lesung tersebut kepada para peserta sarasehan.

Jati yang selama ini dikenal sangat getol mengangkat kembali budaya-budaya lokal ini mengaku jika budaya lokal nusantara lebih indah dari budaya-budaya yang saat ini cenderung mengadopsi dari budaya-budaya barat. “Budaya lokal, menyimpan banyak pesan, yang sudah tentu mudah dicerna dan dipahami. Dan pesan-pesan yang disampaikan itu juga, membuat para warga saling mengerti, memahami, dan taat kepada norma-norma, baik norma adat ataupun norma agama,’’ jelas Jati.

Sarasehan menjadi ramai saat peserta merespon dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Mereka yang umumnya sudah tidak lagi mengenal budaya lesung ini menanyakan manfaat lesung itu sendiri, selain sebagai sarana kuat untuk alat pemersatu bangsa. “Lesung bukan sekedar menghasilkan bunyi-bunyian, tapi lebih dari itu lesung juga sebagai alat gotong royong warga untuk menumbuk padi,’’ ceritanya.

Selain dihadiri oleh Jati Kusumo, sarasehan budaya ini kemarin juga dihadiri Dirjen Kesbangpol, Pusat Amir Husni, dan perwakilan kecamatan Singosari, yang diwakili oleh Kasi Kependudukan, Kasianto.
Yang menarik, karena topik sarasehan adalah menyemarakkan kembali budaya lokal, hidangan yang disuguhkan saat acara berlangsung adalah jamu tradisional, dan nasi bungkus, yang identik dengan zaman dulu.

“Kami sengaja mempertemukan pelaku budaya, sebagai upaya atau bentuk solidaritas kami untuk meningkatkan kembali eksistensi budaya-budaya lokal. Kami tahu sangat sulit, namun kami juga terus berupaya agar budaya-budaya kami ini tidak ikut terkikis oleh perkembangan zaman,’’ ujar ketua panitia Drs Hazbullah Huda, kepada Malang Post kemarin.(ira/han) (ira ravika/malangpost)

Iklan

1 Komentar

Filed under Kabupaten Malang

One response to “Lestarikan Budaya Lokal, Kupas Filosofi Lesung

  1. wahidin

    Info yang menarik, terus semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s